Home » » TUJUAN PENGAJARAN

TUJUAN PENGAJARAN

TUJUAN PENGAJARAN

Banyak buku tentang masalah pendidikan mengulas macam-macam tujuan pengajaran. Dijelaskan pula di situ kegunaan serta perinciannya. Kenyataan tersebut menyebabkan banyak orang dikalangan pendidik yang mulai menyadari kegunaan tujuan dalam kegiatan mengajar. Tetapi sangat disayangkan, bahwa walaupun begitu toh masih ada cukup banyak pengajar yang tidak pernah memikirkan tujuan dalam kegiatan mengajarnya. Cara kerja semacam itu boleh disamakan dengan seseorang yang berangkat dari Jakarta, tetapi belum tahu mau ke mana. Sudah barang tentu perjalanan seperti itu akan merupakan perjalanan yang ganjil sekali.

Bab ini akan membahas berbagai macam tujuan. Dan pembicaraan akan selalu menilik pada praktek mengajar. Dengan kata lain uraian bab ini tidak akan terlalu bersifat teoritis, walaupun bertolak dari hasil penelitian para ahli teori di bidang pendidikan. Karena tulisan ini dimaksudkan agar secara langsung dapat berguna untuk siapa saja, yang akan bekerja atau telah bekerja di bidang pengajaran.

Kalau seseorang hendak mempersiapkan suatu pelajaran atau suatu rangkaian pengajaran, ia harus memperhatikan beberapa faktor tertentu. Sebelum ia mengawali pekerjaan yang sebenarnya, terlebih dahulu ia harus memikirkan tiga pertanyaan penting. Jawaban dari ketiga pertanyaan itu akan menentukan isi pelajaran yang akan ia berikan dan jenis cara kerja yang akan ia pilih. Tiga buah pertanyaan tersebut adalah :

1. Bahan pelajaran apa yang akan diberikan untuk kelompok murid ini atau itu ?

2. Apa yang diinginkan oleh pengajar dari kelompok murid tersebut ? Apa yang harus dikerjakan oleh murid ?

3. Sejauh mana para murid perlu mengetahui bahan pelajaran tersebut ?

ad 1. Dalam menentukan bahan yang akan diajarkan, pengajar tidak dapat berbuat dengan cara begitu saja atau menurut kehendak hatinya sendiri saja. Ia perlu memikirkan, bahwa bahan yang akan ia ajarkan itu harus berhubungan dengan kelanjutannya yang akan diajarkan di kemudian waktu. Bilamana pengajar memperoleh tugas memberi kursus pengantar ilmu ekonomi perusahaan pada kelompok mahasiswa tingkat pertama fakultas ekonomi, maka isi kursus itu harus ada hubungannya dengan kelanjutan kursus ilmu ekonomi perusahaan yang akan diajarkan di fakultas tersebut. Dengan kata lain kelanjutan kursus ilmu ekonomi perusahaan menentukan isi kursus pengantar ilmu ekonomi perusahaan itu. Selanjutnya pengajar perlu memikirkan bahan yang harus diketahui oleh murid, serta dengan urutan bagaimana bahan yang akan ia ajarkan harus disusun. Dia harus memperhitungkan, apakah bahan yang akan ia berikan itu terlalu sederhana atau terlalu sulit bagi murid. Apakah bahan pengajaran tersebut akan dapat selesai dibicarakan dalam waktu yang tersedia.

ad 2. Pertanyaan yang tidak kalah pentingnya adalah, apa yang perlu dilakukan oleh murid. Apa yang diinginkan oleh pengajar dari muridnya. Mereka cukup mendengarkan saja atau perlu juga mempelajari buku-buku tertentu yang ditunjuk oleh pengajar. Mereka wajib mengikuti pelajaran atau cukup belajar di rumah saja. Apakah mereka harus menempuh tentamen atau sama sekali tidak perlu. Pengajar perlu mempelajari semua hal itu, sebelum ia mulai mengerjakan persiapan pelajaran.

ad 3. Jawaban atas pertanyaan ketiga, yaitu sejauh mana murid perlu mengetahui bahan pelajaran, akan banyak membantu pengajar dalam memilih cara mengajar yang akan ia pakai. Sebagai contoh : seorang pengajar menganggap perlu murid-muridnya sedikit tahu tentang teknik pengujian dalam masalah statistik. Untuk itu ia dapat merangkaikan beberapa jam pelajaran guna menjelaskan berbagai macam teknik pengujian. Dalam hal seperti itu murid cukup mendengarkan uraian saja. Tetapi bilamana pengajar mempunyai tuntutan agar murid-muridnya mampu menerangkan serta menerapkan teknik-teknik tersebut, maka pelajar perlu memberi kesempatan berlatih kepada mereka. Dengan hal yang terakhir itu norma pengajaran lebih tinggi. Dan ini menentukan cara mengajar yang hendak ia gunakan. Hanya mendengarkan pelajaran saja sudah barang tentu belum mencukupi.

Itulah tadi tiga pertanyaan yang harus dipikirkan oleh pengajar. Dengan kata singkat, pengajar terlebih dahulu harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, sebelum ia mulai menyusun pengajaran atau rangkaian pengajaran. Karena jawaban dari tiga pertanyaan itu akan memberi garis arah serta tujuan pada pengajaran.

Mengapa memikirkan tujuan pengajaran merupakan hal yang sangat penting ? Karena tujuan itu justru akan membantu pengajar dalam mencari bahan yang akan diajarkan, serta akan membulatkan susunan pengajaran. Sedangkan bahan pengajaran merupakan bahan baku yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Seperti halnya palu, paku, gergaji, dan kayu merupakan bahan baku yang dibutuhkan oleh tukang kayu untuk membuat peti. Tetapi disamping itu memang masih ada banyak alasan lain, mengapa tujuan pengajaran perlu ditetapkan terlebih dahulu. Tujuan yang dirumuskan secara jelas memungkinkan pengajar membuat ujian ataupun tentamen secara mudah pula. Bila sebelumnya telah ditentukan apa saja yang perlu diketahui oleh murid, maka selanjutnya dapat ditentukan pula apa saja yang dapat ditanyakan kepada mereka. Misalkan saja, pengajar menginginkan agar murid mengetahui semua sungai yang ada di Pulau Jawa. Maka itulah yang menjadi tujuan dari pengajaran yang akan ia berikan. Selanjutnya berdasarkan tujuan tersebut ia dapat menyusun ulangan atau ujiannya. Jelasnya, dalam tujuan itu telah dipastikan secara tepat, apa yang harus diketahui oleh murid. Di lain pihak, murid-murid perlu tahu juga tujuan yang diinginkan oleh pengajar. Dengan begitu murid dapat mengetahui, apa yang akan dituntut dari mereka, serta apa yang akan mereka hadapi selama pelajaran. Kemudian mereka pun akan dapat membuat pembagian kerja untuk mereka sendiri. Selama mengikuti pelajaran mereka dapat mengetahui rencana pengajar. Sewaktu harus mempersiapka diri untuk menempuh tentamen, mereka tahu apa yang perlu dipelajari. Maka dari itu cukup menguntungkan kiranya kalau pengajar menjelaskan tujuan pelajarannya kepada murid.

