Pengertian Sintaksis, Frase dan Klausa

Tulisan ini hanya materi tugas, pembaca harus melihat buku sebagai referensi untuk memehui syarat karya ilmiah, jadikan informasi Pengertian Sintaksis, Frase dan Klausa sebagai pembelajaran online di Internet.

1. Pengertian Sintaksis, Kata sintaksis berasaldari kata Yunani (sun = ‘dengan’ + tattein ‘menempatkan’. Jadi kata sintaksis secara etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antarkata dalam tuturan. Sama halnya dengan morfologi, akan tetapi morfologi menyangkut struktur gramatikal di dalam kata.Unsur bahasa yang termasuk di dalam sintaksis adalah frase, kalusa,dan kalimat. Tuturan dalam hal ini menyangkut apa yang dituturkan orang dalam bentuk kalimat.

Ramlan (1981:1) mengatakan: “Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase “.
2. Kata sebagai Satuan Sintaksis, Dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil, yang secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar yaitu frase. Maka di sini, kata, hanya dibicarakan sebgai satuan terkecil dalam sintaksis, yaitu dalam hubungannya dengan unsur-unsur pembentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat Dalam pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, pertama-tama harus kita bedakan dulu adanya dua macam kata, yaitu yang disebut kata penuh (fullword) dan kata tugas (funcionword). Yang merupakan kata penuh adalah kata-kata yang termasuk kategori nomina, ajektifa, adverbia, dan numeralia. Sedangkan yang termasuk kata tugas adalah kata-kata yang yang berkategori preposisi dan konjungsi.

3. Frase

a. Pengertian Frase

Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi satah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.

Frase tidak memiliki makna baru, melainkan makna sintaktik atau makna gramatikal bedanya dengan kata majemuk yaitu kata majemuk sebagai komposisi yang memiliki makna baru atau memiliki satu makna.

b. Jenis Frase

1) Frase Eksostentrik

Frase eksosentrik adalah frase yang komponen komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhan­nya. Misalnya, frase di pasar, yang terdiri dari komponen di dan komponen pasar. Frase eksosentirk biasanya dibedakan atas frase eksosentrik yang direktif dan frase eksosentrik yang nondirektif.

2) Frase Endosentrik

Frase endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksias yang sama dengan keseluruhannya. Misalnya, sedang komponen keduanya yaitu membaca dapat menggan­tikan kedudukan frase tersebut.

3) Frase Koordinatif

Frase koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh kunjungsi koordinatif.

4) Frase Apositif

Frase apositif adalah frase koordinatif yang kedua k komponenanya saling merujuk sesamanya, dan oleh karena itu urutan komponennya dapat dipertukarkan.

4. Klausa

a. Pengertian Klausa

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada kom­ponen, berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan. Badudu (1976 : 10) mengatakan bahwa klausa adalah “sebuah kalimat yang merupakan bagian daripada kalimat yang lebih besar.”

Sebuah konstruksi disebut kalimat kalau kepada konstruksi itu diberikan intonasi final atau intonasi kalimat. Jadi, konstruksi nenek mandi baru dapat disebut kalimat kalau kepadanya diberi intonasi final kalau belum maka masih berstatus klausa.Tempat klausa adalah di dalam kalimat.

b. Jenis Klausa.

Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas dalah klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap, sekurang-kurangnya mempunyai subyek dan predikat, dan karena itu mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor. Klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap.

Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya dapat dibedakan adanya klausa verbal, klausa nominal, klausa ajektival, klausa adverbial dan klausa preposisional. Dengan adanya berbagai tipe verba, maka dikenal adanya klausa transitif, klausa intransitif, klausa refleksif dan klausa resprokal.

Klausa ajektival adalah klausa yang predikatnya berkategori ajektiva, baik berupa kata maupun frase. Klausa adverbial adalah klausa yang predikatnya berupa adverbial. Klausa preposisional adalah klausa yang predikatnya berupa frase berkategori.

Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berupa kata atau frase numerila. Klausa berupasat adalah klausa yang subjeknya terikat didalam predikatnya, meskipun di tempat lain ada nomina atau frase nomina yang juga berlaku sebagai subjek.

Toko Jaket Kulit Bandung

Indikator Masyarakat Islam

Indikator Masyarakat Islam

Satiap masyarakat memiliki indikator yang membedakannya dari masyarakat lain. Masyarakat Islam memiliki karakter yang langka yang tidak ditemukan dimasyarakat lainnya. Yang dimaksud masyarakat Islam, adalah masyarakat yang dikehendaki Allah agar tidak terjadi pada manusia. Yaitu masyarakat yang membawa nilai-nilai luhur yang telah hilang diberbagai penjuru bumi pada saat ini. Hal tersebut tidak dimaksudkan sebagai masyarakat saat ini yang mengalami penyimpangan dari aturan Allah. Jika ditemukan beberapa karakteristik yang baik pada masyarakat saat ini, hanya saja masih sedikit, bila dikaitkan dengan hal yang semestinya terjadi pada masyarakat.
Perbedaan yang paling menonjol antara masyarakat Islam dengan masyarakat lain, bahwasanya konsepsi dan aturan Islam digali dari Allah melalui wahyu yang diturunkan melalui Rosulullah saw dan telah dijamin pemeliharaannya oleh Allah sampai hari kiamat. Jika persoalan ini telah jelas bagi kita, maka jelas juga perbedaanya. Yang menonjol antara masyarakat Islam dengan masyarakat lain yang konsepsinya tentang alam dan kehidupan serta aturan-aturan yang mengatur kehidupan yang bersumber dari akal manusia yang lemah.
Hal yang harus diupayakan umat Islam saat ini melalui para ulama, pendakwah, pakar, cendikiawan adalah merubah kondisi masyarakat yang tercabik-cabik yang dirusak oleh tradisi yang berlawanan dengan agama, syahwat yang berlebihan, akhlak yang buruk menuju pada kedudukan yang luhur yang dilandasi kebaikan dan kemaslahatan. Sehingga memiliki kesanggupan untuk memimpin masyarakat ini. Hal tersebut bisa terjadi dengan cara penanaman prinsip-prinsip dan karakteristik masyarakat Islam melalui tutur kata yang berkesan, tauladan yang baik dan perbuatan yang baik.
Diantara karakteristik masyarakat Islam yang terpenting adalah masyarakat yang patuh terhadap ajaran. Yang dimaksud dengan indikator ini, bahwasanya masyarakat ini memilki referensi yang mulia yaitu Al-Quran dan Sunah. Sehingga dari padanya muncul masyarakat dengan berbagai tindakannya. Yaitu indikator masyarakat yang akan mengatur persoalan-persoalan anggotanya dan mengontrol tindakan-tindakanya. Inilah konsekuensi dari status kekhalifahan dimuka bumi. Patuh dan melaksanakan apa yang diperintahkan ajaran ini merupakan aspek nyata dari aqidah. Aspek ini sebagai indikator kuatnya berpegang teguh terhadap aqidah karena amal itu merupakan bagian dari yang terkait dengan aqidah. Sehingga amal itu amal itu akan meningkat seiring dengan meningkatnya aqidah, dan akan menurun ketika aqidahnya menurun. Inilah yang harus kita tegaskan bahwa masyarakat Islam yang berlandaskan aqidah yang akan meningkatkan hati anggota-anggotanya.

Urgensi Menguasai Bahasa Arab

Belajar bahasa Arab memang sebuah keharusan yang layak dikuasai oleh umat Islam. Sebab sejak awal mula diturunkan ajaran Islam sampai hari ini, bahasa yang digunakan adalah bahasa arab. Al-Quran sebagai kitab suci abadi yang menghapus semua kitab suci yang pernah ada, diturunkan dalam bahasa Arab.

Rasulullah SAW sebagai nabi akhir zaman yang risalahnya berlaku untuk seluruh manusia di muka bumi sampai akhir zaman, juga berbahasa arab, tanpa pernah diriwayatkan mampu berbahasa selain arab. Hadits-hadits nabawi diriwayatkan secara berantai hingga sampai kepada kita melewati masa berabad-abad, juga tertulis dalam bahasa Arab. Bahkan semua kitab yang menjelaskan materi Al-Quran, As-Sunnah serta syariah Islamiyah hasil karya para ulama muslim sedunia sepanjang masa, juga kita warisi dalam bahasa Arab.
Ketika dakwah Islam memasuki pusat-pusat peradaban dunia dan membangun kejayaannya nangemilang, bahasa yang digunakan juga bahasa Arab. Kala itu bahasa Arab selain resmi menjadi bahasa pemerintahan, juga menjadi bahasa dunia pendidikan, bahasa ilmu pengetahuan serta bahasa rakyat sehari-hari. Padahal negeri-negeri yang dimasuki Islam itu tadinya bukan negeri Arab.

Bahkan ketika Islam masuk ke Mesir dan para penguasa dan rakyatnya masuk Islam, mereka tidak hanya sekedar memeluk Islam sebagai agama, tetapi mereka belajar bahasa Arab, berbicara dengan bahasa Arab dan melupakan bahasa asli peninggalan nenek moyang mereka. Hanya dalam tempo beberapa tahun saja, tidak satu pun bangsa Mesir yang paham bahasa asli mereka. Semua berbicara dengan bahasa Arab, bahkan hingga hari ini. Padahal Mesir itu bukan negeri Arab dan tidak terletak di jazirah Arab. Mesir terletak di benua Afrika, namun rakyat Mesir keseluruhannya berbicara dalam satu bahasa, yaitu bahasa Arab.

Bila kita amati secara seksama, memang ada kecenderungan bahwa di mana ada masuknya dakwah Islam ke suatu negeri hingga mampu mambangun peradaban besar, pastilah negeri itu berubah bahasanya menjadi bahasa Arab. Bahkan bahasa resmi negara sekaligus bahasa rakyat jelata.

Sebaliknya, negeri-negeri yang kurang sempurna proses Islamisasinya, bisa dengan mudah dikenali dari tidak adanya rakyat yang menggunakan bahasa Arab. Paling jauh hanya sekedar serapan-serapan bahasa saja, seperti bangsa kita ini. Bahasa Indonesia (termasuk Melayu) menyerap sangat banyak bahasa Arab ke dalam perbendaharaannya. Begitu banyak kata yang sumbernya dari bahasa Arab, bahkan bisa dikatakan bahwa unsur serapan dari bahasa arab termasuk paling dominan dalam bahasa Indonesia. Namun sayangnya, bangsa ini tidak sempat mampu berbahasa Arab dalam kesehariannya. Apalagi ditambah dengan penjajahan selama ratusan tahun, dimana para penjajah itu memang paham betul bahwa salah satu kekuatan agama Islam adalah pada bahasa Arabnya.

Bila suatu umat muslimin di muka bumi ini tidak bisa bahasa Arab, artinya mereka pasti tidak paham tiap ayat Al-Quran, tidak paham hadits nabi, tidak mengerti apa yang mereka baca dalam zikir, shalat dan doa. Tidak mengerti syariah Islam dan ajaran-ajarannya secara mendetail. Kecuali bila diterjemahkan terlebih dahulu dan dijelaskan satu persatu oleh kiayinya. Dan metode penerjemahan begini tentu saja sangat terbatas keberhasilannya, terlalu lemah dan justru sangat menghambat.

Karena itu, keinginan anda untuk belajar bahasa Arab dan menguasainya adalah sebuah keinginan yang teramat mulia, sehingga perlu didukung penuh. Jangan sampai keinginan itu berhenti hanya karena alasan teknis semata.

Reformasi Indonesia

A. PENGERTIAN REFORMASI

Reformasi secara umum bararti perubahan terhadap suatu system yang telah ada pada suatu masa. Di Indonesia, kata Reformasi umumnya merujuk pada gerakan mahasiswa pada tahun1998 yang menjatuhkan kekuasaan presiden Soeharta atau era setelah Orde baru. Kendati demikan, Kata Reformasi sendiri pertama-tama muncul dari gerakan pembaruan di kalangan Gereja Kristen di Eropa Barat pada abad ke-16,yang dipimpin oleh Marti luther, Ulrich Zwingli, Yohanes Calvin, dll.

B.TUJUAN REFORMASI

Tujuan reformasi tiada lain adalah untuk kesejahteraan rakyat. Namun selama 11 tahun pelaksnaan reformasi, kesejahteraan rakyat nyaris tidak berubah. Keberhasilan reformasi lembaga politik dan kebebasan berekspresi tidak disertai reformasi ekonomi sehingga belum mampu mengurangi kesenjangan sosial warisan Orde Baru.

Perubahan positif yang terjadi masih bersifrat prosedular, belum membawa perubahan secara substansial yang akhirnya serba paradosial. Demokrasi dan desentralisasi berjalan maju, perubahan UUD 1945 menuju living constitution yang dulu tabu kini dapat dilakukan. Tetapi, rakyat tetap tidak sejahtera. Reformasi yang terjadi juga tidak menguatkan nilai-nilai keutamaan dalam masyarakat. Kejujuran, kerja keras, semangat gotong royong, dan kebanggaan berbangsa justru semakin melemah.

Menurut Budiman, Reformasi juga tidak merubah prilakupolitik para elite.Hal ini juga disebabkan karena tidak adanya perubahan pelaku politik akibat tidak adanyaperubahan pada struktur pemilik modal yang menyokong kebutuhan pelaku politik. Mentalis kekerasan yang menjadi warisan Orde Baru juga belum hilang. Kekerasan yang dulu dilakukan Negara sekarang justru merembet ke kelompok kepentingan masyarakat sebagai pelakunya. Menurut Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri, di sebagian mahasiswa masih ada idealisme. Akan tetapi, cara memahami gerakan mahasiswa saat ini harus diletakan dalam situasi kekinian yang problemnya sangat kompleks.

Mahasiswa saat ini tidak hanya menghadapi problem iternal di Indonesia, tetapi persoalan global, resesi ekonomi di Amerika Serikat, juga menjadi problem riil yang dihadapi mahasiswa. Oleh karenanya mahasiswa perlu diajak menggunakan semangat mudanya untuk membangun gerakan nasional. Misalnya, gerakan penghematan energi dan penanaman pohon yang akan bermanfaat untuk perbaikan kualitas lingkungan.

C. DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF REFORMASI

Tanpa terasa bahwa usia reformasi sudah memasuki usia ke 11. Ditengah usianya tersebut ternyata reformasi memiliki dua dampak sekaligus.

a.Dampak Positif

Yaitu reformasi telah menghasilkanmobilitas vertical, misalnya para politisi yang dapat memasuki kancah politik pasca reformasi. Kyai, ustadz, aktivis organisasi, dan kaum terpelajar kemudian memasuki kancah politik. Andaikan tidak ada reformasi, maka sangat tidak mungkinseorang aktivis organisasi, pengusuha, dan bahkankyai dapat menjadi bupati, gebernur apalagi menteri. yaitu reformasi telah menghasilkan banyak orang yang kemudian memasuki rumah tahanan (rutan), karena kesalahan yang dilakukannya. Rutan pun kemudian dimasuki oleh para terpelajar, kaum terdidik, para aktivis partai dan juga kaum birokrat. Seandainya tidak ada reformasi, maka juga kecil kemungkinan kyai, aktivis organisasi atau lainnya terjerat kasus politik seperti sekarang. Jadi reformasi bermata dua: positif dan negatif.

Reformasi memang menjadi arena berbagai tarikan kepentingan. Tarikan politik adalah yang paling menarik. Hingga saat ini pertarungan kepentingan begitu tampak menonjol. Dalam masa reformasi maka sudah terdapat beberapa kali pilihan umum. Benturan aturan pun juga tidak terhindarkan. Sebagai akibat reformasi di bidang hukum, maka berbagai gugatan tentang produk politik juga muncul luar biasa. Hal ini hampir tidak dijumpai di era Orde baru. Dalam sistem otoriter, maka nyaris tidak dimungkinkan adanya gugatan politik oleh partai politik yang kalah.

