Tujuan Pengajaran Dalam Pendidikan

(92 Views) | Apipah

Banyak buku tentang masalah pendidikan mengulas macam-macam tujuan pengajaran. Dijelaskan pula di situ kegunaan serta perinciannya. Kenyataan tersebut menyebabkan banyak orang dikalangan pendidik yang mulai menyadari kegunaan tujuan dalam kegiatan mengajar. Tetapi sangat disayangkan, bahwa walaupun begitu toh masih ada cukup banyak pengajar yang tidak pernah memikirkan tujuan dalam kegiatan mengajarnya. Cara kerja semacam itu boleh disamakan dengan seseorang yang berangkat dari Jakarta, tetapi belum tahu mau ke mana. Sudah barang tentu perjalanan seperti itu akan merupakan perjalanan yang ganjil sekali.

Bab ini akan membahas berbagai macam tujuan. Dan pembicaraan akan selalu menilik pada praktek mengajar. Dengan kata lain uraian bab ini tidak akan terlalu bersifat teoritis, walaupun bertolak dari hasil penelitian para ahli teori di bidang pendidikan. Karena tulisan ini dimaksudkan agar secara langsung dapat berguna untuk siapa saja, yang akan bekerja atau telah bekerja di bidang pengajaran.

Kalau seseorang hendak mempersiapkan suatu pelajaran atau suatu rangkaian pengajaran, ia harus memperhatikan beberapa faktor tertentu. Sebelum ia mengawali pekerjaan yang sebenarnya, terlebih dahulu ia harus memikirkan tiga pertanyaan penting. Jawaban dari ketiga pertanyaan itu akan menentukan isi pelajaran yang akan ia berikan dan jenis cara kerja yang akan ia pilih. Tiga buah pertanyaan tersebut adalah :

1. Bahan pelajaran apa yang akan diberikan untuk kelompok murid ini atau itu ?
2. Apa yang diinginkan oleh pengajar dari kelompok murid tersebut ? Apa yang harus dikerjakan oleh murid ?
3. Sejauh mana para murid perlu mengetahui bahan pelajaran tersebut ?

Dalam menentukan bahan yang akan diajarkan, pengajar tidak dapat berbuat dengan cara begitu saja atau menurut kehendak hatinya sendiri saja. Ia perlu memikirkan, bahwa bahan yang akan ia ajarkan itu harus berhubungan dengan kelanjutannya yang akan diajarkan di kemudian waktu. Bilamana pengajar memperoleh tugas memberi kursus pengantar ilmu ekonomi perusahaan pada kelompok mahasiswa tingkat pertama fakultas ekonomi, maka isi kursus itu harus ada hubungannya dengan kelanjutan kursus ilmu ekonomi perusahaan yang akan diajarkan di fakultas tersebut. Dengan kata lain kelanjutan kursus ilmu ekonomi perusahaan menentukan isi kursus pengantar ilmu ekonomi perusahaan itu. Selanjutnya pengajar perlu memikirkan bahan yang harus diketahui oleh murid, serta dengan urutan bagaimana bahan yang akan ia ajarkan harus disusun. Dia harus memperhitungkan, apakah bahan yang akan ia berikan itu terlalu sederhana atau terlalu sulit bagi murid. Apakah bahan pengajaran tersebut akan dapat selesai dibicarakan dalam waktu yang tersedia.

Pertanyaan yang tidak kalah pentingnya adalah, apa yang perlu dilakukan oleh murid. Apa yang diinginkan oleh pengajar dari muridnya. Mereka cukup mendengarkan saja atau perlu juga mempelajari buku-buku tertentu yang ditunjuk oleh pengajar. Mereka wajib mengikuti pelajaran atau cukup belajar di rumah saja. Apakah mereka harus menempuh tentamen atau sama sekali tidak perlu. Pengajar perlu mempelajari semua hal itu, sebelum ia mulai mengerjakan persiapan pelajaran.