Apa yang dimaksud dengan tujuan ? Tujuan adalah suatu rumusan yang menunjukkan dan menjelaskan hal yang ingin dicapai. Dalam bab ini kita akan membahas tujuan pengajaran. Tujuan tersebut menunjukkan atau menjelaskan perubahan apa yang harus terjadi, sebagai akibat dari pengajaran yang dialami oleh murid. Antara lain perubahan dalam pola berfikir, dalam perasaan, serta dalam tingkah laku murid. Pengajar harus dapat membuat perubahan itu terjadi, dan inilah yang disebut mengajar. Untuk itu ia perlu memikirkan bahan pengajaran yang dibutuhkan untuk merangsang terjadinya perubahan-perubahan tersebut, serta cara menangani bahan yang dimaksud. Sebagai contoh : Di fakultas kedokteran gigi mahasiswa harus belajar cara mencabut gigi. Pengajar yang bersangkutan harus mengajar dan melatih mahasiswa dalam hal cara mencabut gigi. Di sini terjadi perubahan dalam hal tindakan. Kemudian pengajar harus mencari cara yang akan digunakan untuk mengajar masalah pencabutan gigi. Ia harus meneliti jenis latihan yang dapat diajarkan serta alat-alat yang perlu dipakai. Pendeknya, sebelum kursus dimulai pengajar harus memikirkan secara cermat beberapa hal ini : bahan apa yang akan diajarkan, cara apa akan ia gunakan untuk menyampaikan bahan pengajaran, serta alat-alat apa saja yang perlu ia gunakan. Semua itu harus terangkum dalam tujuan. Karena tujuan merupakan garis arah yang perlu diperhatikan dalam penyusunan rangkaian pengajaran atau kursus, dalam perencanaan praktikum, dan dalam pemilihan cara pelaksanaan. Pengajar hendaknya menjelaskan tujuan pengajaran pada jam pelajaran yang pertama, sehingga murid-murid mengetahui apa yang akan dan harus mereka hadapi selama kursus itu. Misalkan saja pengajar menyatakan demikian, “ Setelah tiga jam pengajaran teori dan tiga jam praktikum terlaksana, kalian harus mampu mengerjakan sendiri praktek mencabut gigi “.

Jelaslah bahwa dalam hal ajar-mengajar kita perlu menentukan tujuannya. Lalu tujuan macam apa saja yang ada dalam bidang pengajaran? Di waktu lampau telah pernah ada usaha untuk merumuskan beberapa macam tujuan di bidang pengajaran. Namun kebanyakan usaha tersebut mengalami kegagalan. Kiranya ini bisa dimaklumi, mengingat waktu itu orang belum mengetahui benar-benar jenis tujuan yang cocok untuk kegiatan mengajar. Merumuskan jenis-jenis tujuan yang sungguh-sungguh tepat memang bukan pekerjaan mudah. Lagi pula pekerjaan tersebut membutuhkan cukup banyak waktu. Suatu contoh : Seorang pengajar akan memberikan kursus tentang teknik penelitian. Kelompok yang akan ia hadapi adalah mahasiswa tahun kedua di fakultas ekonomi. Pengajar mempunyai tujuan akan membahas sebuah buku X dalam waktu lima belas minggu. Ia menjelaskan tujuannya itu kepada para mahasiswa, dan kuesus dapat dimulai. Dua puluh minggu kemudian diadakan tentamen. Selanjutnya hasil tentamen tersebut menunjukkan, bahwa hanya dua persen saja dari jumlah seluruh mahasiswa pengikut kursus mampu mencapai nilai cukup. Di mana letak terjadinya ketidakberesan ? Ternyata tujuan yang ditetapkan oleh pengajar tidak tepat. Ia tidak berhasil mencapai tujuannya. Dengan demikian dapat dikatakan, tujuan yang telah ia tetapkan itu kurang memberi arah kepada kursusnya. Tujuannya kurang nyata. Ia tidak melihat secara tepat, apa yang harus ia lakukan agar tujuannya itu dapat tercapai. Kiranya hal yang disebutkan terakhir itulah merupakan syarat yang perlu diperhatikan. Memang ada sejumlah syarat yang harus terpenuhi agar suatu tujuan dapat tercapai. Syarat-syarat tersebut berupa ketentuan-ketentuan atau kriteria. Bila ketentuan-ketentuan itu kita susun secara berurutan, kita akan dapat melihat rupa tujuan yang dimaksud. Dan bentuk tujuan itu baru menjadi jelas kalau kita mengetahui fungsinya. Kadang-kadang suatu tujuan umum sudah cukup memenuhi kebutuhan. Tetapi kadang-kadang pula tujuan seperti itu masih perlu dikhususkan lagi. Dalam contoh tadi kelihatan bahwa tujuannya masih bersifat terlalu umum. Bentuk suatu tujuan tergantung dari situasi yang akan dihadapi. Seperti halnya dengan Pancasila yang mengandung lima macam tujuan. Lima macam tujuan itu besifat umum. Tetapi hal tersebut dianggap cukup, karena hanya dimaksudkan sebagai suatu titik tolak atau suatu dasar umumsaja.

Dari uraian di atas sudah jelas adanya tujuan umum dan tujuan khusus. Di sini akan kami berikan lima buah contoh yang menjelaskan bagaimana tujuan (dalam bidang pendidikan) bergerak dari umum ke khusus. Setiap tingkat tujuan dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dihadapi.

Sebuah universitas merumuskan tujuannya seperti berikut : “ Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat “. Itu adalah tujuan umum yang menyatakan bahwa universitas tersebut hendak melakukan usaha-usaha membantu negara. Kalau seseorang ingin tahu apa sebetulnya yang dilakukan oleh universitas tersebut, maka akan terlihat bahwa tujuan tadi belum sangat jelas, karena pengabdian kepada masyarakat itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Antara lain dengan membangun jalan, menyelenggarakan makanan sehat, menulis buku-buku untuk keperluan sekolah, dan lain-lainnya. Oleh sebab itu perlu dirumuskan tujun yang tidak bersifat umum, agar orang tahu apa yang dilakukan oleh universitas tersebut.

Universtas X ingin mengabdi masyarakat dengan menyelenggarakan pengajaran universiter. Untuk itu disediakan enam macam fakultas seperti berikut : Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Kimia, dan Fakultas Ilmu Alam. Pada rumusan tersebut terungakap jelas cara yang akan ditempuh oleh universitas itu guna mengabdi masyarakat. Meskipun begitu orang masih belum tahu jelas, bagaimana universitas itu akan melakukan semuanya. Masih ada sejumlah kemungkinan untuk memenuhi tujuan seperti tersebut diatas, dan masih ada sesuatu hal yang belum jelas. Yaitu bagaimana masyarakat dapat merasakan usaha pengabdian universitas tersebut.

Halnya akan menjadi semakin jelas bilamana tujuan universitas itu diperinci sebagai berikut :

“ Universitas X ingin mengabdikan dirinya demi kepentingan masyarakat dengan cara-cara seperti berikut : setiap tahun Universitas akan menampung seribu orang mahasiswa. Mereka akan ditempatkan di enam fakultas. Mereka akan dididik selama empat tahun untuk menjadi sarjana di bidang-bidang ekonomi, hukum, kedokteran, ilmu kimia, teknik, dan ilmu alam”.