Namun di era reformasi ini maka semuanya bisa melakukan gugatan hukum terhadap persoalan politik. Yang terakhir, pasca pilpres tentunya adalah gugatan terhadap keputusan KPU tentang penetapan daftar anggota legislatif terpilih. Ketika Mahkamah Agung membatalkan keputusan KPU tersebut maka pro-kontra pun terjadi. Bahkan juga sudah sampai tahapan saling mengancam akan mengerahkan massanya.

Negeri ini memang penuh paradoks. Anggota legislatif yang memiliki wewenang untuk melakukan legislasi, membuat aturan, kebijakan dan hal-hal lain yang terkait dengan perencanaan program pemerintah justru menjadi lembaga yang paling banyak disorot karena banyaknya kasus korupsi. Kasus P2SEM adalah cermin bagi semuanya bahwa ada sesuatu yang harus selalu dicermati terkait dengan program-program pembangunan. Makanya melakukan pengawasan anggaran menjadi sangat penting. Jika seperti ini, maka memberdayakan masyarakat untuk melek anggaran dan pentingnya transparansi anggaran dirasakan sebagai sesuatu yang sangat mendesak.

Oleh karena itu, agar didapati trust yang membudaya di masyarakat, maka semuanya harus bersia-sekata untuk melawan berbagai penyimpangan terutama yang terkait dengan program pemberdayaan masyarakat.

D. SYARAT-SYARAT REFORMASI

1. Suatu gerakan reformasi dilakukan karena adanya suatu penyimpangan-penyimpangan. Masa pemerintahan Orde Baru banyak terjadi penyimpangan, misalnya asas kekeluargaan menjadi nepotisme, kolusi dan korupsi yang tidak sesuai dengan makna dan semangat Pembukaan UUD 1945 serta batang tubuh UUD 1945.

2. Suatu gerakan reformasi dilakukan harus dengan suatu cita-cita yang jelas atau landasan ideologis tertentu (dalam hal ini Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia). Tanpa landasan ideologis yang jelas, maka gerakan reformasi akan mengarah pada anarkisme, disintegrasi bangsa, dan akhirnya jatuh pada suatu kehancuran bangsa dan negara Indonesia, sebagaimana yang terjadi di Uni Sovyet dan Yugoslavia.

3. Suatu gerakan reformasi dilakukan dengan berdasar pada suatu kerangka structural tertentu (dalam hal ini UUD) sebagai kerangka acuan reformasi. Reformasi pada prinsipnya merupakan gerakan untuk mengadakan suatu perubahan untuk mengembalikan pada suatu tatanan struktural yang ada karena adanya suatu penyimpangan. Maka reformasi akan mengembalikan pada dasar serta sistem negara demokrasi bahwa kedaulatan adalah di tangan rakyat sebagaimana terkandung dalam pasal 1 ayat (2). Reformasi harus mengembalikan dan melakukan perubahan ke arah sistem negara hukum dalam arti yang sebenarnya sebagaimana terkandung dalam penjelasan UUD 1945, yaitu harus adanya perlindungan hak-hak asasi manusia, peradilan yang bebas dari penguasa, serta legalitas dalam arti hukum.

Oleh karena itu, reformasi sendiri harus berdasarkan pada kerangka hukum yang jelas. Selain itu, reformasi harus diarahkan pada suatu perubahan ke arah transparansi dalam setiap kebijaksanaan dalam setiap kebijaksanaan dalam penyelenggaraan negara karena hal tersebut merupakan manifestasi bahwa rakyatlah sebagai asal mula kekuasaan negara dan untuk rakyatlah segala aspek kegiatan negara.

4. Reformasi dilakukan ke arah suatu perubahan ke arah kondisi serta keadaan yang lebih baik, Perubahan yang dilakukan dalam reformasi harus mengarah pada suatu kondisi kehidupan rakyat yang lebih baik dalam segala aspeknya, antara lain di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, serta kehidupan beragama. Dengan kata lain, reformasi harus dilakukan ke arah peningkatan harkat dan martabat .rakyat Indonesia sebagai manusia.
5. Reformasi dilakukan dengan suatu dasar moral dan etika sebagai manusia yang Berketuhanan Yang Maha Esa, serta terjaminnya persatuan dan kesatuan bangsa.

E. HASIL REFORMASI

Cendekiawan Prof Dr Nurcholish Madjid (Cak Nur) memaparkan siklus 20 tahunan dalam sejarah modern bangsa Indonesia ketika berbicara di depan mahasiswa Indonesia di Kairo, Senin malam. Menurut Cak Nur, sejarah Indonesia mempunyai siklus 20 tahunan, dimulai sejak berdirinya Boedi Oetomo 1905 yang kemudian menghasilkan Sumpah Pemuda 1928. Berdasarkan teori siklus itu, Cak Nur memprediksi bahwa buah reformasi 1998 baru akan dirasakan bangsa Indonesia 20 tahun mendatang. “Proses reformasi itu memiliki dimensi waktu. Jadi, kita akan mengetahui hasil reformasi ini 20 tahun lagi,” Banyak kalanganyang menginginkan hasil reformasi secepatnya. Hal itu dianggapnya sebagai kesalah pahaman. “Padahal, proses reformasi itu berjenjang, dan sekitar 2025 baru kita mengetahui hasilnya.

Proses perkembangan sejarah Indonesia modern mulai berdirinya Boedi Oetomo pada1905 hingga munculnya tuntutan reformasi dengan jatuhnya Soeharto, Mei 1998.”Boedi Oetomo merupakan pijakan awal proses berdirinya negara Indoneia modern.

Perjuangan itu melahirkan Sumpah Pemuda 23 tahun kemudian, yaitu pada 1928. Proses itu berlangsung terus hingga kemerdekaan Indonesia pada 1945, juga 23 tahun kemudian.

F. Pandangan pancasila terhadap reformasi Pancasila Sebagai Dasar Cita-Cita Reformasi

Rumusan Pancasila sebagai dasar filosofi dan sekaligus sumber ideologi negara Indonesia sebenarnya cukup mantap secara teoretik konstitusional. Kemasan formulasi Pancasila yang singkat, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan, adalah sebuah kreasi agung yang pernah diciptakan pendiri negara ini. Namun dasar filosofi yang dahsyat ini gagal diterjemahkan untuk mencapai tujuan kemerdekaan, berupa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam perjalanan sejarah Pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia, sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, nampaknya tidak diletakkan dalam kedudukan dan fungsi yang sebenarnya. Pada masa Orde Lama, terjadi pelaksanaan negara yang secara jelas menyimpang bahkan bertentangan, misalnya Manipol Usdek dan Nasakom yang bertentangan dengan Pancasila, pengangkatan Presiden seumur hidup, serta praktek-praktek kekuasaan diktator. Pada masa Orde Baru, Pancasila digunakan sebagai alat legitimasi politik oleh penguasa, sehingga kedudukan Pancasila sebagai sumber nilai dikaburkan dengan praktek kebijaksanaan pelaksana penguasa negara. Misalnya, setiap kebijaksanaan penguasa negara senantiasa berlindung di balik ideologi Pancasila, sehingga mengakibatkan setiap warga negara yang tidak mendukung kebijaksanaan tersebut dianggap bertentangan dengan Pancasila. Asas kekeluargaan sebagaimana terkandung dalam nilai Pancasila disalahgunakan menjadi praktek nepotisme sehingga merajalela kolusi dan korupsi.

Oleh karena itu, gerakan reformasi harus tetap diletakkan dalam perspektif Pancasila sebagai landasan cita-cita dan ideologi (Hamengkubuwono X, 1998: 8). Sebab, tanpa adanya suatu dasar nilai yang jelas, suatu reformasi akan mengarah pada suatu disintegrasi, anarkisme, brutalisme, serta pada akhirnya menuju pada kehancuran bengsa dan negara Indonesia. Pada hakikatnya, reformasi dalam perspektif Pancasila harus berdasarkan pada nilai-nilai antara lain :

a.Ketuhanan yang maha esa
Reformasi yang Berketuhanan Yang Maha Esa berarti bahwa suatu gerakan ke arah perubahan harus mengarah pada suatu kondisi yang lebih baik bagi kehidupan manusia sebagai makhluk Tuhan. Manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa pada hakikatnya adalah sebagai makhluk yang sempurna yang berakal budi, sehingga senantiasa bersifat dinamis yang selalu melakukan suatu perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, reformasi harus berlandaskan moral religius dan hasil reformasi harus meningkatkan kehidupan keagamaan. Reformasi yang dijiwai nilai-nilai religius tidak membenarkan pengrusakan, penganiayaan, merugikan orang lain, serta bentuk-bentuk kekerasan lainnya.
b. Kemanusiaan yang adil dan beradab
Reformasi yang berkemanusiaan yang adil dan beradab berarti bahwa reformasi harus dilakukan dengan dasar-dasar nilai martabat manusia yang beradab. Oleh karena itu, reformasi harus dilandasi oleh moral yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bahkan reformasi mentargetkan ke arah penataan kembali suatu kehidupan negara yang menghargai harkat dan martabat manusia yang secara jelas menghargai hak-hak asasi manusia. Reformasi menentang segala praktek eksploitasi, penindasan oleh manusia terhadap manusia lain atau oleh suatu golongan terhadap golongan lain, bahkan oleh penguasa terhadap rakyatnya.

Untuk bangsa yang majemuk seperti bangsa Indonesia, semangat reformasi yang berdasar pada kemanusiaan menentang praktek-praktek yang mengarah pada diskriminasi dan dominasi sosial, baik alasan perbedaan suku, ras, asal-usul, maupun agama. Reformasi yang dijiwai nilai-nilai kemanusiaan tidak membenarkan perilaku yang biadab, seperti membakar, menganiaya, menjarah, memperkosa, dan bentuk-bentuk kebrutalan lainnya yang mengarah pada praktek anarkisme. Reformasi yang berkemanusiaan pun harus memberantas sampai tuntas masalah Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), yang telah sedemikian menakar pada kehidupan kenegaraan pemerintahan Orde Baru.

Semangat reformasi harus berdasarkan pada nilai persatuan, sehingga reformasi harus menjamin tetap tegaknya negara dan bangsa Indonesia. Reformasi harus menghindarkan diri dari [raktek-praktek yang mengarah pada disintegrasi bangsa, upaya separatisme, baik atas dasar kedaerahan, suku, maupun agama. Reformasi memiliki makna menata kembali kehidupan bangsa dalam bernegara, sehingga reformasi harus mengarah pada lebih kuatnya persatuan dan kesatuan bangsa, dan reformasi juga harus senantiasa dijiwai asas kebersamaan sebagai suatu bangsa Indonesia.

d. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Semangat dan jiwa reformasi harus berakar pada asas kerakyatan karena permasalahan dasar gerakan reformasi adalah pada prinsip kerakyatan. Penataan kembali secara menyeluruh dalam segala aspek pelaksanaan pemerintahan negara harus meletakkan kerakyatan sebagai paradigmanya. Rakyat adalah asal mula kekuasaan negara yang benar-benar bersifat demokratis, artinya rakyatlah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam negara. Oleh karena itu, semangat reformasi menentang segala bentuk penyimpangan demokratis, seperti kediktatoran (baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung), feodalisme, maupun, totaliterianisme. Asas kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan menghendaki terwujudnya masyarakat demokratis. Kecenderungan munculnya diktator mayoritas melalui aksi massa harus diarahkan pada asas kebersamaan hidup rakyat agar tidak mengarah pada anarkisme. Oleh karena itu, penataan kembali mekanisme demokrasi seperti pemilihan anggota DPR, MPR, pelaksanaan Pemilu beserta perangkat perundang-undangan, pada hakikatnya adalah untuk mengembalikan tatanan negara pada asas demokrasi yang bersumber pada kerakyatan sebagaiman terkandung dalam sila keempat Pancasila.

e. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Visi dasar reformasi haruslah jelas, yaitu demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Gerakan reformasi yang melakukan perubahan dan penataan kembali dalam berbagai bidang kehidupan negara harus bertujuan untuk mewujudkan tujuan bersama sebagai negara hukum yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Oleh karena itu, hendaklah disadari bahwa gerakan reformasi yang melakukan perubahan dan penataan kembali pada hakikatnya bukan hanya bertujuan demi perubahan itu sendiri, melainkan perubahan dan penataan demi kehidupan bersama yang berkeadilan. Perlindungan terhadap hak asasi, peradilan yang benar-benar bebas dari kekuasaan, serta legalitas dalam arti hukum harus benar-benar dapat terwujudkan, sehingga rakyat benar-benar menikmati hak serta kewajibannya berdasarkan prinsip-prinsip keadilan hukum terutama aparat pelaksana dan penegak hukum adalah merupakan target reformasi yang mendesak untuk terciptanya suatu keadilan dalam kehidupan rakyat.

Kesimpulan
Dalam perspektif Pancasila, gerakan reformasi merupakan suatu upaya untuk menata ulang dengan melakukan perubahan-perubahan sebagai realisasi kedinamisan dan keterbukaan Pancasila dalam kebijaksanaan dan penyelenggaraan negara. Sebagai suatu ideologi yang bersifat terbuka dan dinamis, Pancasila harus mampu mengantisipasi perkembangan zaman, terutama perkembangan dinamika aspirasi rakyat. Nilai-nilai Pancasila adalah ada pada filsafat hidup bangsa Indonesia, dan sebagai bangsa, maka akan senantiasa memiliki perkembangan aspirasi sesuai tuntutan zaman. Oleh karena itu, Pancasila sebagai sumber nilai, memiliki sifat yang reformatif, artinya memiliki aspek pelaksanaan yang senantiasa mampu menyesuaikan dengan dinamika aspirasi rakyat, yang nilai-nilai esensialnya bersifat tetap, yaitu Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.

Sebagai warga negara yang berdasar pada Pancasila, diharapkan mampu memahami serta dapat mengaplikasikan Pancasila dalam kehidupan baik diri, keluarga, maupun masyarakat sekitar. Sebagai upaya dalam penegakan kehidupan pasca reformasi kita dapat menyikapi segala sesuatu dengan penuh pertimbangan dan bertindak secara dewasa.

PENGELOLAAN KURIKULUM

Pengertian Kurikulum, Istilah kurikulum digunakan pertama kali pada dunia olahraga pada zaman Yunani kuno yang berasal dari kata curir dan curere pada waktu itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Pada selanjutnya istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan.

Pengertian kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik, merupakan konsep kurikulum yang sampai saat ini banyak mewarnai teori – teori dan praktik pendidikan ( Saylor Alexander & Lewis, 1981).

Pengertian kurikulum menurut Taylor dalam Nanang Fatah dan Aceng Muhtaram (1991) yaitu :

1) Perangkat bahan ajar
2) Rumusan hasil belajar yang dikehendaki
3) Penyediaan kesempatan belajar
4) Kewajiban peserta didik

Berdasarkan pengertian diatas maka ada 2 aspek penting yang harus dipahami :

1) Isi kurikulum
2) Proses kurikulum

Unsur-unsur pokok yang terkandung dalam kurikulum meliputi tujuan, materi, strategi kegiatan pembelajaran, dan sistem evaluasi.

Kurikulum dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.

B. Kegiatan-kegiatan pengelolaan kurikulum

1. Kegiatan yang berkaitan dengan tugas guru

a. Pembagian tugas membelajarkan
b. Pembagian tugas membina kegiatan ekstrakurikuler

2. Kegiatan yang berkaitan dengan proses pelaksanaan pembelajaran

a. Penyusunan jadwal pelajaran
b. Penysunan program pelajaran
c. Pengisian daftar kemajuan kelas
d. Kegiatan mengelola kelas
e. Penyelenggaraan evaluasi hasil belajar
f. Laporan hasil belajar
g. Kegiatan bimbingan dan penyuluhan

C. Bentuk pengorganisasian kurikulum

Ada empat bentuk pengorganiasasian kurikulum yang bisa diterapkan di lembaga pendidikan yaitu :

1. Separated subject curriculum

Kurikulum ini menyjikan segala bahan pelajaran dalam bernagai macam mata pelajaran yang tepisah-pisah satu sama lain dan juga antara satu kelas dengan kelas yang lain.