Jawaban atas pertanyaan ketiga, yaitu sejauh mana murid perlu mengetahui bahan pelajaran, akan banyak membantu pengajar dalam memilih cara mengajar yang akan ia pakai. Sebagai contoh : seorang pengajar menganggap perlu murid-muridnya sedikit tahu tentang teknik pengujian dalam masalah statistik. Untuk itu ia dapat merangkaikan beberapa jam pelajaran guna menjelaskan berbagai macam teknik pengujian. Dalam hal seperti itu murid cukup mendengarkan uraian saja. Tetapi bilamana pengajar mempunyai tuntutan agar murid-muridnya mampu menerangkan serta menerapkan teknik-teknik tersebut, maka pelajar perlu memberi kesempatan berlatih kepada mereka. Dengan hal yang terakhir itu norma pengajaran lebih tinggi. Dan ini menentukan cara mengajar yang hendak ia gunakan. Hanya mendengarkan pelajaran saja sudah barang tentu belum mencukupi.

Itulah tadi tiga pertanyaan yang harus dipikirkan oleh pengajar. Dengan kata singkat, pengajar terlebih dahulu harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, sebelum ia mulai menyusun pengajaran atau rangkaian pengajaran. Karena jawaban dari tiga pertanyaan itu akan memberi garis arah serta tujuan pada pengajaran.

Mengapa memikirkan tujuan pengajaran merupakan hal yang sangat penting ? Karena tujuan itu justru akan membantu pengajar dalam mencari bahan yang akan diajarkan, serta akan membulatkan susunan pengajaran. Sedangkan bahan pengajaran merupakan bahan baku yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Seperti halnya palu, paku, gergaji, dan kayu merupakan bahan baku yang dibutuhkan oleh tukang kayu untuk membuat peti. Tetapi disamping itu memang masih ada banyak alasan lain, mengapa tujuan pengajaran perlu ditetapkan terlebih dahulu.

Tujuan yang dirumuskan secara jelas memungkinkan pengajar membuat ujian ataupun tentamen secara mudah pula. Bila sebelumnya telah ditentukan apa saja yang perlu diketahui oleh murid, maka selanjutnya dapat ditentukan pula apa saja yang dapat ditanyakan kepada mereka. Misalkan saja, pengajar menginginkan agar murid mengetahui semua sungai yang ada di Pulau Jawa. Maka itulah yang menjadi tujuan dari pengajaran yang akan ia berikan.

Selanjutnya berdasarkan tujuan tersebut ia dapat menyusun ulangan atau ujiannya. Jelasnya, dalam tujuan itu telah dipastikan secara tepat, apa yang harus diketahui oleh murid. Di lain pihak, murid-murid perlu tahu juga tujuan yang diinginkan oleh pengajar. Dengan begitu murid dapat mengetahui, apa yang akan dituntut dari mereka, serta apa yang akan mereka hadapi selama pelajaran. Kemudian mereka pun akan dapat membuat pembagian kerja untuk mereka sendiri. Selama mengikuti pelajaran mereka dapat mengetahui rencana pengajar. Sewaktu harus mempersiapka diri untuk menempuh tentamen, mereka tahu apa yang perlu dipelajari. Maka dari itu cukup menguntungkan kiranya kalau pengajar menjelaskan tujuan pelajarannya kepada murid.

Apa yang dimaksud dengan tujuan ? Tujuan adalah suatu rumusan yang menunjukkan dan menjelaskan hal yang ingin dicapai. Dalam bab ini kita akan membahas tujuan pengajaran. Tujuan tersebut menunjukkan atau menjelaskan perubahan apa yang harus terjadi, sebagai akibat dari pengajaran yang dialami oleh murid. Antara lain perubahan dalam pola berfikir, dalam perasaan, serta dalam tingkah laku murid. Pengajar harus dapat membuat perubahan itu terjadi, dan inilah yang disebut mengajar.