Rumusan di atas nampak lebih jelas. Siapa pun yang ingin mempelajari ilmu ekonomi dan membaca rumusan tujuan Universitas X, segera tahu bahwa universitas tersebut memberi kesempatan baginya untuk mencapai keinginannya. Akan tetapi bagi seseorang yang hendak mengajar ilmu ekonomi masalahnya belum cukup jelas. Baginya rumusan tadi masih belum cukup terang. Apakah bidang keahliannya dibutuhkan dan diajarkan di fakultas ekonomi Universitas X atau tidak. Ia perlu menghubungi fakultas ekonomi yang bersangkutan untuk memperoleh penjelasan. Karena hal yang ia pikirkan itu bukan urusan langsung seluruh Universitas X, tetapi urusan khusus fakultas ekonomi saja.

Tujuan fakultas ekonomi Universitas X, misalnya saja, dirumuskan seperti berikut : “ Dalam waktu empat tahun fakultas ekonomi ingin memberikan pendidikan pada jurusan-jurusan ekonomi perusahaan, ekonomi umum, dan akuntansi”. Dengan membaca rumusan tersebut seorang pengajar yang mempunyai keahlian di bidang akuntansi akan tahu, bahwa bidang keahliannya dibutuhkan dan diajarkan pada fakultas tersebut. Di umpamakan saja pengajar bidang akuntansi itu diterima dan diangkat sebagai pengajar pada Universitas X. Apakah ia akan segera tahu hal yang harus ia lakukan? Tidak, ia belum tahu apa-apa. Rumusan tujuan fakultas ekonomi itu masih terlalu luas. Masih dibutuhkan suatu tujuan yang lebih khusus lagi.

“ Pada fakultas ekonomi, seorang mahasiswa yang memilih kekhususan studi di jurusan akuntansi harus mengikuti kuliah tata buku selama empat semester. Selanjutnya ia harus menempuh empat buah tentamen”.

Rumusan tersebut akan memberi keterangan pada pengajar tata buku, tentang hal yang harus ia lakukan. Ia dapat mulai menyusun mata kuliah yang bersangkutan. Ia tahu jumlah waktu yang disediakan untuk mata kuliahnya serta berapa kali ia harus memberi tentamen. Tetapi ia belum tahu berapa bagian kursus yang akan ia ajarkan itu harus diperinci, serta sampai dimana tingkat kesulitan kursusnya itu masih mungkin. Oleh sebab itu tujuan tadi perlu lebih diperinci lagi. Pengajar itu baru dapat bekerja secara nyata, kalau rumusan tujuan dapat menjelaskan kepadanya tentang hal yang harus ia lakukan.

Dari kelima contoh tersebut dapat diketahui, bahwa contoh terakhir sudah merupakan sebuah tujuan khusus. Tapi bagi seorang pengajar yang harus mengisi jam kuliah, tujuan tersebut belum cukup operasional dan masih harus diperinci lebih lanjut. Pada tujuan yang operasional orang dapat melihat secara tepat, apa yang dapat dikerjakan oleh pengajar dan apa yang harus diketahui, dimengerti serta dilakukan oleh mahasiswa.

Kapan suatu tujuan dapat disebut sebagai tujuan yang operasional

Suatu tujuan dapat disebut operasional bilamana memenuhi empat syarat seperti berikut :

1. Menyatakan kelakuan apa yang harus ditunjukkan oleh murid, setelah suatu kursus selesai diberikan

2. Menunjukkan terhadap bahan pelajaran apa murid harus berkelakuan seperti disebut pada syarat nomor satu

3. Menunjukkan kapan hal itu harus tercapai

4. Menunjukkan dengan sarana apa hal itu dapat

Selanjutnya akan di bicarakan beberapa keuntungan dari sasaran belajar:

a. Sasaran belajar merupakan garis petunjuk untuk menyusun satu jam pelajaran atau lebih.

b. Sasaran belajar memberi petunjuk secara pasti, apa yang harus dilakukan oleh pengajar, karena disitu dibahas mengenai kelakuan apa yang harus ditunjukan oleh murid setelah pelajaran selesai.

c. Sasaran belajar memungkinkan pengajar mengetahui apakah ia telah menunaikan tugasnya apa belum.

d. Sasaran belajar memberi petunjuk kepada murid apa yang akan mereka hadapi.

e. Sasaran belajar memungkinkan murid untuk kemudian mengetahui sejauh mana mereka memahami materi yang mereka pelajari.

Seorang pengajar yang bekerja dengan sasaran belajar, akan mengalami sedikit keragu-raguan dalam mengajar. Ia tahu apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa karena telah menetapkan secara konkrit apa yang harus dicapai oleh mereka dan mencari jalan keluar untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain, dosen menentukan apa yang dibahas supaya dalam latihan mereka dapat menentukan sejauh mana kemampuan mereka melakukan hal-hal yang ditentukan dalam Sasaran belajar.

Seorang pengajar yang bekerja tanpa Sasaran belajar, dapat disamakan dengan seseorang yang hendak pergi tanpa tahu hendak kemana. Ini berarti ia juga belum bisa membayangkan berapa waktu yang diperlukan dan jalan mana yang akan ditempuh. Pengajar yang melakukan demikian, belum mengetahui bagaimana suatu proses belajar dijalankan, Karena tujuan belum ada. Tetapi pengajar yang menggunakan Sasaran belajar, berarti ia memulai suatu perjalanan dengan baik. Disamping itu, ia juga tahu hasil yang ia inginkan. Kalau hasil yang dapat dicapai ternyata tidak memenuhi harapan, ia dapat meneliti mengapa demikian dan tidak mengulanginya lagi. Keuntungan lain dari adanya Sasaran belajar yakni memudahkan dalam penilaian terhadap pengajaran yang telah disampaikan.

Demikian uraian dari bab 6, dan sekarang kita tiba pada akhirnya. Bab ini mempunyai arti tersendiri, karena dimaksudkan sebagai pendahuluan kedua Bab terakhir dalam bagian ini. Disitu penulis telah mencoba menjelaskan bahwa setiap pengajar perlu menetapkan terlebih dahulu tujuannya, jika tidak, maka ia tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi.

Seperti telah di uraikan di muka, ternyata hanya Sasaran belajar sajalah yang cocok dan berguna untuk tugas seorang pengajar. Tujuan seperti itu memeberi arah pada pekerjaan yang harus dilakukukan serta menunjukkan jalan yang harus ditempuh. Dengan Sasaran belajar di satu pihak pengajar memperoleh manfaat dan di lain pihak para murid dapat mengetahui apa yang akan mereka hadapi. Sudah jelas pula dari uraian di atas, pengajar perlu menjelaskan Sasaran belajarnya kepada murid. Kalau pengajar tidak melakukanya, murid tentu tidak akan dapat mengetahuiapa yang harus mereka lakukan serta apa yang harus mereka harapkan dari pengajar. Pengajar pun tidak tahu secara tepat, proses belajar mana yang perlu digalakkan serta sampai taraf mana pengetahuan murid harus dikembangkan.