2. Correlated curriculum

Bentuk ini menghendaki agar mata pelajaran satu sama lain ada hubungan walaupun mungkin batas-batas yang satu ddengan yang lain masih dipertahankan. Korelasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara :

1) Antara dua mata pelajaran diadakan hubungan secara incidental
2) Terdapat hubungan yang lebih erat apabila suatu pokok bahasan tertentu dibahas dalam berbagai mata pelajaran
3) Mempersatukan beberapa mata pelajaran dengan menghilangkan batas masing-masing

3. Integrated curriculum

Integrated curriculum meniadakan batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan. Semua ini dimaksudkan agar anak dapat dibentuk menjadi pribadu yang integrated yakni manusia yang selaras dengan lingjungan hidupnya.

4. Core curriculum
Pada prinsipnya core curriculum memberikan pelajaran yang umum.

D. Peran dan Fungsi Kurikulum

Sebagai salah satu komponen dalam sistem pendidikan, kurikulum memiliki tiga peran, yaitu peran konservatif, peran kreatif serta peran kritis dan evaluatif.

1. Peran Konsevatif
Peran Konservatif Kurikulum adalah melestarikan berbagai nilai budaya sebagai warisan masa lalu. Dokaotkan dengan era globalisasi sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memungkinkan mudahnya pengaruh budaya asing menggerogoti budaya local, maka peran konservatif dalam kurikulum memiliki arti ynag sangat penting. Melalui peran konservatif, kurikulum berperan dalam menangkal berbagai pengaruh yang dapat merusak nilai – nilai luhur masyarakat, sehingga identitas masyarakat akan tetap terpelihara dengan baik.

2. Peran Kreatif
Dalam peran kreatif, kurikulum harus mengandung hal – hal baru sehingga dapat membantu siswa untuk dapat mengembangkan setiap potensi yang dimilikinya agar dapat berperan aktif dalam kehidupan sosial masyarakat yang senantiasa bergerak maju secara dinamis.

3. Peran Kritis dan Evaluatif
Kurikum berperan untuk menyeleksi nilai dan budaya mana yang perlu dipertahankan, dan nilai atau budaya baru yang mana yang harus dimiliki anak didik. Daam rangka ini peran peran kritis dan evaluatif kurikulum diperlukan. Kurikulum harus berperan dalam menyeleksi dan mengevaluasi segala sesuatu yang dianggap bermanfaat untuk kehidupan anak didik.

Sesuai dengan peran yang harus dimainkan kurikulum sebagai alat dan pedoman pendidikan, maka isi krikulum harus berjalan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Menurut McNeil (1990) isi kurikulum memiliki empat fungsi, yaitu :

1) Fungsi Pendidikan Umum
Fungsi Pendidikan Umum yaitu fungsi kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik agar mereka menjadi anggota masyarakat yang bertanggungjawab sebagai warga negara yang baik.

2) Suplementasi
Setiap peserta didik memiliki perbedaan, baik perbedaan minat, perbedaan kemampuan, maupun perbedaan bakat. Dengan demikian setiap anak memiliki kesempatan untuk menambah kemampuan dan wawasan yang lebih baik sesuai dangan minat dan bakatnya.

3) Eksplorasi
Fungsi Eksplorasi memiliki makna bahwa kurikulum harus dapat menemukan dan mengembangkan bakat minat masing – masing siswa. Namun proses eksplorasi minat dan bakat siswa harus ada pemaksaan dari pihak luar, misalnya para orangtua yang sebenarnya anak tidak memiliki bakat dan minat terhadap bidang tertentu mereka dipaksa untuk memilihnya hanya karena alasan – alasan tertentu yang sebenarnya tidak rasional.

4) Keahlian
Kurikulum berfungsi untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai ddengan keahlian yang didasrkan atas minat dan bakat siswa. Dengan demikian, kurikulum harus memberikan pilihan berbagai bidang keahlian misalnya perdagangan, pertanian, industri atau disiplin akademik.

Bagi guru kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Bagi kepala sekolah kurikulum berfungsi untuk menyusun perencanaan dan program sekolah.Bagi pengawas, kurikulum akan berfungsi segai panduan dan melaksanakan supervisi. Sedangkan bagi siswa itu sendiri kurikulum berfungsi sebagai pedoman belajar.

Alexander Inglis (dalam Hamalik, 1990) mengemukakan enam fungsi kurikulum untuk siswa:

a. Fungsi penyesuaian, yaitu kurikulum harus dapat mengantarkan siswa agar mampu menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial masyarakat.
b. Fungsi integrasi, yaitu kurikulum harus dapat mengembangkan pribadi siswa secara utuh.
c. Fungsi diferensiasi, yaitu kurikulum harus dapat melayani siswa dengan segala keunikannya.
d. Fungsi persiapan, yaitu kurikulum harus dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak, baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun untuk kehidupan di masyarakat.
e. Fungsi pemilihan, yaitu kurikulum yang dapat memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk belajar sesuai bakat dan minatnya.
f. Fungsi Diagnostik, yaitu fungsi untuk mengenal berbagai kelemahan dan kekuatan siswa.

E. Landasan Pengembangan Kurikulum

1. Landasan Filosofis
Filsafat berasal dari Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan “sophia”. Philos artinya cinta yang mendalam dan sophia artinya kearifan atau kebijaksanaan. Filsafat secara harfiyah diartikan sebagai cinta yang mendalam akan kearifan. Secara popular Filsafat sering diartikan sebagai pandangan hidup suatu masyarakat atau pendirian hidup bagi individu.

Ada empat fungsi filsafat dalam proses pengembangan kurikulum. Pertama, filsafat dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan. Kedua, filsafat dapat menentukan isi atau materi pelajaran yang harus diberikan sesuai debgan tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, filsafat dapat menentukan srategi atau cara penyampaian tujuan. Keempat, melalui filsafat dapat ditentukan bagaimana menentukan tolok ukur keberhasilan proses pendidikan.

a. Filsafat dan Tujuan Pendidikan
Hummel (1977) mengemukakan ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan tujuan pendidikan :

1) Autonomy, artinya memberi kesadaran, pengetahuan dan kemampuan yang primakepada setiap individu dan kelompok untuk dapat mandiri dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik.
2) Equity, artinya pendidikan harus dapat memberi kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kebudayaan dan ekonomi.
3) Survival, artinya pendidikan bukan saja harus menjamin terjadinya pewarisan dan memperkaya kebudayaan dari generasi ke generasi akan tetapi harus memberikan pemahaman akan saling ketergantungan antar manusia.

Menurut Bloom (1965), tujuan pendidikan dapat digolongkan kedalam tiga klasifikasi atau tiga domain (bidang), yaitu domain kognitif, afektif dan psikomotor. Domain kognitif berhubungan dengan pengembangan intelektual atau kecerdasan. Bidang afektif berhubungan dengan pengembangan sikap dan bidang psikomotor berhubungan dengan keterampilan.

b. Filsafat sebagai Proses Berfikir

Filsafat sering diartikan sebagai cara berfikir. Sidi Gazalba, mengemukakan ciri – ciri berfikir filosofis sebagai berfikir yang radikal, sistematis dan universal. Befikir radikal (radikal thinking), yaitu berfikir sampai ke akar – akarnya sampai pada konsekuensi yang terakhir.

Berfikir sistematis adalah berfikir logis yang bergerak selangkah dengan penuh kesadarandenagn urutan yang bertanggungjawab dan saling berhubungan yang teratur. Berfikir universal, artinya tidak berfikir secara khusus melainkan mencakup keseluruhan secara sistematis dan logis sampai ke akar – akarnya. Orang yang berfilsafat yaitu orang yang berfikir secara mendalam tentang masalah secara menyeluruh sebagai upaya mencari dan menemukan kebenaran.

Menurut Nasution (1989), ada empat aliran utama dalam filsafat, yaitu idealisme, relisme, pragmatisme,dan eksistensialisme. Idealisme, memandang bahwa kebenaran itu datang dari Yang Maha Kuasa.Manusia tidak perlu meragukan kebenarannya selain harus mematuhinya.

Aliran Realisme memandang bahwa manusia pada dasarnya dapat menemukan dan mengenal realitas sebagai hukum – hukum universal, hanya saja dalam menemukannya itu dibatasi oleh kelambanan sesuai dengan kemampuannya. Aliran progmatisme berpendapat bahwa kenyatan itu pada hakikatnya berada pada hubungan sosial antara manusia dengan manusia lainnya. Aliran Eksistensialis mengakui bahwa sebagai individu setiap manusia memiliki kelemahan – kelemahan.

2. Landasan Psikologis

a. Psikologi Perkembangan Anak
Untuk memahami perkembangan siswa, Piaget mengemukakan teori perkembangan kognitif (intelektual). Kemampuan kognitif merupakan suatu yang fundamental yang mengarahkaan dan membimbing perilaku anak. Tahapan perkembangannya yaitu:

1. Sensorimotor,yang berkembang dari mulai lahir sampai 2 tahun.
2. Praoperasional, mulai dari 2 sampai 7 tahun.
3. Operasional konkret, 7 sampai 11 tahun.
4. Operasional formal dimulai dari 11 sampai 14 tahun ke atas.

b. Psikologi Belajar
Menurut aliran Behavioristik, Belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respon. Karena itu teori ini dinamakan teori Stimulus – Respons.

3. Landasan Sosiologis – Teknologis

a. Kekuatan Sosial yang Dapat Mempengaruhi Kurikulum.
b. Kemajuam IPTEK sebagai Bahan Pertimbangan Penyusunan Kurikulum.

1) Perubahan Pola Hidup
2) Perubahan Kehidupan Sosial Politik

DAFTAR PUSTAKA

Affifudin, Sobry Sutikno. 2008. Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Prospect .
Sanjaya Wina. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Sukmadinata,nana syaodih. 2010. Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Tujuan Pengajaran Dalam Pendidikan

Banyak buku tentang masalah pendidikan mengulas macam-macam tujuan pengajaran. Dijelaskan pula di situ kegunaan serta perinciannya. Kenyataan tersebut menyebabkan banyak orang dikalangan pendidik yang mulai menyadari kegunaan tujuan dalam kegiatan mengajar. Tetapi sangat disayangkan, bahwa walaupun begitu toh masih ada cukup banyak pengajar yang tidak pernah memikirkan tujuan dalam kegiatan mengajarnya. Cara kerja semacam itu boleh disamakan dengan seseorang yang berangkat dari Jakarta, tetapi belum tahu mau ke mana. Sudah barang tentu perjalanan seperti itu akan merupakan perjalanan yang ganjil sekali.

Bab ini akan membahas berbagai macam tujuan. Dan pembicaraan akan selalu menilik pada praktek mengajar. Dengan kata lain uraian bab ini tidak akan terlalu bersifat teoritis, walaupun bertolak dari hasil penelitian para ahli teori di bidang pendidikan. Karena tulisan ini dimaksudkan agar secara langsung dapat berguna untuk siapa saja, yang akan bekerja atau telah bekerja di bidang pengajaran.

Kalau seseorang hendak mempersiapkan suatu pelajaran atau suatu rangkaian pengajaran, ia harus memperhatikan beberapa faktor tertentu. Sebelum ia mengawali pekerjaan yang sebenarnya, terlebih dahulu ia harus memikirkan tiga pertanyaan penting. Jawaban dari ketiga pertanyaan itu akan menentukan isi pelajaran yang akan ia berikan dan jenis cara kerja yang akan ia pilih. Tiga buah pertanyaan tersebut adalah :

1. Bahan pelajaran apa yang akan diberikan untuk kelompok murid ini atau itu ?
2. Apa yang diinginkan oleh pengajar dari kelompok murid tersebut ? Apa yang harus dikerjakan oleh murid ?
3. Sejauh mana para murid perlu mengetahui bahan pelajaran tersebut ?

Dalam menentukan bahan yang akan diajarkan, pengajar tidak dapat berbuat dengan cara begitu saja atau menurut kehendak hatinya sendiri saja. Ia perlu memikirkan, bahwa bahan yang akan ia ajarkan itu harus berhubungan dengan kelanjutannya yang akan diajarkan di kemudian waktu. Bilamana pengajar memperoleh tugas memberi kursus pengantar ilmu ekonomi perusahaan pada kelompok mahasiswa tingkat pertama fakultas ekonomi, maka isi kursus itu harus ada hubungannya dengan kelanjutan kursus ilmu ekonomi perusahaan yang akan diajarkan di fakultas tersebut. Dengan kata lain kelanjutan kursus ilmu ekonomi perusahaan menentukan isi kursus pengantar ilmu ekonomi perusahaan itu. Selanjutnya pengajar perlu memikirkan bahan yang harus diketahui oleh murid, serta dengan urutan bagaimana bahan yang akan ia ajarkan harus disusun. Dia harus memperhitungkan, apakah bahan yang akan ia berikan itu terlalu sederhana atau terlalu sulit bagi murid. Apakah bahan pengajaran tersebut akan dapat selesai dibicarakan dalam waktu yang tersedia.

Pertanyaan yang tidak kalah pentingnya adalah, apa yang perlu dilakukan oleh murid. Apa yang diinginkan oleh pengajar dari muridnya. Mereka cukup mendengarkan saja atau perlu juga mempelajari buku-buku tertentu yang ditunjuk oleh pengajar. Mereka wajib mengikuti pelajaran atau cukup belajar di rumah saja. Apakah mereka harus menempuh tentamen atau sama sekali tidak perlu. Pengajar perlu mempelajari semua hal itu, sebelum ia mulai mengerjakan persiapan pelajaran.

Jawaban atas pertanyaan ketiga, yaitu sejauh mana murid perlu mengetahui bahan pelajaran, akan banyak membantu pengajar dalam memilih cara mengajar yang akan ia pakai. Sebagai contoh : seorang pengajar menganggap perlu murid-muridnya sedikit tahu tentang teknik pengujian dalam masalah statistik. Untuk itu ia dapat merangkaikan beberapa jam pelajaran guna menjelaskan berbagai macam teknik pengujian. Dalam hal seperti itu murid cukup mendengarkan uraian saja. Tetapi bilamana pengajar mempunyai tuntutan agar murid-muridnya mampu menerangkan serta menerapkan teknik-teknik tersebut, maka pelajar perlu memberi kesempatan berlatih kepada mereka. Dengan hal yang terakhir itu norma pengajaran lebih tinggi. Dan ini menentukan cara mengajar yang hendak ia gunakan. Hanya mendengarkan pelajaran saja sudah barang tentu belum mencukupi.

Itulah tadi tiga pertanyaan yang harus dipikirkan oleh pengajar. Dengan kata singkat, pengajar terlebih dahulu harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, sebelum ia mulai menyusun pengajaran atau rangkaian pengajaran. Karena jawaban dari tiga pertanyaan itu akan memberi garis arah serta tujuan pada pengajaran.

Mengapa memikirkan tujuan pengajaran merupakan hal yang sangat penting ? Karena tujuan itu justru akan membantu pengajar dalam mencari bahan yang akan diajarkan, serta akan membulatkan susunan pengajaran. Sedangkan bahan pengajaran merupakan bahan baku yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Seperti halnya palu, paku, gergaji, dan kayu merupakan bahan baku yang dibutuhkan oleh tukang kayu untuk membuat peti. Tetapi disamping itu memang masih ada banyak alasan lain, mengapa tujuan pengajaran perlu ditetapkan terlebih dahulu.

Tujuan yang dirumuskan secara jelas memungkinkan pengajar membuat ujian ataupun tentamen secara mudah pula. Bila sebelumnya telah ditentukan apa saja yang perlu diketahui oleh murid, maka selanjutnya dapat ditentukan pula apa saja yang dapat ditanyakan kepada mereka. Misalkan saja, pengajar menginginkan agar murid mengetahui semua sungai yang ada di Pulau Jawa. Maka itulah yang menjadi tujuan dari pengajaran yang akan ia berikan.