Untuk itu ia perlu memikirkan bahan pengajaran yang dibutuhkan untuk merangsang terjadinya perubahan-perubahan tersebut, serta cara menangani bahan yang dimaksud. Sebagai contoh : Di fakultas kedokteran gigi mahasiswa harus belajar cara mencabut gigi. Pengajar yang bersangkutan harus mengajar dan melatih mahasiswa dalam hal cara mencabut gigi. Di sini terjadi perubahan dalam hal tindakan. Kemudian pengajar harus mencari cara yang akan digunakan untuk mengajar masalah pencabutan gigi. Ia harus meneliti jenis latihan yang dapat diajarkan serta alat-alat yang perlu dipakai. Pendeknya, sebelum kursus dimulai pengajar harus memikirkan secara cermat beberapa hal ini : bahan apa yang akan diajarkan, cara apa akan ia gunakan untuk menyampaikan bahan pengajaran, serta alat-alat apa saja yang perlu ia gunakan.

Semua itu harus terangkum dalam tujuan. Karena tujuan merupakan garis arah yang perlu diperhatikan dalam penyusunan rangkaian pengajaran atau kursus, dalam perencanaan praktikum, dan dalam pemilihan cara pelaksanaan. Pengajar hendaknya menjelaskan tujuan pengajaran pada jam pelajaran yang pertama, sehingga murid-murid mengetahui apa yang akan dan harus mereka hadapi selama kursus itu. Misalkan saja pengajar menyatakan demikian, “ Setelah tiga jam pengajaran teori dan tiga jam praktikum terlaksana, kalian harus mampu mengerjakan sendiri praktek mencabut gigi “.

Jelaslah bahwa dalam hal ajar-mengajar kita perlu menentukan tujuannya. Lalu tujuan macam apa saja yang ada dalam bidang pengajaran? Di waktu lampau telah pernah ada usaha untuk merumuskan beberapa macam tujuan di bidang pengajaran. Namun kebanyakan usaha tersebut mengalami kegagalan. Kiranya ini bisa dimaklumi, mengingat waktu itu orang belum mengetahui benar-benar jenis tujuan yang cocok untuk kegiatan mengajar. Merumuskan jenis-jenis tujuan yang sungguh-sungguh tepat memang bukan pekerjaan mudah. Lagi pula pekerjaan tersebut membutuhkan cukup banyak waktu. Suatu contoh : Seorang pengajar akan memberikan kursus tentang teknik penelitian. Kelompok yang akan ia hadapi adalah mahasiswa tahun kedua di fakultas ekonomi. Pengajar mempunyai tujuan akan membahas sebuah buku X dalam waktu lima belas minggu. Ia menjelaskan tujuannya itu kepada para mahasiswa, dan kuesus dapat dimulai. Dua puluh minggu kemudian diadakan tentamen.

Selanjutnya hasil tentamen tersebut menunjukkan, bahwa hanya dua persen saja dari jumlah seluruh mahasiswa pengikut kursus mampu mencapai nilai cukup. Di mana letak terjadinya ketidakberesan ? Ternyata tujuan yang ditetapkan oleh pengajar tidak tepat. Ia tidak berhasil mencapai tujuannya. Dengan demikian dapat dikatakan, tujuan yang telah ia tetapkan itu kurang memberi arah kepada kursusnya. Tujuannya kurang nyata. Ia tidak melihat secara tepat, apa yang harus ia lakukan agar tujuannya itu dapat tercapai. Kiranya hal yang disebutkan terakhir itulah merupakan syarat yang perlu diperhatikan. Memang ada sejumlah syarat yang harus terpenuhi agar suatu tujuan dapat tercapai. Syarat-syarat tersebut berupa ketentuan-ketentuan atau kriteria. Bila ketentuan-ketentuan itu kita susun secara berurutan, kita akan dapat melihat rupa tujuan yang dimaksud. Dan bentuk tujuan itu baru menjadi jelas kalau kita mengetahui fungsinya. Kadang-kadang suatu tujuan umum sudah cukup memenuhi kebutuhan. Tetapi kadang-kadang pula tujuan seperti itu masih perlu dikhususkan lagi. Dalam contoh tadi kelihatan bahwa tujuannya masih bersifat terlalu umum. Bentuk suatu tujuan tergantung dari situasi yang akan dihadapi. Seperti halnya dengan Pancasila yang mengandung lima macam tujuan. Lima macam tujuan itu besifat umum. Tetapi hal tersebut dianggap cukup, karena hanya dimaksudkan sebagai suatu titik tolak atau suatu dasar umumsaja.