Untuk menyusun Sasaran belajarsatu pengajaran atau lebih,pengajar perlu memperhatikan beberapa ketentuan, antara lainyaitu apa yang dapat dituntutdari murid, serta sebaik dan secepat apa murid-murid dapat mengerti dan mengenal bahan pengajaran. Untuk lebih menunjukkan betapa pentingnya Sasaran belajar bagi pekerjaan dan tugas pengajar, pada akhir Bab ini akan disebutkan kembali hal-hal penting yang berhubungan dengan Sasaran belajar.

Apa syarat-syarat khusus untuk Sasaran Belajar?

Suatu sarana belajar harus memenuhi 4 syarat sebagai berikut:

1. Tujuan tersebut menjelaskan kelakuan apa yang harus dapat dilakukan oleh murid setelah pelajaran atau kuliah diberikan.

2. Tujuan tersebut harus menunjukkan tarhadap bahan pelajaran atau bahan kuliah apa murid harus melaksanakan kelakuan yang dimaksud.

3. Tujuan tersebut harus menunjukkan kapan hasil pelajaran itu harus dapat tercapai.

4. Tujuan tersebut harus menunjukkan sarana apa yang harus digunakan untuk mencapai hasil.

Mengapa Sarana Belajar itu amat penting?

1. Membantu pengajar untuk:

· Menyusun jalan ke luar untuk menjalankan proses belajar.

· Menyusun tugas-tugas latihan sebagai aktivitas yang akan diberi kepada murid atau mahasiswa.

2. Menjelaskan kepada murid, apa yang harus mereka lakukan,

3. Memudahkan pengajar menyusun pernyataan atau soal ujian/tentamen.

4. Menunjukkan hasil yang akhirnya dapat dicapai oleh pengajar maupun murid.











































BAB VII

BEBERAPA MACAM TARAF BERFIKIR

Sebagaimana telah penulis katakan dalam bab terdahulu, seorang pengajar perlu memperhatikan beberapa ketentuan bila ia hendak menetapkan tujuan pelajaran atau tujuan kuliah. Ia harus mempelajari sejauh mana ia boleh menuntut sesuatu dari murid-muridnya, serta seberapa besar kemampuan yang ada dalam diri murid. Di situ pengajar memikirkan dua macam ketentuan seperti berikut:

1. Tingkat kesulitan

Hal ini berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam arti umum. Untuk memperjelas masalahnya, sebagai contoh murid berusia 17 tahun dapat dituntut untuk melempar bola kecil sejauh 60 meter. Tetapi murid berumur 8 tahun sudah dapat dipastikan tidak dapat melakukan itu. Untuk semua tujuan yang pengajar tetapkan perlu memperhitungkan kemampuan murid sesuai dengan usia mereka.

2. Tingkat kemampuan berfikir.

Ketentuan kedua yang tidak kurang pentingnya untuk diperhitungkan oleh pengajar adalah tingkat kamampuan berfikir murid. Seorang mahasiswa sering kali dipaksa untuk memecahkan sendiri masalah atau tantangan tertentu. Tetapi seorang murid berumur 9 tahun tentunya belum dapat secara terus-menerusmelakukan hal yang serupa. Dengan kata lain, pengajar perlu memperhatikan tingkatkemampuan berfikir murid sesuai dengan hasil proses belajar yang pernah mereka alami.

Selanjutnya akan diuraikan tuntutan apa saja yang boleh diajukan terhadap murid. Proses belajar tidak seluruhnya sulit. Proses yang satu memerlukan banyak kerja pikir, sedangkan proses yang lain hanya membutuhkan sedikit saja. Untuk membantu pengajar agar dapat menentukan tuntutan secara tepat. Bab ini akan menyajikan uraian tentang beberapa macam taraf berfikir yang ada. Ssedangkan hal yang disebut sebagai ketentuan nomor satu yaitu, tingkat kesulitan, tidak akan dibahas dalam Bab ini.

Tuntutan pengajar sering kali tidak memenuhi terhadap permintaan murid. Bukan dalam hal jumlah pekerjaan yang dibebankan pada mereka, melainkan dalam tingkat kesulitan dalam pekerjaan itu. Pengajar perlu meneliti diri sendiri, apakah ia menugaskan murid-muridnya untuk melakukan kerja pikir secara cukup atau hanya menugaskan mereka untuk belajar begitu saja. Berikut ini akan kita bahas dahulu tentang taraf-taraf berfikir. Kemudian akan dijelaskan tuntutan apa yang dapat dikenakan oleh pengajar terhadap murid.

Seorang pengajar memberikan serangkaian kuliah atau kursus di perguruan tinggi. Disitu ia menguraikan banyak hal yang harus di ingat oleh mahasiswanya. Akhirnya, setelah kuliah selesai diberikan, pengajar dapat mengadakan tentamen. Ia mengajukan sejumlah pertanyaan untuk menjajaki sejauh mana mahasiswa dapat mengingat bahan yang pernah di ajarkan. Mahasiswa yang dapat memproduksi atau mengungkapkan kembali apa yang pernah ia dengar, akan memperoleh nilai tinggi. Dapat di pastikan beberapa orang bisa memperoleh nilai tinggi. Hanya mereka yang tidak membuat catatan atau yang tidak mempelajari catatan mereka sebelum tentamen akan memperoleh angka kurang baik. Bila hasil tentamen baik tentu pengajar akan dengan bangga menceritakan kepada rekan-rekannya, bahwa tugasnya telah berjalan secara memuaskan. Namun pengajar tersebut melupakan suatu hal. Ia telah mengajar mahasiswa dengan cara seperti mengajar murid-murid sekolah dasar, karena ia hanya menuntut mahasiswanya agar mengingat hal yang telah ia uraikan saja. Padahal tuntutan terhadap mahasiswa harus dengan norma yang lebih tinggi. Seorang pengajar di perguruan tinggi harus dapat mendorong mahasiswanya agar mereka melakukan suatu bentuk belajaryang lebih tinggi serta cara berfikir yang lebih sesuai. Selama masa pendidikan mahasiswa harus dibimbing dan di latih sedemikian rupa, sehingga akhirnya mereka memiliki kemampuan untuk memecahkan sendiri masalah-masalah yang mereka hadapi.

Baiklah kita tinjau secara teoritis tentang apa artinya “pengetahuan”. Ada pengetahuan yang bersifat pengetahuan factual (factual knowledge) dan pengetahuan mengenai tahap-tahap perilaku seseorang (procedural knowledge). Seorang pengajar yang hanya mengajar tentang fakta (nama ibu kota, tahun perang dunia kedua mulai, apa bahan bakar untuk mesin diesel dan sebagainya) tidak menolong muridnya untuk mencapai suatu proses belajar. Dalam suatu proses belajar kualitas srtuktur prilaku harus di ubah. Ini berarti perluasan terhadap factual knowledge disamping harus mengadakan reorganisasi terhadap procedural knowledge. Karena proses belajar baru akan berhasil setelah procedural knowledge disusun kembali. Mahasiswa harus belajar menggunakan berbagai taraf berfikir, pengajar perlu mempertimbangkan hal tersebut. Hanya reproduksi atau pengungkapan kembalisaja tidak cukup. Setiap saat dosen harus selalu ingat, bahwa ia mengajar mahasiswa yang hendak belajar berfikir sendiri. Seseorang yang hendak menyelesaikan studinya diperguruan tinggi belum tentu tahu semua hal. Hal itu jelas tidak mungkin dan bukan merupakan suatu keharusan. Tetapiia harus memiliki kemampuan berfikir secara tepat dan berdaya guna untuk memecahkan masalah.kalau ia tidak memiliki kemampuan itu, maka ia pun tidak akan dapat memecahkan setiap masalah secara tepat. Akibatnya ia tidak dapat bekerja dengan hasil yang berguna.