Selanjutnya berdasarkan tujuan tersebut ia dapat menyusun ulangan atau ujiannya. Jelasnya, dalam tujuan itu telah dipastikan secara tepat, apa yang harus diketahui oleh murid. Di lain pihak, murid-murid perlu tahu juga tujuan yang diinginkan oleh pengajar. Dengan begitu murid dapat mengetahui, apa yang akan dituntut dari mereka, serta apa yang akan mereka hadapi selama pelajaran. Kemudian mereka pun akan dapat membuat pembagian kerja untuk mereka sendiri. Selama mengikuti pelajaran mereka dapat mengetahui rencana pengajar. Sewaktu harus mempersiapka diri untuk menempuh tentamen, mereka tahu apa yang perlu dipelajari. Maka dari itu cukup menguntungkan kiranya kalau pengajar menjelaskan tujuan pelajarannya kepada murid.

Apa yang dimaksud dengan tujuan ? Tujuan adalah suatu rumusan yang menunjukkan dan menjelaskan hal yang ingin dicapai. Dalam bab ini kita akan membahas tujuan pengajaran. Tujuan tersebut menunjukkan atau menjelaskan perubahan apa yang harus terjadi, sebagai akibat dari pengajaran yang dialami oleh murid. Antara lain perubahan dalam pola berfikir, dalam perasaan, serta dalam tingkah laku murid. Pengajar harus dapat membuat perubahan itu terjadi, dan inilah yang disebut mengajar.

Untuk itu ia perlu memikirkan bahan pengajaran yang dibutuhkan untuk merangsang terjadinya perubahan-perubahan tersebut, serta cara menangani bahan yang dimaksud. Sebagai contoh : Di fakultas kedokteran gigi mahasiswa harus belajar cara mencabut gigi. Pengajar yang bersangkutan harus mengajar dan melatih mahasiswa dalam hal cara mencabut gigi. Di sini terjadi perubahan dalam hal tindakan. Kemudian pengajar harus mencari cara yang akan digunakan untuk mengajar masalah pencabutan gigi. Ia harus meneliti jenis latihan yang dapat diajarkan serta alat-alat yang perlu dipakai. Pendeknya, sebelum kursus dimulai pengajar harus memikirkan secara cermat beberapa hal ini : bahan apa yang akan diajarkan, cara apa akan ia gunakan untuk menyampaikan bahan pengajaran, serta alat-alat apa saja yang perlu ia gunakan.

Semua itu harus terangkum dalam tujuan. Karena tujuan merupakan garis arah yang perlu diperhatikan dalam penyusunan rangkaian pengajaran atau kursus, dalam perencanaan praktikum, dan dalam pemilihan cara pelaksanaan. Pengajar hendaknya menjelaskan tujuan pengajaran pada jam pelajaran yang pertama, sehingga murid-murid mengetahui apa yang akan dan harus mereka hadapi selama kursus itu. Misalkan saja pengajar menyatakan demikian, “ Setelah tiga jam pengajaran teori dan tiga jam praktikum terlaksana, kalian harus mampu mengerjakan sendiri praktek mencabut gigi “.

Jelaslah bahwa dalam hal ajar-mengajar kita perlu menentukan tujuannya. Lalu tujuan macam apa saja yang ada dalam bidang pengajaran? Di waktu lampau telah pernah ada usaha untuk merumuskan beberapa macam tujuan di bidang pengajaran. Namun kebanyakan usaha tersebut mengalami kegagalan. Kiranya ini bisa dimaklumi, mengingat waktu itu orang belum mengetahui benar-benar jenis tujuan yang cocok untuk kegiatan mengajar. Merumuskan jenis-jenis tujuan yang sungguh-sungguh tepat memang bukan pekerjaan mudah. Lagi pula pekerjaan tersebut membutuhkan cukup banyak waktu. Suatu contoh : Seorang pengajar akan memberikan kursus tentang teknik penelitian. Kelompok yang akan ia hadapi adalah mahasiswa tahun kedua di fakultas ekonomi. Pengajar mempunyai tujuan akan membahas sebuah buku X dalam waktu lima belas minggu. Ia menjelaskan tujuannya itu kepada para mahasiswa, dan kuesus dapat dimulai. Dua puluh minggu kemudian diadakan tentamen.

Selanjutnya hasil tentamen tersebut menunjukkan, bahwa hanya dua persen saja dari jumlah seluruh mahasiswa pengikut kursus mampu mencapai nilai cukup. Di mana letak terjadinya ketidakberesan ? Ternyata tujuan yang ditetapkan oleh pengajar tidak tepat. Ia tidak berhasil mencapai tujuannya. Dengan demikian dapat dikatakan, tujuan yang telah ia tetapkan itu kurang memberi arah kepada kursusnya. Tujuannya kurang nyata. Ia tidak melihat secara tepat, apa yang harus ia lakukan agar tujuannya itu dapat tercapai. Kiranya hal yang disebutkan terakhir itulah merupakan syarat yang perlu diperhatikan. Memang ada sejumlah syarat yang harus terpenuhi agar suatu tujuan dapat tercapai. Syarat-syarat tersebut berupa ketentuan-ketentuan atau kriteria. Bila ketentuan-ketentuan itu kita susun secara berurutan, kita akan dapat melihat rupa tujuan yang dimaksud. Dan bentuk tujuan itu baru menjadi jelas kalau kita mengetahui fungsinya. Kadang-kadang suatu tujuan umum sudah cukup memenuhi kebutuhan. Tetapi kadang-kadang pula tujuan seperti itu masih perlu dikhususkan lagi. Dalam contoh tadi kelihatan bahwa tujuannya masih bersifat terlalu umum. Bentuk suatu tujuan tergantung dari situasi yang akan dihadapi. Seperti halnya dengan Pancasila yang mengandung lima macam tujuan. Lima macam tujuan itu besifat umum. Tetapi hal tersebut dianggap cukup, karena hanya dimaksudkan sebagai suatu titik tolak atau suatu dasar umumsaja.

Dari uraian di atas sudah jelas adanya tujuan umum dan tujuan khusus. Di sini akan kami berikan lima buah contoh yang menjelaskan bagaimana tujuan (dalam bidang pendidikan) bergerak dari umum ke khusus. Setiap tingkat tujuan dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dihadapi.

Sebuah universitas merumuskan tujuannya seperti berikut : “ Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat “. Itu adalah tujuan umum yang menyatakan bahwa universitas tersebut hendak melakukan usaha-usaha membantu negara. Kalau seseorang ingin tahu apa sebetulnya yang dilakukan oleh universitas tersebut, maka akan terlihat bahwa tujuan tadi belum sangat jelas, karena pengabdian kepada masyarakat itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Antara lain dengan membangun jalan, menyelenggarakan makanan sehat, menulis buku-buku untuk keperluan sekolah, dan lain-lainnya. Oleh sebab itu perlu dirumuskan tujun yang tidak bersifat umum, agar orang tahu apa yang dilakukan oleh universitas tersebut.

Universtas X ingin mengabdi masyarakat dengan menyelenggarakan pengajaran universiter. Untuk itu disediakan enam macam fakultas seperti berikut : Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Kimia, dan Fakultas Ilmu Alam. Pada rumusan tersebut terungakap jelas cara yang akan ditempuh oleh universitas itu guna mengabdi masyarakat. Meskipun begitu orang masih belum tahu jelas, bagaimana universitas itu akan melakukan semuanya. Masih ada sejumlah kemungkinan untuk memenuhi tujuan seperti tersebut diatas, dan masih ada sesuatu hal yang belum jelas. Yaitu bagaimana masyarakat dapat merasakan usaha pengabdian universitas tersebut.

Halnya akan menjadi semakin jelas bilamana tujuan universitas itu diperinci sebagai berikut :

“ Universitas X ingin mengabdikan dirinya demi kepentingan masyarakat dengan cara-cara seperti berikut : setiap tahun Universitas akan menampung seribu orang mahasiswa. Mereka akan ditempatkan di enam fakultas. Mereka akan dididik selama empat tahun untuk menjadi sarjana di bidang-bidang ekonomi, hukum, kedokteran, ilmu kimia, teknik, dan ilmu alam”.

Rumusan di atas nampak lebih jelas. Siapa pun yang ingin mempelajari ilmu ekonomi dan membaca rumusan tujuan Universitas X, segera tahu bahwa universitas tersebut memberi kesempatan baginya untuk mencapai keinginannya. Akan tetapi bagi seseorang yang hendak mengajar ilmu ekonomi masalahnya belum cukup jelas. Baginya rumusan tadi masih belum cukup terang. Apakah bidang keahliannya dibutuhkan dan diajarkan di fakultas ekonomi Universitas X atau tidak. Ia perlu menghubungi fakultas ekonomi yang bersangkutan untuk memperoleh penjelasan. Karena hal yang ia pikirkan itu bukan urusan langsung seluruh Universitas X, tetapi urusan khusus fakultas ekonomi saja.

Tujuan fakultas ekonomi Universitas X, misalnya saja, dirumuskan seperti berikut : “ Dalam waktu empat tahun fakultas ekonomi ingin memberikan pendidikan pada jurusan-jurusan ekonomi perusahaan, ekonomi umum, dan akuntansi”. Dengan membaca rumusan tersebut seorang pengajar yang mempunyai keahlian di bidang akuntansi akan tahu, bahwa bidang keahliannya dibutuhkan dan diajarkan pada fakultas tersebut. Di umpamakan saja pengajar bidang akuntansi itu diterima dan diangkat sebagai pengajar pada Universitas X. Apakah ia akan segera tahu hal yang harus ia lakukan? Tidak, ia belum tahu apa-apa. Rumusan tujuan fakultas ekonomi itu masih terlalu luas. Masih dibutuhkan suatu tujuan yang lebih khusus lagi.

“ Pada fakultas ekonomi, seorang mahasiswa yang memilih kekhususan studi di jurusan akuntansi harus mengikuti kuliah tata buku selama empat semester. Selanjutnya ia harus menempuh empat buah tentamen”.

Rumusan tersebut akan memberi keterangan pada pengajar tata buku, tentang hal yang harus ia lakukan. Ia dapat mulai menyusun mata kuliah yang bersangkutan. Ia tahu jumlah waktu yang disediakan untuk mata kuliahnya serta berapa kali ia harus memberi tentamen. Tetapi ia belum tahu berapa bagian kursus yang akan ia ajarkan itu harus diperinci, serta sampai dimana tingkat kesulitan kursusnya itu masih mungkin. Oleh sebab itu tujuan tadi perlu lebih diperinci lagi. Pengajar itu baru dapat bekerja secara nyata, kalau rumusan tujuan dapat menjelaskan kepadanya tentang hal yang harus ia lakukan.

Dari kelima contoh tersebut dapat diketahui, bahwa contoh terakhir sudah merupakan sebuah tujuan khusus. Tapi bagi seorang pengajar yang harus mengisi jam kuliah, tujuan tersebut belum cukup operasional dan masih harus diperinci lebih lanjut. Pada tujuan yang operasional orang dapat melihat secara tepat, apa yang dapat dikerjakan oleh pengajar dan apa yang harus diketahui, dimengerti serta dilakukan oleh mahasiswa.

Kapan suatu tujuan dapat disebut sebagai tujuan yang operasional ?

Suatu tujuan dapat disebut operasional bilamana memenuhi empat syarat seperti berikut :

1. Menyatakan kelakuan apa yang harus ditunjukkan oleh murid, setelah suatu kursus selesai diberikan
2. Menunjukkan terhadap bahan pelajaran apa murid harus berkelakuan seperti disebut pada syarat nomor satu
3. Menunjukkan kapan hal itu harus tercapai
4. Menunjukkan dengan sarana apa hal itu dapat

Selanjutnya akan di bicarakan beberapa keuntungan dari sasaran belajar:

a. Sasaran belajar merupakan garis petunjuk untuk menyusun satu jam pelajaran atau lebih.
b. Sasaran belajar memberi petunjuk secara pasti, apa yang harus dilakukan oleh pengajar, karena disitu dibahas mengenai kelakuan apa yang harus ditunjukan oleh murid setelah pelajaran selesai.
c. Sasaran belajar memungkinkan pengajar mengetahui apakah ia telah menunaikan tugasnya apa belum.
d. Sasaran belajar memberi petunjuk kepada murid apa yang akan mereka hadapi.
e. Sasaran belajar memungkinkan murid untuk kemudian mengetahui sejauh mana mereka memahami materi yang mereka pelajari.

Seorang pengajar yang bekerja dengan sasaran belajar, akan mengalami sedikit keragu-raguan dalam mengajar. Ia tahu apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa karena telah menetapkan secara konkrit apa yang harus dicapai oleh mereka dan mencari jalan keluar untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain, dosen menentukan apa yang dibahas supaya dalam latihan mereka dapat menentukan sejauh mana kemampuan mereka melakukan hal-hal yang ditentukan dalam Sasaran belajar.

Seorang pengajar yang bekerja tanpa Sasaran belajar, dapat disamakan dengan seseorang yang hendak pergi tanpa tahu hendak kemana. Ini berarti ia juga belum bisa membayangkan berapa waktu yang diperlukan dan jalan mana yang akan ditempuh. Pengajar yang melakukan demikian, belum mengetahui bagaimana suatu proses belajar dijalankan, Karena tujuan belum ada. Tetapi pengajar yang menggunakan Sasaran belajar, berarti ia memulai suatu perjalanan dengan baik. Disamping itu, ia juga tahu hasil yang ia inginkan. Kalau hasil yang dapat dicapai ternyata tidak memenuhi harapan, ia dapat meneliti mengapa demikian dan tidak mengulanginya lagi. Keuntungan lain dari adanya Sasaran belajar yakni memudahkan dalam penilaian terhadap pengajaran yang telah disampaikan.

Demikian uraian dari bab 6, dan sekarang kita tiba pada akhirnya. Bab ini mempunyai arti tersendiri, karena dimaksudkan sebagai pendahuluan kedua Bab terakhir dalam bagian ini. Disitu penulis telah mencoba menjelaskan bahwa setiap pengajar perlu menetapkan terlebih dahulu tujuannya, jika tidak, maka ia tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi.

Seperti telah di uraikan di muka, ternyata hanya Sasaran belajar sajalah yang cocok dan berguna untuk tugas seorang pengajar. Tujuan seperti itu memeberi arah pada pekerjaan yang harus dilakukukan serta menunjukkan jalan yang harus ditempuh. Dengan Sasaran belajar di satu pihak pengajar memperoleh manfaat dan di lain pihak para murid dapat mengetahui apa yang akan mereka hadapi. Sudah jelas pula dari uraian di atas, pengajar perlu menjelaskan Sasaran belajarnya kepada murid. Kalau pengajar tidak melakukanya, murid tentu tidak akan dapat mengetahuiapa yang harus mereka lakukan serta apa yang harus mereka harapkan dari pengajar. Pengajar pun tidak tahu secara tepat, proses belajar mana yang perlu digalakkan serta sampai taraf mana pengetahuan murid harus dikembangkan.

Untuk menyusun Sasaran belajarsatu pengajaran atau lebih,pengajar perlu memperhatikan beberapa ketentuan, antara lainyaitu apa yang dapat dituntutdari murid, serta sebaik dan secepat apa murid-murid dapat mengerti dan mengenal bahan pengajaran. Untuk lebih menunjukkan betapa pentingnya Sasaran belajar bagi pekerjaan dan tugas pengajar, pada akhir Bab ini akan disebutkan kembali hal-hal penting yang berhubungan dengan Sasaran belajar.

Apa syarat-syarat khusus untuk Sasaran Belajar?
Suatu sarana belajar harus memenuhi 4 syarat sebagai berikut:

1. Tujuan tersebut menjelaskan kelakuan apa yang harus dapat dilakukan oleh murid setelah pelajaran atau kuliah diberikan.

2. Tujuan tersebut harus menunjukkan tarhadap bahan pelajaran atau bahan kuliah apa murid harus melaksanakan kelakuan yang dimaksud.

3. Tujuan tersebut harus menunjukkan kapan hasil pelajaran itu harus dapat tercapai.
4. Tujuan tersebut harus menunjukkan sarana apa yang harus digunakan untuk mencapai hasil.