Dari uraian di atas sudah jelas adanya tujuan umum dan tujuan khusus. Di sini akan kami berikan lima buah contoh yang menjelaskan bagaimana tujuan (dalam bidang pendidikan) bergerak dari umum ke khusus. Setiap tingkat tujuan dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dihadapi.

Sebuah universitas merumuskan tujuannya seperti berikut : “ Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat “. Itu adalah tujuan umum yang menyatakan bahwa universitas tersebut hendak melakukan usaha-usaha membantu negara. Kalau seseorang ingin tahu apa sebetulnya yang dilakukan oleh universitas tersebut, maka akan terlihat bahwa tujuan tadi belum sangat jelas, karena pengabdian kepada masyarakat itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Antara lain dengan membangun jalan, menyelenggarakan makanan sehat, menulis buku-buku untuk keperluan sekolah, dan lain-lainnya. Oleh sebab itu perlu dirumuskan tujun yang tidak bersifat umum, agar orang tahu apa yang dilakukan oleh universitas tersebut.

Universtas X ingin mengabdi masyarakat dengan menyelenggarakan pengajaran universiter. Untuk itu disediakan enam macam fakultas seperti berikut : Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Kimia, dan Fakultas Ilmu Alam. Pada rumusan tersebut terungakap jelas cara yang akan ditempuh oleh universitas itu guna mengabdi masyarakat. Meskipun begitu orang masih belum tahu jelas, bagaimana universitas itu akan melakukan semuanya. Masih ada sejumlah kemungkinan untuk memenuhi tujuan seperti tersebut diatas, dan masih ada sesuatu hal yang belum jelas. Yaitu bagaimana masyarakat dapat merasakan usaha pengabdian universitas tersebut.

Halnya akan menjadi semakin jelas bilamana tujuan universitas itu diperinci sebagai berikut :

“ Universitas X ingin mengabdikan dirinya demi kepentingan masyarakat dengan cara-cara seperti berikut : setiap tahun Universitas akan menampung seribu orang mahasiswa. Mereka akan ditempatkan di enam fakultas. Mereka akan dididik selama empat tahun untuk menjadi sarjana di bidang-bidang ekonomi, hukum, kedokteran, ilmu kimia, teknik, dan ilmu alam”.

Rumusan di atas nampak lebih jelas. Siapa pun yang ingin mempelajari ilmu ekonomi dan membaca rumusan tujuan Universitas X, segera tahu bahwa universitas tersebut memberi kesempatan baginya untuk mencapai keinginannya. Akan tetapi bagi seseorang yang hendak mengajar ilmu ekonomi masalahnya belum cukup jelas. Baginya rumusan tadi masih belum cukup terang. Apakah bidang keahliannya dibutuhkan dan diajarkan di fakultas ekonomi Universitas X atau tidak. Ia perlu menghubungi fakultas ekonomi yang bersangkutan untuk memperoleh penjelasan. Karena hal yang ia pikirkan itu bukan urusan langsung seluruh Universitas X, tetapi urusan khusus fakultas ekonomi saja.