Setiap pemecaahan masalah memerlukan taraf berfikir paling tinggi dan sukar. Untuk mengetahui latihan dan macam tugas yang dapat mendorong mahasiswa berfikir sampai taraf tertentu, pengajar perlu mengetahui macam taraf berfikir yang ada. Taraf-taraf berfikir itu merupakan hasil penemuan dan penelitian yang dilakukan oleh para psikologi dalam masalah belajar. Mereka pun telah menyusun klasifikasinya, yang mereka sebut ”taxonomi”. Dalam bab ini taxonomi itu akan disajikan untuk menjelaskan taraf-taraf berfikir yang ada. Sedapat mungkin teorinya tidak akan dibahas secara mendalam, tetapi akan lebih banyak disajikan hal-hal yang praktis. Dalam uraian dibawah ini, penulis akan menggunakan 5 taraf berfikir. Beberapa psikologi menemukan lebih sedikit dari itu, tetapi beberapa psikologi lainnya malah menemukan lebih banyak. Disini penulis hendak menghubungkan tiap taraf berfikir dengan macam bentuk pelajaran yang berkaitan dengannya. Maka uraian ini akan bertolak dari 5 taraf berfikir itu.


Ini menyajikan kerangka pembagiannya. Hendaknya skema tersebut dibaca dari bawah ke atas.

Taraf 1. Belajar reseptif atau menerima (reception learning)

Bahan pelajaran atau bahan kuliah disajikan dalam bentuknya yang telah jadi. Pihak pendengar hanya tinggal menerima dan menyerapnya. Mereka tidak perlu melakukan kerja pikir untuk mengertinya. Pengajar tidak perlu merangsang terjadinya suatu proses dalam diri murid. Ada beberap contoh :

Taraf


Nama taraf berfikir


Macam kerja pikir yang diajarkan

5


4


3




2


1


Evaluasi


Analisa dan sintesa


Aplikasi


Komprehensi


Pengetahuan




Berfikir kreatif atau berfikir untuk memecahkan masalah

Berpikir menguraikan dan menggabungkan

Berpikir menerapkan


Berpikir dalam konsep dan belajar pengertian

Belajar reseptif atau menerima



Gambar 8. Beberapa macam taraf berpikir

Contoh 1. Pada murid-murid kelas dua sekolah menengah petama seorang pengjar menyatakan bahwa pada suhu nol derajat Celcius air akan menjadi es. Murid-murid akan menerima dan menyerap informasi itu. Kemudian pada waktu ulangan pengajar mengajukan pertanyaan seperti berikut : “ pada suhu berapa derajat Celcius air akan menjadi es ? “ Untuk menjawab pertanyaan itu muerid harus menggali ingatn mereka tentang informasi yang sebelumnya pernah diajarkan. Kalau informasi itu tersembul keluar dari ingatan seperti ketika masuk, maka jawaban disebut benar. Pada contoh tersebut pengajar tidak perlu menjelaskan sesuatu, dan murid juga tidak perlu menguraikan sesuatu. Ia hanya menyampaikan informasi fan murid menerimanya.

Contoh 2. Seorang pengajar menjelaskan kepada mahasiswa fakultas kedokteran tahunkedua tentang kolik usus (usus yang melipat) serta akibatnya bagi penderita. Pada waktu tentamen pengajar mengajukan pertanyaan, apakah kolik usus itu dan apa akibatnya bagi penderita. Sekali lagi dalam contoh ini kita melihat, bahwa para mahasiswa hanya harus mengungkapakan kembali hal yang telah diajarkan. Di situ pengajr tidak mendorong para mahasiswanya untuk melakukan kerja pikir yang lebih tinggi. Masalahnya hanya berkisar pada mahasiswa menerima suatu pengetahuan kemudian mereka harus mengungkapkannya kembali. Dengan cara penyerahan pengetahuan semacam ini murid atau mahasiswa tidak dipaksa untuk melakukan kerja pikir sendiri.

Taraf 2. Komprehensi

Untuk mengajarkan pengertian-pengertian murid diharapkan dapat melakukan kerja pikir pada taraf ini. Pengajar menyampaikan isi pelajaran atau isi kuliah, dan murid harus membuat gambaran tentangnya. Dalam bahasa Inggris taraf ini disebut concept-learning. Uraian diberikan sedemikian rupa sehingga lambat laun gambaran isi pengertian yang diajarkan itu terbentuk dalam benak murid. Sebagai contoh : Seorang pengajar ilmu statistik memberikan kuliah tentang perhitungan kemungkinan (probabilitas) kepada para mahasiswa tahun kedua fakultas ekonomi. Uraian tentang perhitungan kemungkinan itu akan diberikan dalam tiga jam kuliah. Ia menginginkan agar mahasiswa mengikuti kuliahnya, dan mereka harus menyerap pengertian tentang perhitungan kemungkinan. Mahasiswa harus dapat mengenal pengertian itu kembali, bilamana mereka menemukannya di tempat lain. Misalkan saja suatu saat mereka menghadapi persoalan statistik. Mereka harus dapat memperkirakan, apakah soal itu bersangkutan dengan perhitungan kemungkinan. Untuk itu mereka harus ingat bahwa perhitungan kemungkinan merupakan bagian dari ilmu statistik. Tujuan pengajar adalah, setelah tiga jam kuliah para mahasiswa harus dapat mengerti perhitungan kemungkinan, mengenal jenisnya, mengingatnya, menamakannya serta mengklasifikasikannya. Tuntutan terhadap murid tidak lebih dari itu. Di sini berbeda dengan taraf pertama, karena kalau dalam taraf kedua mahasiswa sendiri yang mengidentifikasikan, menamakan serta mengklasifikasikannya. Mereka harus mengubah informasi yang diterima dan menjadikannya sebagai suatu pengertian. Kerja pikir yang dilakukan oleh mahasiswa sendiri pada taraf ini hanya menyusun saja. Ini berarti tidak lain hanya mengurutkan dan menyusun informasi itu.

Taraf 3. Aplikasi

Kalau murid harus menerapkan hal yang telah diajarkan, maka pekerjaan itu lebih tinggi sedikit daripada pekerjaan yang mereka lakukan pada taraf kedua. Pada taraf ini pengajar menuntut murid melakukan sesuatu berdasarkan pengertian yang telah diajarkan. Mereka harus dapat merumuskannya sendiri. Mereka harus dapat menyusun pandangan yang jelas. Sebagai contoh : Pengajar menjelaskan seluk beluk motor bensi kepada murid kelas dua sekolah menengah pertama. Setelah penjelasan itu pengajar menuntut murid dapat membandingkan prinsip motor bensin dengan prinsip yang lain. Mereka harus dapat membedakan antara jenis motor bensin dengan jenis motor lainnya, dan harus dapat menggambarkannya. Jelaslah pada taraf ini murid harus mengerjakan sesuatu. Mereka harus menerapkan sesuatu dari hal yang telah diajarkan dan membandingkannya. Dan pengajar menentukan hal yang harus dilakukan oleh murid. Pada contoh di atas pengajar memaksa murid untuk membuat perbandingan, menghubung-hubungkan, merumuskan dan menggambarkan.