Mengapa Sarana Belajar itu amat penting?

1. Membantu pengajar untuk:
· Menyusun jalan ke luar untuk menjalankan proses belajar.
· Menyusun tugas-tugas latihan sebagai aktivitas yang akan diberi kepada murid atau mahasiswa.
2. Menjelaskan kepada murid, apa yang harus mereka lakukan,
3. Memudahkan pengajar menyusun pernyataan atau soal ujian/tentamen.
4. Menunjukkan hasil yang akhirnya dapat dicapai oleh pengajar maupun murid.

BEBERAPA MACAM TARAF BERFIKIR

Sebagaimana telah penulis katakan dalam bab terdahulu, seorang pengajar perlu memperhatikan beberapa ketentuan bila ia hendak menetapkan tujuan pelajaran atau tujuan kuliah. Ia harus mempelajari sejauh mana ia boleh menuntut sesuatu dari murid-muridnya, serta seberapa besar kemampuan yang ada dalam diri murid. Di situ pengajar memikirkan dua macam ketentuan seperti berikut:

1. Tingkat kesulitan

Hal ini berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam arti umum. Untuk memperjelas masalahnya, sebagai contoh murid berusia 17 tahun dapat dituntut untuk melempar bola kecil sejauh 60 meter. Tetapi murid berumur 8 tahun sudah dapat dipastikan tidak dapat melakukan itu. Untuk semua tujuan yang pengajar tetapkan perlu memperhitungkan kemampuan murid sesuai dengan usia mereka.

2. Tingkat kemampuan berfikir.

Ketentuan kedua yang tidak kurang pentingnya untuk diperhitungkan oleh pengajar adalah tingkat kamampuan berfikir murid. Seorang mahasiswa sering kali dipaksa untuk memecahkan sendiri masalah atau tantangan tertentu. Tetapi seorang murid berumur 9 tahun tentunya belum dapat secara terus-menerusmelakukan hal yang serupa. Dengan kata lain, pengajar perlu memperhatikan tingkatkemampuan berfikir murid sesuai dengan hasil proses belajar yang pernah mereka alami.

Selanjutnya akan diuraikan tuntutan apa saja yang boleh diajukan terhadap murid. Proses belajar tidak seluruhnya sulit. Proses yang satu memerlukan banyak kerja pikir, sedangkan proses yang lain hanya membutuhkan sedikit saja. Untuk membantu pengajar agar dapat menentukan tuntutan secara tepat. Bab ini akan menyajikan uraian tentang beberapa macam taraf berfikir yang ada. Ssedangkan hal yang disebut sebagai ketentuan nomor satu yaitu, tingkat kesulitan, tidak akan dibahas dalam Bab ini.

Tuntutan pengajar sering kali tidak memenuhi terhadap permintaan murid. Bukan dalam hal jumlah pekerjaan yang dibebankan pada mereka, melainkan dalam tingkat kesulitan dalam pekerjaan itu. Pengajar perlu meneliti diri sendiri, apakah ia menugaskan murid-muridnya untuk melakukan kerja pikir secara cukup atau hanya menugaskan mereka untuk belajar begitu saja. Berikut ini akan kita bahas dahulu tentang taraf-taraf berfikir. Kemudian akan dijelaskan tuntutan apa yang dapat dikenakan oleh pengajar terhadap murid.

Seorang pengajar memberikan serangkaian kuliah atau kursus di perguruan tinggi. Disitu ia menguraikan banyak hal yang harus di ingat oleh mahasiswanya. Akhirnya, setelah kuliah selesai diberikan, pengajar dapat mengadakan tentamen. Ia mengajukan sejumlah pertanyaan untuk menjajaki sejauh mana mahasiswa dapat mengingat bahan yang pernah di ajarkan. Mahasiswa yang dapat memproduksi atau mengungkapkan kembali apa yang pernah ia dengar, akan memperoleh nilai tinggi. Dapat di pastikan beberapa orang bisa memperoleh nilai tinggi. Hanya mereka yang tidak membuat catatan atau yang tidak mempelajari catatan mereka sebelum tentamen akan memperoleh angka kurang baik.

Bila hasil tentamen baik tentu pengajar akan dengan bangga menceritakan kepada rekan-rekannya, bahwa tugasnya telah berjalan secara memuaskan. Namun pengajar tersebut melupakan suatu hal. Ia telah mengajar mahasiswa dengan cara seperti mengajar murid-murid sekolah dasar, karena ia hanya menuntut mahasiswanya agar mengingat hal yang telah ia uraikan saja. Padahal tuntutan terhadap mahasiswa harus dengan norma yang lebih tinggi. Seorang pengajar di perguruan tinggi harus dapat mendorong mahasiswanya agar mereka melakukan suatu bentuk belajaryang lebih tinggi serta cara berfikir yang lebih sesuai. Selama masa pendidikan mahasiswa harus dibimbing dan di latih sedemikian rupa, sehingga akhirnya mereka memiliki kemampuan untuk memecahkan sendiri masalah-masalah yang mereka hadapi.

Baiklah kita tinjau secara teoritis tentang apa artinya “pengetahuan”. Ada pengetahuan yang bersifat pengetahuan factual (factual knowledge) dan pengetahuan mengenai tahap-tahap perilaku seseorang (procedural knowledge). Seorang pengajar yang hanya mengajar tentang fakta (nama ibu kota, tahun perang dunia kedua mulai, apa bahan bakar untuk mesin diesel dan sebagainya) tidak menolong muridnya untuk mencapai suatu proses belajar. Dalam suatu proses belajar kualitas srtuktur prilaku harus di ubah. Ini berarti perluasan terhadap factual knowledge disamping harus mengadakan reorganisasi terhadap procedural knowledge.

Karena proses belajar baru akan berhasil setelah procedural knowledge disusun kembali. Mahasiswa harus belajar menggunakan berbagai taraf berfikir, pengajar perlu mempertimbangkan hal tersebut. Hanya reproduksi atau pengungkapan kembalisaja tidak cukup. Setiap saat dosen harus selalu ingat, bahwa ia mengajar mahasiswa yang hendak belajar berfikir sendiri. Seseorang yang hendak menyelesaikan studinya diperguruan tinggi belum tentu tahu semua hal. Hal itu jelas tidak mungkin dan bukan merupakan suatu keharusan. Tetapiia harus memiliki kemampuan berfikir secara tepat dan berdaya guna untuk memecahkan masalah.kalau ia tidak memiliki kemampuan itu, maka ia pun tidak akan dapat memecahkan setiap masalah secara tepat. Akibatnya ia tidak dapat bekerja dengan hasil yang berguna.

Setiap pemecaahan masalah memerlukan taraf berfikir paling tinggi dan sukar. Untuk mengetahui latihan dan macam tugas yang dapat mendorong mahasiswa berfikir sampai taraf tertentu, pengajar perlu mengetahui macam taraf berfikir yang ada. Taraf-taraf berfikir itu merupakan hasil penemuan dan penelitian yang dilakukan oleh para psikologi dalam masalah belajar. Mereka pun telah menyusun klasifikasinya, yang mereka sebut ”taxonomi”.

JENIS PARAGRAF DAN PENGEMBANGANNYA

Adapun yang melatarbelakangi masalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas sesuai dengan mata kuliah yang sedang dipelajari dan ditugaskan oleh dosen pembimbing dengan judul “Jenis-jenis Paragraf dan Pengembangannya”.

Jenis paragraf ada perkembangannya yaitu tergantung pada penempatan kalimat topik, bentuk kalimat topik, dan cara mengembangkan kalimat topik. Berdasakan hal itu, terdapat sepuluh jenis paragraf, yakni paragraf deduksi, induksi, campuran, perbandingan, pertanyaan, sebab akibat, contoh, perulangan, definisi, dan deskriptif.

Rumusan Masalah, Sesuai dengan latar belakang permasalahan yang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas sebagai berikut:

  1. Apa jenis-jenis paragraf ? 
  2. Bagaimana pengembangan paragrafn? 
  3. Bagaimana tekhnik pengembangan paragraf? 

Adapun tujuan pembahasan makalah adalah untuk mengetahui bagaimana perkembangan paragraf dan mengetahui jenis-jenis paragraf dalam bahasa Indonesia.

D.Manfaat dan Kegunaan Pembahasan

Dalam pembahasan makalah ini ada beberapa manfaat dan kegunaan diantaranya untuk mengetahui jenis-jenis paragraf dan pengembangannya, sehingga kita bisa mengaplikasikannya dalam pembuatan artikel, makalah,karangan, dan yang lainnya

A. Jenis Paragraf

1.Paragraf Deduksi

Deduksi berarti berfikir dari umum ke khusus. Paragraf ini penempatan kalimat topiknya selalu diawal.

Contoh:

Janji-janji yang disampaikan oleh calon presiden pada waktu kampanye pilkada (pemilihan kepala daerah) amat menarik. Pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme dikalangan pejabat daerah merupaan prioritas utama yang akan segera dilaksanakan untuk menjamin terselenggaranya pemerintahan daerah yang bersih dan berwibawa. Kesejahteraan petani, nelayan, dan buruh serta karyawan baik negeri maupun swasta akan ditingkatkan. Anggaran pendidikan pun akan dinaikkan sampai dua kali lebih besar dari pada anggaran sebelumnya. Gedung-gedung sekolah dan peralatannya akan diperbaharui dan ditambah. Selain itu, tidak akan ada lagi anak yang tidak mampu bersekolah karena SPP dan buku murid-murid SD/MI sampai SMA/MA yang berasal dari keluarga kurang mampu akan ditanggung oleh pemerintah daerah.

2. Paragraf Induksi

Paragraf yang pengembangannya dimulai dari pemaparan bagian-bagian kecil atau hal-hal yang konkret hingga sampai kepada suatu simpulan yang bersifat umum disebut paragraf induksi. Induksi berarti cara berfiikir dari khusus ke yang umum. Pada paragraf seperti ini penempatan kalimat topiknya berada diakhir paragraf.

Contoh:

Budi tinggal bersama ibunya yang telah menjanda disebuah rumah dekat masjid. Setelah ibunya meninggal, dia diajak ke rumah pamannya di sebuah perkampungan kumuh yang sangat jauh dari masjid. Anak-anak muda di kampung itu terkenal dengan kenakalannya dan mereka senang bergerombol di mulut-mulut gang sambil menenggak minuman keras dan mengganggu orang-orang yang lewat. Akhirnya Budi pun terpengaruh menjadi pemabuk dan suka berkelahi. Dia tidak segan-segan melukai seseorang ketika mabuk dan sering terlibat aksi tawuran antarkelompok remaja kampung itu. Kini Budi meringkuk dalam tahanan polisi, padahal dahulu ia seorang anak yang baik dan rajin shalat.

3.Paragraf Campuran

Dalam paragraf campuran penempatan kalimat topiknya di tengah paragraf. Paragraf ini di mulai oleh kalimat pengembang setelah kalimat atau kata transisi kalau ada. Setelah itu, kalimat topik di kembangkan lagi dan diakhiri oleh kalimat penegas kalau diperlukan.

Contoh:

Dia pandai bergaul dan menyesuaikan diri sehingga setiap orang amat suka bersahabat dengannya. Dalam berpakaian, dia tidak pernah mencari perhatian orang lain dan selalu menyesuaikan dengan lingkungan tempat dia tinggal. Dia pandai berhias diri tetapi tidak pernah memakai make up yang berlebihan. Pantas laila menjadi idaman setiap jejaka. Di samping itu,dia pun rajin mengaji dan tidak pernah meninggalkan shalat yang lima waktu atau tes yang sesuai dengan anjuran gurunya, prestasi setiap semesternya selalu meningkat dan sampai sekarang dia bertahan pada peringkat pertama dikelasnya.

4.Paragraf Perbandingan

Pengembangan Paragraf perbandingan dilakukan dengan cara membanding-bandingkan kalimat topik. Misalnya, kalimat topik mengenai hal yang bersifat abstrak dibandingkan dengan hal yang bersifat konkret dengan cara merinci perbandingan tersebut dalam bentuk yang konkret atau bagian bagian kecil.

Contoh:

Sifat orang jahat sama halnya dengan lalat. Lalat biasa hinggap di tempat-tempat yang kotor dan selalu makan makanan yang menjijikan. Kemana saja dia pergi pasti pasti membawa penyakit. Begitu juga orang jahat biasa tinggal di tempat-tempat maksiat dan biasa makan makanan yang diharamkan. Kemana pun dia pergi pasti bikin membuat keonaran yang meresahkan warga.

5.Paragraf Pertanyaan

Kalimat topik dalam paragraf pertanyaan berbentuk kalimat tanya dan kalimat-kalimat pengembangan dalam paragraf jenis ini juga biasa merupakan jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut.

Contoh:

Siapakah Osama Bin Laden itu? Dia seorang bangsa Arab anak pengusaha terkenal di negeri tersebut. Dia seorang politis Muslim yang menentang pemerintahan kerajaan yang di Arab, akibat pertentangannya dengan pemerintah negeri itu, dia lari ke Afganistan dan memimpin sebuah organisasi yang bernama Al-Qaeda. Selanjutnya, Dia dituduh Amerika Srikat sebagai dalang teroris Internasional yang menyerang dan menghancurkan Petagon dan WTC. Oleh karena itu , dia menjadi salah seorang daftar pencarian orang di Negara Amerika Serikat.

6. Paragraf Sebab-Akibat

Kalimat topik paragraf sebab-akibat merupakan sebab atau akibat peristiwa-peristiwa atau sifat objek yang dipaparkan dalam kalimat pengembang. Jika kalimat topiknya berupa sebab maka kalimat pengembangnya harus merupakan akibat dari sebab itu. Sebaliknya jika kalimat topiknya berupa akibat, kalimat pengembangnya harus merupakan sebab-sebab dari akibat itu. Contoh :

Pak Ahmad sangat telaten merawat tanamannya. Setiap petak sawah yang akan ditanami padi selalu diperiksa tingkat keasamannya. Kalau sudah diketahui tingkat keasamannya, beliau taburi kapur atau kalsit secukupnya dan dibiarkan beberapa hari sebelum diaduk. Ketika menanam, beliau selalu mengikuti aturan dari PPL (Penyuluhan pertanian) baik jarak dari rumpun ke rumpun maupun jumlah pohon yang ditanam pada setiap rumpun. Dalam hal pemupukan, selain menggunakan pupuk organik buatan sendiri, beliau juga menggunakan pupuk Urea,TSP,dan KCL dengan dosis sesuai dangan aturan. Setiap pagi beliau pergi ke sawah untuk mengairi tanaman padinya dengan air yang dialirkan dari irigasi. Hama-hamanya, baik hama tikus maupun ulat penggerek batang selalu diberantas. Selain itu, Pa Ahmad selalu berdoa agar hasil panennya melimpah. Maka tak mengherankan apabila panen padi pak Ahmad tahun ini sangat melimpah.

7. Paragraf Contoh

Paragraf contoh adalah pengembangan kalimat topik dalam sebuah paragraf dengan menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh itu dipakai untuk memperjelas maksud dalam kalimat topik.

Contoh :

Proses pengurusan surat-surat yang paling mudah ialah dengan cara “Menembak” atau ”Lewat belakang” (Tidak melalui prosedur yang berlaku). Contohnya waktu membayar pajak mobil, saya tidak mengurus sendiri, tetapi menyuruh calo yang biasa mangkal disana. Beresnya cepat sekali. Contoh lain waktu adik saya akan membuat SIM. Dia hanya memberikan uang da salinan KTP kepada calo lalu dia dipanggil untuk dipotret. Beberapa menit kemudian, SIM pun selesai. Selain itu waktu membuat akta kelahiran anak, saya hanya memerlukan waktu menunggu satu jam dengan cara memberi uang pelicin alakadarnya. Sementara itu, orang lain harus menunggu akta kelahiran anaknya beberapa jam setelah menyerahkan formulir karena tidak memberi uang pelicin.