Taraf 4. Analisa dan sintesa

Pada taraf ini murid harus dapat menerangkan kaitan-kaitan yang ada dalam hal yang diajarkan (sintesa). Pekerjaan tersebut baru dapat dilaksanakan, bilamana murid sebelumnya telah menganalisanya. Selain harus dapat menerangkan kaitan-kaitan yang mungkin dari hal yang telah diajarkan, murid juga harus dapat membuat kombinasi unsur-unsurnya menjadi suatu kesatuan. Diberikan di sini suatu contoh dalam bentuk yang mudah : Dalam pelajaran ilmu bumi di kelas satu sekolah menengah atas seorang pengajar telah menerangkan, mengapa kota Jakarta dijadikan ibu kota negara Indonesia. Murid dipaksa melakukan kerja pikir pada tarf ini, bila merek harus menjelaskan mengapa penunjukkan kota Sukabumi sebagai ibi kota negara Indonesia suatu hal yang tidak masuk akal. Mereka harus menerangkan mengapa kota Sukabumi tidak akan menjadi ibu kota negara. Mereka harus dapat menilai, apakah gedung-gedung dan alat komunikasi yang ada mencukupi. Mereka harus dapat memperkirakan sarana-sarana apa saja yang diperlukan untuk ibu kota negara, dan lain sebagainya. Lalu apa yang harus dikerjakan oleh murid ? Meraka harus terlebih dahulu menganalisa arti ‘menjadi ibu kota negara’. Hasil analisa itu dibandingkan dengan yang ada di kota Sukabumi. Kemudian mereka harus membuat sintesa dengan menjumlahkan hal-hal yang menyebabkan kota sukabumi tidak cocok sebagai ibu kota negara. Hasil kesimpulannya akan menjelaskan, apakah murid telah memahami pengertian ‘menjadi ibu kota negara’.

Dari contoh tadi kiranya menjadi jelas, murid dipaksa melakukan kerja pikir sendiri. Tetapi ini belum merupakan kerja pikir yang lengkap, karena pada taraf ini murid hanya membuat analisa kemudian mengumpulkan kembali (sintesa). Mencetuskan hasil pikiran baru belum termasuk di dalamnya. Untuk hal itu kita lnjutka uraian ini pada taraf berikut.

Taraf 5. Evaluasi

Pada taraf ini murid dipaksa berpikir sendiri secara kreatif untuk mencari pemecahan suatu masalah. Hal terpenting dalam taraf ini adalah timbulnya pengetahuan baru. Murid harus dapat menghasilkan kreasi baru. Kalau seorang murid didorong untuk berpikir secara kreatif dan ia tidak dapat, itu berarti sebelumnya ia belum sepenuhnya dapat melakukan taraf berpikir yang keempat.

Kecuali harus menghasilkan suatu kreasi baru, masih ada tambahan khusus sebagai sesuatu hal baru bagi murid. Mereka harus mampu menentukan bagian-bagian dan selanjutnya menggabungkan bagian-bagian itu menjadi sesuatu yang baru. Jadi tidak hanya menganalisa dan kemudian membuat sintesa seperti pada taraf keempat. Di sini hasil sintesa harus mengarah pada sesuatu yang baru. Berikut ini sebuah contoh : Para mahasiswa tahun keempat fakultas teknik jurusan teknik arsitektur telah mempelajari cara merancang suatu bangunan, cara membuat gambar dan perhitungan-perhitungannya yang diperlukan. Kemudian pengajar mengajukan pertanyaan sebagai berikut, “ Dapatkah pada sebidang tanah ini didirikan gedung bertingkat lima yang akan digunakan sebagai kantor administrasi universitas kita ?” Jawaban atas pertanyaan itu jelasbelum ada. Mahasiswa harus mwncarinya sendiri. Antara lain denga meneliti keadaan tanahnya, jenis bahan bangungan yang diperlukan, serta jenis sarana yang tersedia. Mahasiswa harus menemukan, menghitung, mencari keteranga, bertanya pada diri sendiri, menerapkan, menganalisa, membuat sintesa, dan lain sebagainya. Hasil dari semuanya itu merupakan jawban atas pertanyaan tadi. Jawaban bukan berupa “ya” atau “tidak”, melainkan harus disertai saran-saran dan alasn-alasannya. Dengan jawaban seperti itu berarti mahasiswa telah mampu menemukan sendiri sesuatu yang benar-benar baru. Berdasarkan uraian tadi jelas kiranya, bahwa taraf berfikir setinggi ini tidak mungkin terlaksana tanpa empat taraf berfikir yang lain.

Begitulah tadi u raian tentang lima macam taraf berfikir. Menjadi jelas kiranya sekarang, bahwa pwngajar perlu menentukan sampai taraf berfikir mana ia akan mendorong murid-muridnya. Dengan bahan pelajaran yang sama pengajar dapat mendorong murid untuk membuat analisa dan sintesa (taraf keempat) atau hanya umtuk mengerti konsep saja (taraf kedua). Misalkan saja pengajar menyatakan bahwa air akan menjadi es pada suhu nol drajat Celcius. Menghadapi hal seperti itu murid hanya memerlukan kerja pikir taraf pertama. Tetapi pengajar juga dapat menuntut muridnya mengerti apa yang terjadi kalau air menjadi es. Dengan tuntutan itu pengajar meminta taraf berfikir yang lebih tinggi. Oleh sebab itu ia harus memperhitungkannya pada waktu memberikan penjelasan. Dapat dikatakan, bahwa sampai ukuran seberapa kerja pikir murid perlu didorong tergantung dari pengajar yang bersangkutan.

Tentang bahan pelajaran yang mempunyai taraf pemikiran yang rendah, misalnya tingkat pengetahuan pengajar tidak perlu begitu sibuk untuk menjalankan semua tahap proses belajar. Orientasi misalnya, bisa diberikan secara lisan maupun tertulis ; latihan dapat sangat sederhana, misalnya membaca ulang ; dan umpan balik cukup diberikan. Tetapi tentang bahan pelajaran yang mempunyai taraf pemikiran yang tinggi ( misalnya aplikasi atau mungkin evaluasi), setiap tahp proses belajar harus diberi jauh lebih banyak perhatian. Orientasi harus diberikan selengkap dan sejelas mungkin ; bentuk latihan sebaiknya menggunakan macam-macam variasi dan umpan balik pun harus diberikan secara lengkap supaya murid/mahasiswa benar-benar merasakan aspek-aspek mana yang belum mereka kuasai dan mana yang sudah.

Sebagaimana kita ketahui, kerja pikir paling lengkap adalah taraf berpikir yang kelima.gambar 9 akan memperjelashal tersebut. Pada gambar itu terlihat tidak ada batasjelas antara taraf yang satu dengan taraf lainnya. Selain itu terlihat pula bahwa semakin ke atas semakin besar persentase tuntutan kerja.

Berfikir

5 Berfikir Kreatif

4 Berfikir menganalisa dan membuat Sintesa



3 Berfikir Menerapkan



2 Berfikir dalam Konsep

1 Belajar Menerima

Belajar

Gambar 9. Dari belajar menuju kerja fikir dengan berbagai tarafnya.

Pada taraf belajar menerima (taraf pertama) hampir tidak ada kerja pikir. Sedangkan pada taraf kelima praktis seluruhnya adalah kerja pikir. Sebenarnya pada taraf-taraf itu ada semacam kesinambungan dari taraf belajar menuju taraf kerja pikir. Dengan ‘belajar’ dimaksudkan peniruan secara lengkap, sedangkan dengan ‘berpikir’ dimaksudkan kerja kreatif secara lengkap. Sebagaimana tertera pada gambar 9, di situ tidak ada peniruan sepenuhnya dan juga tidak ada kerja pikir kreatif sepenuhnya. Memang semakin tinggi tarafnya akan semakin banyak pula dituntut kerja pikir. Tetapi tidak pernah mungkin sepenuhnya kerja pikir saja. Selalu ada unsur mengingat dan menirukan.

Demikianlah uraian tentang macam-macam taraf berfikir yang perlu diketahui oleh para pengajar. Seperti telah ditunjukkan dalam contoh-contoh di muka, mudah-mudahan menjadi jelas bagi para pembaca, bahwa setiap tugas untuk murid dapat diberikan dalam beberapa taraf. Praktis pengajarlah yang menetukan, sampai pada taraf berpikir mana murid perlu dipaksa. Pengajar memberi dorongan dan murid melaksanakannya. Bilamana murid hanya menerima pengertian-pengertian saja, mereka tentu tidak dapat meningkat sampai taraf kedua ke atas. Mereka tidak akan dapat menjadi pemikir yang kreatif. Akibatnya, kalu mereka kelak bekerja, mereka hanya dapat melakukan tugas-tugas sederhana saja. Seorang sarjana perlu dan harus mampu berbuat lebih dari itu. Masyarakat menuntut kerja pikir yang tinggi dari seorang sarjana. Maka selama masih dalam pendidikan calon-calon sarjana perlu dilatih untuk itu. Memaksa dan mendorong murid untuk kerja pikir yang demikian merupakan tugas pengajar.

Sampailah sekarang kita pada pertanyaan, tuntutan apa yang kiranya boleh diajukan oleh pengajar kepada murid. Sebagaimana telah dikatakan pada permulaan bab ini, hal tersebut baru akan dibahas setelah masalah taraf berfikir selesai dibicarakan.

Sudah jelas kiranya bagi para pembaca, bahwa ditiap lembaga pendidikan tuntutan pengajar kepada para pendengarnya berbeda-beda. Tuntutan di tingkat sekolah dasar tentunya berbeda dengan tuntutan di tingkat sekolah menengah atas atau di tingkat perguruan tinggi. Tetapi tidak mungkin terjadi, bahwa murid sekolah dasar hanya melakukan taraf berfikir paling rendah sedangkan mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi hanya melakukan taraf berpikir paling tinggi. Gambar 9 telah menunjukkan hal tersebut. Tidak mungkin seorang hanya belajar menerima saja, apalagi berpikir kreatif saja. Masalahnya hanyalah bahwa yang satu lebih banyak dan yang lain lebih sedikit. Ini tidak dapat dinyatakan dalam angka-angka, tetapi dapat dinyatakan dengan suatu bentuk seperti terlihat pada gambar 10.





Pendidikan dasar Pendidikan menengah Pendidikan Tinggi
















































Taraf Berfikir 50% 100% 50% 100% 50% 100%

Waktu belajar Waktu belajar Waktu belajar

Gambar 10. Bagan yang menunjukkan taraf berpikir yang membagi waktu belajar pada tiap kategori pendidikan.

Pada gambar tersebut garis datar menunjukkan waktu yang diperlukan untuk belajar. Baik belajar di dalam kelas maupun belajar di luar kelas. Di dalamnya termasuk mengerjakan pekerjaan rumah, mempersiapkan ujian, karya wisata, kunjungan keperpustakaan, dan lain sebagainya. Sedangkan garis tegak menunjukkan pembagian kelima taraf berpikir. Selanjutnya ketiga gambar itu menunjukkan keadaan yang berbeda-beda menurut tiga macam kategori pendidikan. Keadaan di pendidikan dasar, di pendidikan menengah, dan di pendidikan tinggi. Dengan gambar tersebut hendak ditunjukkan, pada pendidikan dasar dalam perbandingan diperlukan banyak waktu untuk taraf berpikir paling rendah. Sedangkan untuk taraf yang tertinggi hanya diperlukan sedikit waktu. Perbandingan pada pendidikan menengah berbeda sedikit. Di situ dari seluruh waktu belajar banyak digunakan untuk berpikir kreatif bila dibandingkan dengan yang terjadi di pendidikan dasar. Tetapi di pendidikan tinggi hal yang terjadi adalah separuh dari seluruh waktu belajar di gunakan untuk kerja berpikir sendiri. Tentu saja gambar tadi tidak bersifat mutlak. Hanya di maksudkan untuk menunjukkan masalahnya saja. Perbandingan penggunaan waktu pada lima taraf berpikir itu tergantung dari macam pendidikan yang bersangkutan. Bilamana diperlukan banyak latihan keterampilan- misalkan saja pada pendidikan teknik di berbagai kategori pendidikan – maka di situ akan tersisa waktu sedikit saja untuk pemecahan masalah secara kreatif. Tetapi perbedaan itu hanyalah perbedaan dengan kadar yang kecil. Pada kenyataannya akan jelas bagi para pembaca, bahwa penggunaan waktu belajar itu berbeda-beda. Menyisakan waktu khusus untuk melaksanakan taraf berpikir paling tinggi merupakan suatu hal yang tidak mungkin dan tidak tepat. Sebagai contoh : Seorang mahasiswa tahun ketiga mencoba meneliti secara kimiawi zat air tertentu. Pekerjaan tersebut akan menuntut kerja pikir kreatif lebih banyak daripada pekerjaan meringkas sebuah buku. Jadi dari saat ke saat tarafnya akan berbeda-beda. Namun mahasiswa tersebut hanya membutuhkan sedikit waktu saja untuk taraf brpikir paling rendah.

Masalah selanjutnya adalah, taraf berpikir mana sebaiknya dituntut oleh pengajar. Ini memang tidak mudah dijawab, karena hal itu tergantung dari banyak faktor, antara lain :

1. Pelajaran yang diberikan. Ini menentukan taraf berpikir yang perlu dituntut dari murid. Bahan mata pelajaran yang satu lebih banyak berisi fakta-fakta daripada bahan mata pelajaran yang lain. Atau bahan mata peljaran yang stu lebih rumit daripada bahan mata pelajaran yang lain.

2. Jenis pendidikan yang diberikan. Suatu lembaga pendidikan untuk pekerjaan tertantu pasti memerlukan lebih banyak waktu untuk latihan keterampilan. Sebagaimana telah dikatakan di muka, di situ akan di lakukan banyak latihan.