8. Paragraf Perulangan

Pengembangan paragraf perulangan dilakukan dengan cara mengulang kata atau kelompok kata. Pengembangan paragraf perulangan juga bisa dilakukan dengan cara mengulang bagian-bagian kalimat yang penting. Contoh :

Ada kaitan yang kuat antara makan, hidup dan berpikir pada manusia. Setiap manusia perlu makan, makan untuk hidup. Hidup tidak hanya unuk makan. Akan tetapi hidup manusia mempunyai tujuan. Tujuan hidup berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainya, tetapi ada persamaannya yakni salah satu diantaranya melangsungkan keturunan. Keturunan merupakan penerus bangsa yaitu generasi yang lebih baik dan tangguh. Tangguh menghadap segala tantangan dan rintangan. Rintangan dan tantangan membuat manusia berpikir. Berpikir bukan sembarang berpikir tetapi berpikir jernih utuk memecahkan berbagai persoalan hidup dan kehidupan (Taringan,1981:34).

9. Paragraf Definisi

Dalam paragraf definisi kalimat topiknya merupakan sesuatu pengertian atau istilah yang memerlukan penjelasan secara panjang lebar agar maknanya mudah dipahami oleh pembaca. Alat untuk memperjelas pengertian itu ialah kalimat pengembang.

Contoh :

Sosiolinguistik adalah ilmu antardisipliner yakni sosiologi dan lingustik. Sosiologi adalah kajian yang objektif dan ilmiah bagi manusia didalam masyarakat. Linguistik adalah ilmu tentang bahasa. Sosiolinguistik merupakan subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam penggunaan bahasa dalam pergaulan sosial. Sosiolinguistik mengkaji bahasa dan pemakaiannya dalam sosial budaya. Selain itu, sosiolinguistik dalam pengembangan subsidang linguistik memfokuskan penelitian pada variasi ujaran dalam konteks sosial. Berdasarkan keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa: “Sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang bersifat interdisipliner dengan sosiologi dengan penelitian hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor sosial didalam suatu masyarakat”.

10. Paragraf Deskriptif

Kalimat topik dalam paragraf deskriptif tidak tersurat seperti pada paragraf-paragraf yang lain. Kalimat topik paragraf ini tersirat pada semua kalimat pengembang. Kita akan mengetahui kallimat topik setelah selesai membaca paragraf karena kalimat topik paragraf deskriptif merupakan simpulan semua paparan dalam paragraf.

Contoh :

Waktu itu jam 16.00, wasit mulai membunyikan peluitnya tanda pertandingan dimulai. Kedua kesebelasan sibuk mengatur strategi untuk menyerang dan mempertahankan gawangnya dari serangan lawan. Permainan cukup seru karena kedua keebelasan kekuatan dan semangatnya cukup seimbang. Penonton bersorak-sorai mendukung kesebelasan kesayangannya masing-masing. Tidak lama kemudian, salah satu kesebelasan ada yang “merobek gawang” lawannya. Pendukung yang menang mengejek habis-habisan kesebelasan yang kalah sampai mengeluarkan kata-kata “kotor”. Pendukung yang kalah merasa tidak enak sehingga terjadilah pertengkaran antarpendukung kesebelasan. Bukan hanya berperang mulut, melainkan juga mereka saling melempar dan berkelahi. Akhirnya, sebelum pertandingan selesai, wasit terpaksa membunyikan peluit panjangnya tanda pertandingan berakhir.

B.Teknik Berlatih Mengembangkan Paragraf

1.Pengembangan Paragraf

Pengarang itu adalah usaha mengembangkan beberapa kallimat topik. Dengan demikian, dalam karangan itu kita harus mengembangkan beberapa paragraf demi paragraf. Oleh karena itu, kita harus hemat menempatkan kalimat topik. Satu paragraf hanya mengandung sebuah kalimat topik.

Contoh dibawah ini memperlihatkan perbedaan paragraf yang tidak hemat dan paragraf yang hemat akan kalimat topik. Paragraf yang tidak hemat ini mengandung tiga buah kalimat topik.

Penggemar seruling buatan Frederik Morgan bersedia menunggu lima belas tahun asal memperoleh sebuah seruling buatan Morgan. Pertengahan bulan Juli Morgan menghentikan pemesanan seruling karena terlalu banyak pihak yang memesan seruling buatannya. Memang dewasa ini Morgan tergolong ahli pembuat instrumen tiup ahli dunia.

Perhatikan Paragraf berikut yang merupakan hasil pengembangan kalimat-kalimat di atas.

Penggemar seruling buatan Frederick Morgan bersedia menunggu lima belas tahun asal memperoleh seruling buatan Morgan. Pernyataan tersebut dikemukakan oleh beberapa penggemar seruling Eropa. Hal ini terjadi setelah Morgan mengumumkan bahwa pemesanan serulingnya ditutup.

Pada Pertengahan bulan Juli Morgan menghentikan pemesanan seruling karena terlalu banyak pihak yang memesan seruling buatannya. Jika seruling dibuat terus menerus Morgan harus bekerja selama 14 tahun guna memenuhi pesanan tersebut. Seruling buatan Morgan sangat berperan pada musik di dunia Eropa sejak tahun 1950.

Memang dewasa ini Morgan tergolong ahli pembuat instrumen tiup ahli dunia. Beberapa ahli lainnya adalah Hans Caolsma (Utrecht), Mortin Skovroneck (Bremen), Fredrick Van Huene (Amerika Serikat),Klaus Scheele (Jerman), serta Shigchoru Yamaoka dan Kuito Kinoshito (Jepang).

Kalau kita amati, ternyata paragraf-paragraf yang terakhir lebih ”berbicara” dari pada paragraf sebelumnya, yang mengandung tiga buah kalimat topik. Paragraf terakhir hemat akan kalimat topik, tetapi kreatif dengan kalimat-kalimat penjelas.

2.Teknik Pengembangan Paragraf

Teknik pengembangan paragraf secara garis besar ada dua macam. Pertama, dengan menggunakan “ilustrasi”. Apa yang dikatakan kalimat topik itu dilukiskan dan digambarkan dengan kalimat-kalimat penjelas sehingga di depan pembaca tergambar dengan nyata apa yang dimaksud oleh penulis. Kedua, dengan “analisis”. Apa yang dinyatakan kalimat topik dianalisis secara logis sehingga pernyataan tadi merupakan sesuatu yang meyakinkan.

Di dalam praktik, kedua teknik diatas dapat di rinci lagi menjadi beberapa cara yang lebih praktis, di antaranya (a) dengan memberikan contoh, (b) dengan menampilkan fakta-fakta, (c) dengan memberikan alasan-alasan dan (d) dengan bercerita.

a. Dengan memberikan Contoh/Fakta

Perhatikan paragraf berikut:

Kegiatan KUD di desa-desa yang belum dewasa sering di campuri oleh tengkulak-tengkulak, seperti di Desa Kioro. Semua kegiatan KUD selalu di pantau oleh tengkulak-tengkulak. Kadang-kadang bukan memantau lagi namanya, tetapi langsung ikut serta menentukan harga gabah penduduk yang akan di jual ke koperasi. Tengkulak itulah yang mengatur pembagian uang yang ditangani oleh ketua koperasi,mengatur pembelian padi, dan sebagainya. Demikian pula halnya dalam menjual kembali ke masyarakat. Harga padi selalu ditentukan oleh tengkulak itu. Dari hasil penjualan ini tengkulak meminta upah yang cukup besar dari ketua koprasi.

Dalam mengunakan cara ini, penulis hendaknya pandai memilih contoh-contoh yang umum, contoh yang representatif, yang dapat mewakili keadaan yang sebenarnya, dan bukan contoh yang dicari-cari.

b. Dengan Memberi Alasan-Alasan

Dalam cara ini, apa yang dinyatakan oleh kalimat topik dianalisis berdasarkan logika, dibuktikan denga uraian-uraian yang logis dengan menjelasakan sebab-sebab mengapa demikian .

Perhatikan paragraf berikut.

Membiasakan diri berolahraga setiap pagi banyak manfaatnya bagi seorang pegawai. Olahraga itu sangat perlu untuk mengimbangi kegiatan duduk berjam-jam dibelakang meja kantor. Kalau tidak demikian, pegawai iu akan menderita beberapa penyakit karena tidak ada keseimbangan kerja otak dan kerja fisik. Kalau pegawai itu menderita sakit, berarti membengkalaikan pekerjaan kantor yang berarti pula melumpuhkan kegiatan negara.

c. Dengan Bercerita

Biasanya pengarang mengungkapkan kembali peristiwa-peristiwa yang sedang atau sudah berlalu apabila ia mengembangkan paragraf dengan cara ini. Dengan paragraf itu, pengarang berusaha membuat lukisannya itu hidup kembali.Perhatikan paragraf berikut :

Kota Wonosobo telah mereka lalui. Kini jalan lebih menanjak dan sempit berliku-liku. Bus meraung-raung ke dataran tinggi Dieng. Di samping kanan jurang menganga, tetapi pemandangan di kejauhan adalah hutan pinus menyelimuti punggung bukit bekas-bekas kawah yang memutih. Pemandangan itu melalaikan goncangan bus yang tak henti-hentiya berkelak-kelok. Sesekali atap rumah berderet kelihatan di kejauhan.

Bagian paragraf menurut teknik pemaparannya:

Paragraf menurut teknik pemaparannya dapat dibagi dalam empat macam, yaitu deskriptif, ekspositoris, agumentatif, dan naratif.

a.Deskriptif

Paragraf deskriptif disebut juga paragraf melukiskan (lukisan). Paragraf ini melukiskan apa yang terlihat di depan mata. Jadi, paragraf ini bersifat tata ruang atau tata letak. Pembicaraannya dapat berurutan dari atas ke bawah atau dari kiri kekanan. Dengan kata lain, deskriptif berurusan dengan hal-hal kecil yang tertangkap oleh pancaindra.

Contoh sebuah paragraf deskriptif:

Pasar tanah abang adalah sebuah pasar yang sempurna. Semua barang ada di sana. Di toko yang paling depan berderet toko sepatu dalam dan luar negeri. Di lantai dasar terdapat toko kain yang lengkap dan berderet-deret. Di samping kanan pasar terdapat warung-warung kecil penjual sayur dan bahan dapur. Disamping kiri ada pula berjenis-jenis buah-buahan pada bagian belakang kita dapat berpuluh-puluh pedagang daging. Belum lagi kita harus melihat lantai satu, dua, dan tiga.

b. Ekspositoris

Paragraf Ekspositoris disebut juga paragraf paparan. Paragraf ini menampilkan suatu objek. Tertuju pada satu unsur saja. Penyampainnya dapat menggunakan perkembangan analisis atau keruangan.

Contoh Paragraf Ekspositoris:

Pasar Tanah Abang adalah pasar yang kompleks. Di lantai dasar terdapat sembilan puluh kios penjual kain dasar. Setiap hari rata-rata terjual tiga ratus meter untuk setiap kios. Dari data ini dapat diperkirakan berapa besarnya uang yang masuk ke kas DKI dari Pasar Tanah Abang.

c. Argumentatif

Paragraf argumentatif sebenarnya dapat dimasukkan ke dalam ekspositoris. Paragraf argumentatif disebut juga persuasi. Paragraf ini lebih brsifat membujuk atau menyakinkan pembaca terhadap suatu hal atau objek. Biasanya, paragraf ini menggunakan perkembangan analisis.

Contoh Paragraf Argumentatif:

Dua tahun terakhir, terhitung sejak Boeing B-737 milik maskapai penerbangan Aloha Airlines celaka, isu pesawat tua mencuat ke permukaan. Ini bisa dimaklumi sebab pesawat yang badannya koyak sepanjang 4 meter itu sudah dioperasikan lebih dari 19 tahun. Oleh karena itu, cukup beralasan jika orang menjadi cemas terbang dengan pesawat berusia tua. Amankan? kalo memang aman, lalu bagaimana cara merawatnya dan berapa biayanya sehingga ia tetap nyaman di naiki?

d. Naratif

Karangan narasi biasanya dihubung-hubungkan dengan cerita. Oleh sebab itu, sebuah karangan narasi atau paragraf narasi haya kita temukan dalam novel, cerpen, atau hikayat.

Contoh Paragraf Naratif:

Malam itu ayah kelihatan benar-benar marah. Aku sama sekali dilarang berteman dengan Syairun. Bahkan ayah mengatakan bahwa aku akan dia antar dan dijemput ke sekolah. Itu semua gara-gara Selamat yang telah memperkenalkan aku dengan Siti.

SIMPULAN, Jadi pada perkembangan paragraf dan jenis-jenisnya ada beberapa perkembangan atau perubahan yang sudah lazim di lakukan dalam bahasa indonesia, karena pada dasarnya bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat penting bagi para pendidik / pengajar. Bahasa merupakan alat komunikasi antar individu maupun kelompok dan merupakan kebanggan bangsa Indonesia dalam pembahasan makalah ini kami melakukan pembahasan secara lebih dalam lagi soal paragraf dan perkembangan paragraf yaitu dimana dalam pengembangan paragraf dan pengembangannya dan jenis-jenis paragraf mempunyai beberapa makna diantaranya ada paragraf Deduksi, induksi, campuran, perbandingan, pertanyaan, sebab-akibat, contoh, dan paragraf perulangan. Dimana masing-masing paragraf mempunyai makna-makna tertentu, semoga dengan kami membahas makalah ini menjadi tambah wawasan kita tentang bahasa indonesia dan lebih cinta kepada bahasa kita sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zaenal. 2003. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.
Keraf, Gorys.1982. Eksposisi dan Deskripsi. Ende Plores: Nusa Indah.
Muttaqin, Zaenal. dkk. 2004. Kaidah dan Pelatihan Bahasa Indonesia.Bandung: Insan Mandiri.
Tarigan, Djago. 1996. Membina Keterampilan Menulis Paragraf danPengembangannya. Bandung: Angkasa.
Wahyu, Cecep. dkk. 2009. Kaidah dan Pelatihan Bahasa Indonesia.Bandung: Insan Mandiri.

Lampiran :

1.Paragraf Deduksi dan Induksi

Deduksi
Arang aktif ialah sejenis arang yang diperoleh dari suatu pembakaran yang mempunyai sifat tidak larut dalam air. Arang ini dapat diperoleh dari pembakaran zat-zat tertentu, seperti ampas tebu, tempurung kelapa, dan tongkol jagung. Jenis arang ini banyak digunakan dalam beberapa industri pangan atau non pangan. Industri yang menggunakan arang aktif adalah industri kimia dan farmasi, seperti pekerjaan memurnikan minyak, menghilangkan bau yang tidak murni, dan menguapkan zat yang tidak perlu.

Induksi
Dua anak kecil ditemukan tewas di pnggir jalan Jenderal Sudirman. Seminggu kemudian seorang anak wanita hilang ketika pulang dari sekolah. Sehari kemudian polisi menemukan bercak-bercak darah di kursi belakang mobil John. Polisi juga menemukan potret dua orang anak yang tewas di jalan Jenderal Sudirman di dalam kantung celana John. Dengan demikian, John adalah orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban tentang hilangnya tiga anak itu.
2. Paragraf Tersurat

Pasar Baru adalah sebuah pasar yang sempurna. Semua barang ada di sana. Di toko yang paling depan berderet toko sepatu dalam dan luar negri. Di lantai dasar terdapat toko kain yang lengkap dan berderet-deret. Di samping kanan pasar terdapat warung-warung kecil penjual sayur dan bahan dapur. Disamping kiri ada pula berjenis-jenis buah-buahan pada bagian belakang kita dapat berpuluh-puluh pedagang daging. Belum lagi kita harus melihat lantai satu, dua, dan tiga.

3.Paragraf Bersama

Maya pantas disebut anak yang baik. Dia selalu patuh pada orang tuanya. Dia juga sangat rajin dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dia anak yang sholehah. Siapapun yang dia temui, dia selalu memberikan senyuman pada orang itu. Selain itu dia termasuk anak teladan di sekolahnya. Dia sangat disukai oleh teman-teman dan gurunya.