3. Tujuan lembaga pendidikan yang bersangkutan. Hal tersebut mungkin kedengaran agak aneh. Tetapi lembaga pendidikan memang menentukan macam taraf berpikir yang akan diajarkan pada murid-muridnya. Fakultas ekonomi suatu perguruan tinggi yang mempunyai tujuan membuat golongan kaya menjadi lebih kaya, akan lebih menekankan keterampilan menggunakan teknik-teknik kalkulasi secara tepat dan berhasil guna. Dan mahasiswanya akan lebih di arahkan pada keterampilan tersebut. Berbeda halnya dengan fakultas ekonomi yang bertujuan membantu golongan miskin. Di situ mahasiswa akan dididik untuk dapat meningkatkan pendapatan golongan ekonomi lemah. Mahasiswanya akan memerlukan kerja pikir kreatif lebih banyak daripada mahasiswa fakultas ekonomi seperti disebut yang pertama.

4. Pihak pengajar yang bersangkutan. Sikap dan pendapat pengajar ikut menentukan pula. Apakah pengajar memandang bahwa murid perlu sering dilatih dengan kerja pikir kreatif atau tidak. Pengajar yang kurang mampu dalam hal kerja pikir kreatif, sudah barang tentu akan takut menuntut banyak dalam bidang itu. Hanya seorang pemikir kreatif sejatilah yang akan berhasil mendorong murid-muridnya untuk sering bekerja pada taraf berpikir paling tinggi.

Demikianlah tadi empat faktor yang ikut menentukan tuntutan pada murid dalam hal kerja pikir. Di situ ada satu hal yang perlu diperhatikan. Bahwasannya seseorang harus berada atau meletakkan dirinya sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Seorang pengajar dengan kemampuan kerja pikir kreatif kecil kiranya tidak tepat bila ia bekerja di suatu lembaga pendidikan, yang bertujuan utama mengembangkan kemampuan berpikir kreatif. Pengajar tersebut seyogyanya bekerja di lembaga pendidikan lain yang lebih sesuai. Namun di lain pihak lembaga pendidikan juga harus bersikap kritis. Dalam arti, setiap lembaga pendidikan hendaknya hanya menerima tenaga pengajar yang dapat bekerja sesuai dengan tujuan lembaga itu. Masalahnya bukanlah latar belakang pendidikan seseorang yang di pakai sebagai ketentuan suatu pengangkatan, tetapi kemampuan yang dimiliki oleh seseorang itulah yang harus sesuai dengan tuntutan dan tujuan lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Sampailah kita pada bagian akhir bab ini. Dalam bab ini telah diuraikan beberapa taraf berpikir yang ada. Pembagian dalam lima macam taraf berpikir memang agak sederhana, karena hanya dimaksudkan untuk menjelaskan jenis-jenis kerja pikir yang dapat diajarkan. Mudah-mudahan cukup jelas bagi para pembaca, bahwa pihak pengajarlah yang menentukan macam taraf berpikir mana perlu dicapai oleh murid. Dan pengajar pulalah yang menentukan jenis latihannya. Namun pengajar tidak dapat menentukan semua itu seorang diri. Sebagaimana telah dikatakan di muka, ada empat buah faktor ikut menentukan. Selain dari itu dalam bab ini telah diuraikan secara garis besar macam-macam taraf berpikir yang dugunakan di berbagai kategori pendidikan. Penggunaan taraf berpikir itu memang agak terikat pada usia seseorang. Tetapi hal tersebut toh tidak dapat dikatakan secara mutlak, karena murid kelas satu sekolah dasar, dalam batas-batas tertentu, sudah mungkin melakukan kerja pikir kreatif. Hanya pengajar perlu tahu, dalam batas-batas mana ia dapat mendorong anak didiknya. Mudah-mudahan segala uraian dan bagan-bagan yang disajikan dalam bab ini cukup menjelaskan masalahnya kepada para pembaca.

Bab selanjutnya akan membahas cara menyusun rangkaian pelajaran. Satu rangkaian pelajaran atau kursus baru dapat merupakan suatu kesatuan, bilamana disusun dengan tujuan-tujuan yang merupakan kesatuan yang serasi, dan dapat melatih murid dengan taraf berpikir yang tepat. Maka dari itu bagian kedua buku ini diawali dengan bab-bab tentang tujuan dan tentang macam-macam taraf berpikir.








Ulasan


Dari uraian di atas, Kami dari kelompok 6 akan mencoba sedikit memberikan komentar mengenai inti dari bacaan di atas, baik dari segi kekurangan maupun kelebihannya. Dan kami tidak akan lepas tangan maksudnya setelah kami sedikit memberikan kritikan terhadap tulisan di atas agar kritikan kami ini tidak terkesan asal-asalan maka kami pun akan memberikan solusi yang tentunya solusi yang bersifat konstruktif.

Kelebihan :

Bacaan di atas sangat informatif, dengan memberikan penjelasan yang mendetail mengenai tujuan pengajaran yang harus diketahui dan disiapkan oleh para pengajar. Sehingga bisa dipake referensi oleh para pengajar dan sekaligus dijadikan bekal oleh mereka ketika pembelajaran berlangsung.

penjelasannya selalu disertai dengan contoh-contoh, sehingga sedikit mudah untuk dipahami.

Adapun kekurangannya adalah sebagai berikut:

Menurut pandangan kami penulis terlalu bertele-bertele dalam menyampaikan gagasannya padahal intinya sebagaimana yang kami tangkap cuma satu yaitu “setiap pengajar perlu menetapkan terlebih dahulu tujuannya, jika tidak, maka ia tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi”.Mungkin ini disebabkan karena ambisius penulis sendiri, yaitu penulis ingin gagasannya itu dapat betul-betul dipahami, sehingga beliau menyertakan contoh-contoh yang banyak dan berbeda-berbeda tapi pada dasarnya sama.

Pada bacaan di atas penulis menyebutkan satu poin yang tidak ada penjabaran atau penjelasannya seperti penulis menyebutkan “Memang ada sejumlah syarat yang harus terpenuhi agar suatu tujuan dapat tercapai. Syarat-syarat tersebut berupa ketentuan-ketentuan atau kriteria”.Tapi di bagian selanjutnya penulis tidak menjelaskan syarat-syarat atau kriteria-kriteria tersebut.

Yang menjadi salah satu kekurangan pada bacaan di atas adalah penulis tidak menyertakan teori-teori para ahli lainnya yang bisa memperkuat tulisannya itu.

Solusinya :

Inti dari tulisan di atas adalah mengenai tujuan pengajaran sehingga untuk menyampaikan gagasannya tersebut penulis cukup memberikan penjelasan apa yang dimaksud dengan tujuan pengajaran disertai dengan sedikit contoh sehingga memudahkan dalam pemahaman. Lalu selanjutnya penulis menjelaskan masalah yang akan terjagi jika para pengajar tidak memperhatikan tujuan pengajaran.



0 comments:

Mengenai Saya

Foto Saya

Jangan pernah sakiti perasaan wanita karena wanita adalah mahluk yang lembut hati dan perasaannya.

Hanya ada 4 Link tiap bulan, Rp 200.000/bulan. Rp.300 ribu + review permanen. Contact Person 082119637817

* lihat Jual Sepatu Online
Jasa Pembuatan Toko Online Murah
 
Copyright © 2013. Diary Apipah - All Rights Reserved