4.Paragraf Pertanyaan

Siapakah Muhammad Ali As-Shobuni? Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Jamil As-Shobuni. Beliau lahir di kota Helb Syiria pada tahun 1928 M. Setelah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan di Syiria, beliau pun melanjutkan pendidikannya di Mesir, dan merampungkan program magisternya di universitas Al-Azhar mengambil tesis khusus tentang perundang-undangan dalam islam pada tahun 1954 M. Saat ini bermukim di Mekkah dan tercatat sebagai salah seorang staf pengajar tafsir dan ulumul Qur’an di fakultas Syari’ah dan Dirosat Islamiyah universitas Malik Abdul Aziz Makkah. Beliau juga dikenal sebagai pakar ilmu Al-Qur’an, Bahasa Arab, Fiqh, dan Sastra Arab. Abdul Qodir Muhammad Shalih dalam “Al-Tafsir wa al-Mufassirun fi al-A’shri al-hadits” menyebutnya sebagai akademisi yang ilmiah dan banyak menelurkan karya-karya bermutu”. Di antara karya-karya beliau: “Al-Mawarits fi al-Syari’ah al-Islamiyyah”, “ al-Nubuwwah wa al-Anbiya”, “min Kunuz as-Sunnah”, “Risalah as-Shalah”, “Rowai’u al-Bayan fi Tafsiri Ayat al- Ahkam fi al-Qur’an, “Shofwah at-Tafasir”.

5. Menganalisis Gambar

Pada gambar ini terlukis keagungan-Nya yang Maha indah, saat kelambu merah menyelimuti nusantara, burung-burungpun melipatkan sayapnya, terdengar sorak-sorai nyanyian alam terlantun, seakan menghapus seluruh keluh-kesah kehidupan, yang telah mengotori tubuhku, selang satu spasi pekatnya malam ini, terhiasi ribuan cahaya yang masing-masing mereka mengenggam harapan setiap insan. Tuhan, semoga lembaranku ini kan menjadi penghias napasku kelak.”Amin”.

6. Paragraf dengan cara mendiskripsikan hasil pengalaman

Pada hari minggu tanggal 18 oktober seluruh Mahasiswa seluruh Indonesia berkumpul di stadion senayan, akan tetapi semua ini Cuma mimpi soalnya stadionnya dijaga ketat oleh polisi metrojaya, karena tidak diizinkan oleh kepolisian, pada kesempatan itu mahasiswa ingin menyuarakan suara rakyat karena pemerintah sekarang banyak yang memihak kepada pihak asing. Oleh sebab itu mahasiswa memperjuangkan rakyat lapisan bawah karena nasibnya sudah terpuruk di garis kemiskinan.

7. Paragraf Mengembangkan Pribahasa

Satu kali berdayung tiga pulau terlewati mungkin itu pribahasa yang tepat bagi seorang mahasiswa yang kuliah di UIN, karena itu orang yang kuliah di UIN selain dapat ilmu umum, ilmu agama juga pasti mendapatkannya, karena berbasia pada studi islam dibandingkan dengan perguruan-perguruan negeri yang lainnya. Karena mungkin UIN ini adalah salah satu Universitas yang ada di Indonesia yang berbasis pada studi islam.

NB: Tulisan ini dari makalah ektika kuliah beberapa tahun lalu. Apipah sudah lupa dimana yang salahnya, diharapkan jangan sekedar copas saja harus dipelajari lagi dari sumber-sumber lain. buku sumber sudah ada di bagian daftar pustaka.

Makalah Tinjauan Teoritis Tentang Studi Islam

Ini adalah makalah materi tentang Ilmu Kalam, jika anda mengumpulkan makalah seperti ini ada baiknya di teliti terlebih dahulu. Jangan sampai ditanya referensinya dari mana dan ditanyakan bukunya tidak tahu. Sumber dari buku itu lebih bagus, dibawah ini silahkan di rapihkan kembali.
A. Latar Belakang

Study Islam sering kali dikaji diberbagai Negara, terutama dikawasan Australia. Di Australia study Islam tidak hanya dikaji di Universitas tetapi juga dikalangan masyarakat. Di Negara tersebut banyak terdapat organisasi Islam salah satunya adalah The Islamic Society of Victoria. Tujuan utama organisasi tersebut adalah untuk mengungkapkan dampak penting keterlibatan komunitas muslim di Australia

Organisasi-organisasi Islam juga banyak terdapat di kawasan-kawasan lain yaitu: di Timur Tengah, Eropa, Amerika, Asia, Afrika. Orang-orang Islam yang ada di negara-negara tersebut aktif dalam organisasi

B. Rumusan Masalah

  • Apa pengertian Study Islam
  • Tujuan Study Islam
  • Bagaimana Study Islam di Eropa
  • Bagaimana Study Islam di Amerika 
  • Bagaimana Study Islam di Afrika
  • Bagaimana Study Islam di Asia

TINJAUAN TEORITIS TENTANG STUDI ISLAM

A. Pengertian Study Islam

Study Islam di barat dikenal dengan istilah Islamic Studies, secara sederhana dapat dikatakan sebagai usaha untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam. dengan perkataan lain “ usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang seluk beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik berhubungan dengan ajaran, sejarah, maupun praktek-praktek pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang sejarahnya

Usaha mempelajari agama Islam tersebut dalam kenyataannya bukan hanya dilaksanakan oleh kalangan umat Islam saja, melainkan juga dilaksanakan oleh orang-orang diluar kalangan umat Islam. study keIslaman dikalangan umat Islam sendiri tentunya sangat berbeda tujuan dan motifasinya dengan yang dikakukan oleh orang-orang diluar kalangan umat Islam. dikalangan umat Islam, study keIslaman bertujuan untuk mendalami dan memahami serta membahas ajaran-ajaran Islam agar mereka dapat melaksanakan dan mengamalkannya dengan benar. Sedangkan diluar kalangan umat Islam, study keIslaman bertujuan untuk mempelajati seluk beluk agama dan praktek keagamaan yang berlaku dikalangan umat Islam, yang semata-mata sebagai ilmu pengetahuan.

Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pendekatan study keIslaman yang mendominasi kalangan ulama Islam lebih cenderung bersifat subjektif, dan doktrinet.

B. Tujuan Study Islam

  • Untuk mempelajari secara mendalam tentang apa hakikat agama Islam itu, dan bagaimana posisi serta hubungannya dengan agam-agama lain
  • Untuk mempelajari secara mendalam pokok-pokok isi ajaran agama Islam, yang asli, dan bagaimana penjabaran dalam pertumbuhan dan perkembangan budaya dan peradaban Islamnya
  • Untuk mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama Islam yang tetap abadi dan dinamis, dan bagaimana aktualisasinya sepanjang sejarahnya
  • Untuk memahami prinsi-prinsip dan nilai-nilai dasar ajaran Islam, dan bagaiman realisasinya dalam membimbing dan mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern.

Selanjutnya tujuan-tujuan tersebut diharapkan agar study Islam akan bermanfaat bagi peningkatan usaha pembaharuan dan pengembangan kurikulum pendidikan Islam, Sehingga misi Islam dapat terwujud.
PEMBAHASAN
A. Study Islam di Eropa

Di Eropa kajian masalah timur di Universitas terpisah menjadi suatu kedisiplinan abad ke-19. Di Perancis dan Inggris motivasi kajian timur tengah adalah untuk kepentingan politik, karena wilayahnya itu merupakan incaran untuk dijadikan daerah jajahan. Melalui kajian timur tengah pada abad ke-19 tentang sejarah dan bahasanya. Jika mengkaji secara orientalis, mulai perang dunia II kekuasaanya mulai pindah dari Eropa ke Amerika Serikat.

Universitas-universitas di Amerika Serikat dan Kanada, jurusan Religius Studies yang meliputi kajian teks dan ekpresi tingkah laku keberagaman pada abad ke-20. perbandingannya abad ke-19 kajiannya lebih banyak dengan cara polemik namun pada abad ke-20 membuka dialog antar satu sama lain. Islamic Studies yang dilakukan di barat menggunakan pendekatan dan metode sebagai berikut:

  • Metode ilmu-ilmu yang masuk dalam kategori humanistis
  • Metode dalam disiplin theology
  • Metode dari displin ilmu-ilmu sosial

Penganut islam merupakan minoritas di wilayah eropa. Di Eropa Timur, setelah Turki Usmani mengakhiri kekuasaannya, sekian ppuluh kelompok masyarakat Muslim terabaikan oleh sejarah dan terputus dari semiliyar lebih pemeluk islam di seluruh dunia.

Di eropa barat, komunitas muslim di Jerman, Inggris, dan perancis, memang tidak mengalami nasib tragis seperti seperti saudara mereka di Bulgaria. Namun konfrontasi antara komunis minoritas Muslim dan pemerintah,serta interaksi negative dengan masyarakat minoritas selalu ada. Di Jerman, Muslim yang telah ada sejaksekian puluh tahun, relatifhidup damai dan makmur secara ekonomi. Namun mereka selalu gagalmemeasuku sistempendidikan sekuler.

Di Denmark, meskipun pemeluk Islam telah ada sejak 100 tahun dan pemeluknya terus bertambah, mereka memiliki kesulitan mendirikan mesjid. Selalu muncul perlawanan darikelompoksayap kanan dan ancaman penghancuran dan aksivandalis dari masyarakat ultranasionalis.

Di Rumaia, komunitas muslim relative menikmati kemesraan berabad-abad dengan penguasa setempat. Ini terlihat dari mesjid Raja Carol yang masih utuh. Mesjid ini merupakan symbol abadi kemesraan Muslim Rumania dengan rezim masa lalu yang non-muslim.

Di Lithuania,muslim cenderung berkutat dengan persoalan di dalam dirinya. Lithuania tidak bias mengesampingkan peran mereka dalam sejarah Negara itu . Namun komunis Rusia mencaplok Lithuania kedalam federasi Uni Soviet menyebabkan Muslim Lithuania kehilangan semua warisan sejarahnya. Mereka kehilangan bahasa, budaya, dan pemahaman akan keislaman. Ketika komunis runtuh, Lithuania member kekuasaan kepada komunitas muslim dalam menjalankan ibadah mereka. Perubahan politik ini dimanfaatkan oleh orang Muslim sehingga operadaban muslim mulai muncul krmbali. Orang-orang tua Muslim Lithuania mulaimembawa kembali anak-anak mereka ke madrasah dan mushalla,mrngajarka bahasa Tatar,dan memberikan pemahamansejarah eksistensi etnis Tatar du Lithuania.

Jika di Spanyol, Islam masih meninggalkan Alhambra dan Cordova,di Polandia hamper tidak ada bangunan peninggalan Muslim Tatar yang lebih awal datag dari padaTurki Usmani. Namun Desa Bohoniki dan Kruzhniany masimenyimpan menyimpan keturunan Muslim Tatar,lengkap dengan mesjid kayu yang berarsitektur khas nenek moyang mereka, dan makam-makam para ulama dengan batu nisa bertuliskan huruf arab. Di London, studi Islam digabungkan dalam school of oriental and african studies, fakultas mengenai studi ketimuran dan afrika, yang memiliki berbagai jurusan bahasa dan kebudayaan asia dan afrika. Salah satu progrm studi didalamnya adalah program MA tentang masyarakat dan budaya Islam yang dapat dilanjutkan kejenjeng doktor.

Di Belanda, menurut salah satu ilmuwan disana menyatakan bahwa studi Islam di Belanda sampai setelah perang dunia II, masih merupakan refleksi dari akar anggapan seperti Islam bermusuhan dengan kristen, dan pandangan Islam sebagai agama yang tidak patut di anut. Baru belakangan ada sifat yang lebih objektif seperti apa yang tertulis dalam berbagai brosur, studi-studi Islam dibelanda lebih menekankan kepada kajian Islam di Indonesia tertentu, kurang menekankan pada aspek sejarah Islam itu sendiri.

B. Studi Islam di Afrika

Kawasan Afrika

Afrika sebagai bagian dari perhatian para peneliti tentang keislaman disebabkan ada sebagian dari Negara-negara benua ini yang warganya beragama islam. Bahkan, dari benua ini pula muncul pemikir-pemikir Islam besar sejak zaman klasik hingga modern. Ibn Khaldun, bapak sosiolog islam pertama, adalah intelektual muslim yang pernah hidup di Maroko. Dialah orang pertama yang menelurkan teori-teori dasar sosiologi yang dituangkan dalam sebuah karya besar yang diberi judul Muqaddimah (premis-premis). Buku ini telah dikomentari oleh berbagai kalangan pakar disipli ilmu-ilmu social (social scenes) di dunia, baik Barat maupun Timur.

Di abad modern ini kita dapat menemukan pemikiran-pemikiran yang cukup brilian dari para pakar keislaman yang berasal dari benua hitam ini. Muhammad Arkoun dan Mahmud Muhammad Thaha adalah dua contoh dari sekian banyak nama tokoh pemikir yang lainnya.

Dalam sejarahnya, Sudan Timur memisahkan diri dari Sudan Tengah. Sudan Timur berutang kepada fakta bahwa Islam menyebar sampai ke Sudan Timur dari Mesir. Kemudian Islam disebar hampir ke setiap daerah oleh Arab keturunan. Islam disebarkan di Funj.

Pada abad ke-18, kerajaan Funj mengalami disintegrasi. Akhirnya, pada tahun 1820-1821 Kerajaan Funj berada di bawah Mesir yang kemudian di Funj diperkenalkan administrasi Negara baru dan tendensi keagamaan Islam yang baru pula.

Islam di Sudan yang dsebarkan oleh orang-orang suci dari mesir dan Arab dengan pendekatan kultural dan struktural. Pendekatan kultural diwujudkan dengan menyelenggarakan pendidikan agama di sekolah-sekolah dan mesjid, dan melalui pernikahan para faqis dengan wanita setempat. Sedangkan pendekatan struktural adalah melalui usaha secara politik. Dukungan struktural berhasil menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa kearsipan bahkan sultan membentuk administrasi peradilan Isalm.

Studi Islam di Asia Tenggara

Marcopolo, dalam perjalanannya dari Cina menuju Persia pada tahun 1292, telah mengunjungi delapan kerajaan di pulau Sumatera. Dari delapan Negara yang dikunjunginya, hanya satu kerajaan yang dianggapnya telah memeluk Isalm yaitu Perlak.

Adapun mengenai kedatangan Islam ke Asia Tenggara terdapat tiga pendapat. Pertama, pendapat yang menyatakan bahwa Islam datang ke Asia Tenggara langsung dari Arab atau tepatnya Hadramaut. Pendapat ini pertama-tama dikemukakan oleh Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Niemann (1861), de Hollander (1861), dan Veth (1878). Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa Islam datang ke Asia Tenggara berasal dari India. Pendapat ini pertama kali dikemukakan oleh Pijnapel (1872). Ketiga, pendapat yang mengemukakan bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara bersal dari Benggali (Bangladesh).

Islam didakwahkan di Asia Tenggara melalui tiga cara: pertama, melalui dakwah para pedagang muslim dalam jalur perdagangan yang damai, kedua, melalui dakwah para da’i dan orang-orang suci yang datang dari India atau Arab yang sengaja ingin mengislamkan orang-orang kafir Kawasan Asia tenggara. Dan ketiga, melalui kekuasaan atau peperangan dengan negara-negara penyembah berhala.

Penetrasi Islam di Asia tenggara secara umum dapat di bagi kedalam tiga tahap: pertama, penetrasi dimulai dengan kedatangan Islam dan ditandai pula dengan kemerosotan dan kehancuran Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 dan ke-15. Salah satu tradisi belajar yang dikembangkan ketika itu adalah pengembaraan intelektual: guru kebanyakan murid-murid menuntut ilmu dan mengembara dari satu surau ke surau yang lain untuk meningkatkan pengetahuan keislamannya. Pada abad ke-15 dan ke-16, masyarakat asia Tenggara, paling tidak memiliki tiga piliha: tetap berpegang terhadap ramuan kepercayaan Hindu-Budha dan kepercayaan lokal lainnya, masuk Islam atau masuk Kristen.

Penetrasi Islam kedua dimulai sejak datang dan mapannya kekuasaan kolonialis di Asia Tenggara. Karena kolonialis diidentifikasi sebagai penjajah kafir, akhirnya Islam tampil sebagai satu-satunya wadah yang mampu memberikan identitas diri dan menjadi faktor pemersatu msyarakat pribumi yang terbelah.

Penetrasi Islam yang ketiga bermula pada awal abad ke-20, ditandai dengan “liberalisasi” kebijakan pemerintah kolonial terutama Belanda di Indonesia.

Islam di wilayah ini berkembang dengan aman dan damai, sehingga berdampak pada sikap umat islam di wilayah yang di huni oleh mayoritas pengguna bahasa melayu ini. Asal mula islam masuk wilayh ini lebih banyak dibawa oleh kaum saudagar,pedagang muslim dari wilayah India maupun dari wilayah Timur Tengah yang kedatangannya ke kawasan Asia Tenggara ini sambil berdagang. Hal ini berbeda dengan daerah-daerah penembangan isalam yang dibwa dengan jalan peperangan. Mereka memiliki kecenderungan keras dan terkesan isalm sebagai ajaran yang “sangar” dan mengedepankan perang ketimbang perdamaian.

Kawasan Amerika Serikat

Di amerika, studi-studi Islam pada umumnya memang menekankan pada studi sejarah Islam,bahasa-bahasa Islam selain bahasa arab,sastra dan ilmu-ilmu sosial,berada dipusat studi Timur Tengah atau Timur dekat. Di UCLA studi Islam dibagi kepada komponen-komponen. Pertama, mengenai doktrin agama Islam, termasuk sejarah pemikiran Islam. Kedua, bahasa arab termasuk teks-teks klasik mengenai sejarah, hukum dan lain-lain. Ketiga, bahasa-bahasa non arab yang muslaim, sperti Turki, Urdu, Persia, dan sebagainya. Sebagai bahasa yang dianggap telah ikut melahirkan kebudayaan Islam. Kempat, ilmu-ilmu sosial, sejarah, bahasa arab, sosiologi dan semacamnya. Selain itu, ada kewajiban menguasai secara pasif satu atau dua bahasa eropa.

Amerika serikat merupakan Negara maju dalam berbagai hal, dan secara umum dalam peradaban di eramodern ini. Pesatnya jumlah penganut islam di negeriPaman Sam ini lebih banyak melalui penjara-penjara. Karena di penjara ini, para juru dakwah islammemeng disengaja untuk dakwah. Programini diadakan oleh pengelola penjara dengan merekrut para da’i dan pendeta untuk menyebarkan ajaran agamanya masing-masing dengan harapan dapat menginsyafkan para napi.

Dalam mengkaji sejarah muslim Amerika Serikat, Ahmad Winters menyarankan untuk meneliti lima sumber informasi, yaitu (1) dokumen-dokumen yang ditinggalkan oleh musli yang dijual sebagai budak serta para pedagang budak (2) sejarah perkembangan Islam di Afrika Barat (3) data statistik tentang kelompok-kelompok etnik yang dijual sebagai budak (4) wilayah-wilayah yang merupakan tempat tinggal tuan-tuan pembeli budak (5) data tentang jumlah budak yang dijual ke wilayah tertentu pada setiap tahunnya.

Disamping itu,migrasi orang-orang Islam ke Amerika Serikat sejak akhir abad ke-19 hingga paruh kedua abad ke-20, sekurang-kurangnya terjadi lima gelombang : Pertama, migrasi rejadi tahun 1875 hingga 1912. Kedua, migrasi terjadi pada tahun 1918 samapai1922, yaitu setelah terjadi Perang Dunia I. Ketiga, migrasi terjadi pada tahun 1930 sampai 1938 yang terkondisikan karena kebijakan imigrasi Amerika Serikat yang memberikan prioritas kepada mereka yang keluarganya telah lebih dahulu menetap di Amerika Serikat. Keempat, migrasi terjadi pada tahun 1947 hingga tahun 1960. Kelima, migrasi terjadi pada tahun 1967 sampai sekarang.

Di Kanada, studi Islam bertujuan : pertama, menekuni kajian budaya dan peradaban Islam dari zaman Nabi Muhammad hingga masa kontemporer. Kedua, memehami ajaran Islam dan masyarakat muslim di seluruh dunia. Ketiga, mempelajari beberapa bahasa muslim.

Study Islam di Australia

Sebagian Indonesia bangkit untuk mengamalkan Islam di Australia, dilingkungan mahasiswa muslim Indonesia yang belajar di beberapa Universitas di Melbourne. Disana mereka tidak bergabung pada kelompok pengajian manapun, karena mereka menganggap satu-satunya tujuan untuk datang ke Australia adalah untuk belajar. Pengajian itu bersifat dialegtika yang menyangkut topik-topik yang kontrofersial atau mengandung aspek-aspek ilmiah.

Beberapa mahasiswa muslim Indonesia di Monash juga mengahadiri pengajian yang diadakan Islam Study Group yang pada umumnya berbentuk tafsir qur’an. Mereka juga aktif mengahadiri pertemuan kelompok muslim yang dikenal dengan sebutan jama’ah tabligh.

SIMPULAN

Pada sekitar abad ke-19, Islam dikaji di barat lebih terbuka dari pada masa-masa sebelumnya, disini kajian Islam dimasukkan dalam disiplin Religius Studies untuk mendapatkan title ahli mengenai Islam, harus menerima training dalam divinity school.

Di Eropa, kajian masalah timur terpisah menjadi suatu disiplin pada abad ke-19. di Prancis dan Inggris motifasi kajian timur tengah adalah untuk kepentingan politik. Mahasiswa muslim di Monash Australia sebagian menggabungkan diri dengan Monash Indonesian Islamic Society (MIIS)

Karya tulis ini diamati dengan pembahasan tentang pengertian dan visi study Islam, yang diikuti dengan pembahasan tentang study Islam yang ada di berbagai Negara.

DAFTAR PUSTAKA
ü Sahrodi, jamali. 2008. Metodologi Study Islam. Bandung: pustaka setia.
ü Mubarok, jaih. 2000. Metodologi Study Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
ü Muhaimin, Kawasan Dan Wawasan Studi Islam, Jakarta: Kencana, 2005
ü Mulyana, Dedy.Islam Dan Orang Indonesia Di Australia, Jakarta: Logos, 2000
ü Azizy Qodri Ahmad, Islam Dan Permasalahan Sosial, Yogyakarta: Lkis, 2000

Penelitian Karakteristik Peserta Didik

Latar Belakang, Menjadi guru bukanlah suatu hal yang mudah seperti yang kita bayangkan, tetapi menjadi guru adalah suatu hal yang sangat sulit. Menjadi guru berarti mempunyai amanah yang sangat besar yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan manusia dan dihadapan Allah SWT. Guru pasti menghadapi anak didik yang mempunyai sifat psikis yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, baik dalam hal pikirannya, kemauannya, perasaannya, latar belakang keluarganya maupun jasmaninya.

Seorang guru harus dapat memahami perbedaan-perbedaan itu dan harus mengenal karakteristik peserta didik, seorang guru juga harus memiliki kedewasaan dan kewibawaan dalam hal mengajar, mempelajari anak didiknya, menggunakan prinsip-prinsip psikologi maupun dalam hal menilai cara mengajarnya sendiri.

Dalam percobaan memahami karakteristik peserta didik, maka disusunlah “ Laporan Penelitian pada Karakteristik Perkembangan Peserta Didik Usia SMP “

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat disusun rumusan masalah:

“Bagaimana gambaran umum karakteristik perkembangan anak pada masa usia sekolah menengah pertama ?”.

C. Tujuan Penelitian, Dalam penelitian ini terdapat dua macam tujuan, yaitu :

1. Tujuan umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk lebih memahami tentang karakteristik perkembangan anak usia sekolah menengah pertama dan juga lebih memahami dan mengerti akan perbedaan-perbedaan yang ada pada setiap diri peserta didik.

2. Tujuan khusus

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas akhir mata kuliah Perkembangan Peserta Didik yang diampu oleh …..

D. Langkah-langkah Penelitian

  • Observasi 
  • Wawancara 

TINJAUAN TEORITIS

Karakteristik perkembangan anak usia SMP

1. Fisik dan Motorik

Dalam perkembangan fisiknya, pada usia ini cenderung pertumbuhannya cepat, dan munculnya ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder. Untuk perkembangan motorik pada usia ini, anak lebih berpikir dalam melakukan suatu tindakan, mulai mengembangkan bakat yang dia punya, dia aktif di sekolahnya seperti dalam hal olahraga dan seni, fungsi otot-otot anak sudah sempurna dan lincah. Pada fase ini remaja memerlukan asupan gizi yang lebih agar pertumbuhan bisa berjalan secara optimal. Perkembangan fisik remaja jelas terlihat pada tungkai dan tangan, tulang kaki dan tangan, serta otot tubuh berkembang pesat.

2. Berfikir dan Bahasa

Pada periode ini para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah masalah komplek dan abstrak. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Kemampuan berfikir formal operasionalnya mulai berkembang, dapat berfikir logis dalam berbagai gagasan yang abstrak, proses berfikir mulai formal dan mulai muncul ide-ide abstrak walaupun terbatas. Bahasa sendirinya mulai berkembang dan mulai tertarik untuk belajar bahasa asing, sedikit demi sedikit anak mulai menggunakan bahasa asing dan mampu berkomunikasi dengan bahasa asing, anak juga mulai bisa membedakan antara berbicara dengan orang tua, teman sebaya, dan anak kecil.

3. Sosial

Memiliki keterampilan sosial untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari. Keterampilan-keterampilan tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku. Mulai suka bekerja sama dan melibatkan dirinya dalam masyarakat, kemampuan memahami orang lain sudah mulai berkembang, sifat egoisnya mulai hilang dan timbul gerakan mandiri, mulai berkembang ke arah remaja yang ditandai dengan adanya minat anak.

4. Emosi

Emosi pada remaja masih labil, karena erat hubungannya dengan hormon. Mereka belum bisa mengontrol emosi dengan baik. Dalam satu waktu mereka akan kelihatan sangat senang sekali tetapi mereka tiba-tiba bisa langsung menjadi sedih atau marah. Contohnya pada remaja yang baru putus cinta atau remaja yang tersinggung perasaannya. Emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka sendiri daripada pikiran yang realitas saat melakukan sesuatu, mereka hanya menuruti ego dalam diri tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi.

5. Seksual

Terdapat perbedaan tanda-tanda dalam perkembangan seksual pada remaja. Tanda-tanda perkembangan seksual pada laki-laki diantaranya alat reproduksi spermanya mulai berproduksi, ia mengalami masa mimpi yang pertama, yang tanpa sadar mengeluarkan sperma, sedangkan pada anak perempuan, bila rahimnya sudah bisa di buahi karena ia sudah mendapatkan menstruasi yang pertama.

Terdapat ciri lain pada anak laki-laki maupun perempuan. Pada laki-laki pada lehernya menonjol buah jakun yang bisa membuat nada suaranya pecah, di daerah ketiak, wajah dan sekitar kemaluannya mulai tumbuh bulu-bulu atau rambut, kulit menjadi lebih kasar, tidak jernih, warnya pucat dan pori-porinya meluas. Pada anak perempuan di wajahnya mulai tumbuh jerawat, hal ini dikarenakan produksi hormon dalam tubuhnya meningkat. Pinggul membesar bertambah lebar dan bulat akibat dari pembesarannya tulang pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit, payudara membesar dan rambut tumbuh di daerah ketiak dan sekitar kemaluan, suara menjadi lebih merdu.

6. Moral dan Agama

Kemampuan berfikir dalam dimensi sosial pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan atau ketidak seimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya.

Peranan orang tua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orang tua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berfikir lebih jauh dan memilih yang terbaik. Begitu pun dalam hal agama peran orang tua dan pendidik sangatlah penting, karena pada masa remaja ini sangat susah untuk menta’ati agama jadi perlu bimbingan dan peringatan dari orang tua dan pendidik.

HASIL ANALISIS PADA SISWA

1. Fisik dan Motorik

Pertumbuhannya sangat cepat di bandingkan ketika ia masih usia sekolah dasar. Keadaan fisik dan motorik Yuyus adalah berkembang secara cepat, tubuhnya tinggi tapi kurus. Karena sering olahraga jadi kulit dia agak hitam. Dia sudah mulai aktif tapi yang terlihat sangat aktif itu di bidang olahraga karena dia sangat menyukai olahraga terutama main bola.

2. Berfikir dan Bahasa

Dia mulai berfikir dewasa, tetapi kadang-kadang masih terbawa oleh lingkungan yang ada di sekitarnya. Begitu pula dalam hal bahasa, dia berbahasa yang di anggapnya gaul padahal sebenarnya itu bahasa yang kurang baik dan kadang-kadang bahasa gaulnya itu di terapkan ketika ia berbicara denga orang yang lebih tua. Perkembangan berfikir dia mulai berkembang ketika ia mendapatkan masalah yang harus ia selesaikan sendiri, sedikit demi sedikit dia mampu memecahkan masalah tersebut dengan pemikiran yang matang dan ia pun dapat memikirkan tentang sebab akibat dari masalah tersebut.

3. Sosial

Dalam usia sekarang Yuyus sudah bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman yang lainnya maupun dengan masyarakat setempat. Dia juga bisa bergaul dengan orang yang lebih tua, teman sebaya, maupun dengan yang lebih muda dari dia. Dia juga mampu memberi atau menerima solusi dari orang lain ketika dia mengeluh kepada orang lain maupun ketika orang lain mengeluh kepadanya. Dia juga bisa menghargai dirinya sendiri maupun diri orang lain. Jadi dia mulai mengerti pentingnya hidup bermasyarakat.

4. Emosi

Emosinya masih agak tinggi tapi terkadang emosinya itu tidak dikeluarkan atau tidak di sampaikan ke orang lain, tapi ia pendam sendiri. Terkadang pula dia mulai menghilangkan emosinya itu. Apabila sedang emosi maka ia hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan akibat dari emosinya itu.

5. Seksual

Dalam hal seksual dia mengalami beberapa perubahan diantaranya suaranya yang kedengaran membesar, jakunnya mulai tumbuh dan mulai menyukai lawan jenisnya dan mulai berani mengungkapkan rasa suka pada lawan jenisnya. Dia juga suka kumpul-kumpul sama teman-temannya baik laki-laki maupun perempuan.

6. Moral dan Agama

Dalam hal moral dan agamanya, dia memang sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah dan sudah bisa mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangannya, tetapi dalam keseharinnya sering kali ketika ia akan melaksanakan hal yang baik terus tidak ada teman yang menemani, maka ia tidak jadi melaksanakan hal tersebut. Jadi seakan-akan tiap ia melakukan kebaikan harus ada teman, apabila teman-temannya tidak melaksanakan hal tersebut maka ia berpikiran “ ah tidak ada teman untuk melaksanakan hal baik itu, tidak jadi aja dech “, jadi dalam melaksanakan kebaikan itu harus ada teman. Tetapi alhamdulillah dalam hal shalat 5 waktu dia suka melaksanakan meskipun harus dipaksa oleh orang tuanya.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka si anak yaitu namanya, tumbuh secara normal dan baik. Perkembangan karakteristik dia hampir sesuai dengan teori-teori yang ada pada usia anak sekolah menengah pertama.

Dari semua analisis anak tersebut, jadi anak masih membutuhkan bimbingan dan tuntutan dari orang tua dan juga dari pendidik ketika ia berada di sekolah, jangan sampai anak tersebut bergaul terlalu bebas dan berlebihan sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh orang tua, pendidik maupun oleh dirinya sendiri yang dapat berakibat fatal.

SARAN

Untuk orang tua dan pendidik harus mampu membimbing dan menuntun anak ke dalam suatu hal baik dan jangan pernah merasa bosan untuk mengingatkan anak tersebut. Untuk si anak harus ta’at dan patuh pada orang tua dan pendidik selama itu merupakan hal uang baik.