Tujuan fakultas ekonomi Universitas X, misalnya saja, dirumuskan seperti berikut : “ Dalam waktu empat tahun fakultas ekonomi ingin memberikan pendidikan pada jurusan-jurusan ekonomi perusahaan, ekonomi umum, dan akuntansi”. Dengan membaca rumusan tersebut seorang pengajar yang mempunyai keahlian di bidang akuntansi akan tahu, bahwa bidang keahliannya dibutuhkan dan diajarkan pada fakultas tersebut. Di umpamakan saja pengajar bidang akuntansi itu diterima dan diangkat sebagai pengajar pada Universitas X. Apakah ia akan segera tahu hal yang harus ia lakukan? Tidak, ia belum tahu apa-apa. Rumusan tujuan fakultas ekonomi itu masih terlalu luas. Masih dibutuhkan suatu tujuan yang lebih khusus lagi.

“ Pada fakultas ekonomi, seorang mahasiswa yang memilih kekhususan studi di jurusan akuntansi harus mengikuti kuliah tata buku selama empat semester. Selanjutnya ia harus menempuh empat buah tentamen”.

Rumusan tersebut akan memberi keterangan pada pengajar tata buku, tentang hal yang harus ia lakukan. Ia dapat mulai menyusun mata kuliah yang bersangkutan. Ia tahu jumlah waktu yang disediakan untuk mata kuliahnya serta berapa kali ia harus memberi tentamen. Tetapi ia belum tahu berapa bagian kursus yang akan ia ajarkan itu harus diperinci, serta sampai dimana tingkat kesulitan kursusnya itu masih mungkin. Oleh sebab itu tujuan tadi perlu lebih diperinci lagi. Pengajar itu baru dapat bekerja secara nyata, kalau rumusan tujuan dapat menjelaskan kepadanya tentang hal yang harus ia lakukan.

Dari kelima contoh tersebut dapat diketahui, bahwa contoh terakhir sudah merupakan sebuah tujuan khusus. Tapi bagi seorang pengajar yang harus mengisi jam kuliah, tujuan tersebut belum cukup operasional dan masih harus diperinci lebih lanjut. Pada tujuan yang operasional orang dapat melihat secara tepat, apa yang dapat dikerjakan oleh pengajar dan apa yang harus diketahui, dimengerti serta dilakukan oleh mahasiswa.

Kapan suatu tujuan dapat disebut sebagai tujuan yang operasional ?

Suatu tujuan dapat disebut operasional bilamana memenuhi empat syarat seperti berikut :

1. Menyatakan kelakuan apa yang harus ditunjukkan oleh murid, setelah suatu kursus selesai diberikan
2. Menunjukkan terhadap bahan pelajaran apa murid harus berkelakuan seperti disebut pada syarat nomor satu
3. Menunjukkan kapan hal itu harus tercapai
4. Menunjukkan dengan sarana apa hal itu dapat

Selanjutnya akan di bicarakan beberapa keuntungan dari sasaran belajar:

a. Sasaran belajar merupakan garis petunjuk untuk menyusun satu jam pelajaran atau lebih.
b. Sasaran belajar memberi petunjuk secara pasti, apa yang harus dilakukan oleh pengajar, karena disitu dibahas mengenai kelakuan apa yang harus ditunjukan oleh murid setelah pelajaran selesai.
c. Sasaran belajar memungkinkan pengajar mengetahui apakah ia telah menunaikan tugasnya apa belum.
d. Sasaran belajar memberi petunjuk kepada murid apa yang akan mereka hadapi.
e. Sasaran belajar memungkinkan murid untuk kemudian mengetahui sejauh mana mereka memahami materi yang mereka pelajari.

Seorang pengajar yang bekerja dengan sasaran belajar, akan mengalami sedikit keragu-raguan dalam mengajar. Ia tahu apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa karena telah menetapkan secara konkrit apa yang harus dicapai oleh mereka dan mencari jalan keluar untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain, dosen menentukan apa yang dibahas supaya dalam latihan mereka dapat menentukan sejauh mana kemampuan mereka melakukan hal-hal yang ditentukan dalam Sasaran belajar.

Seorang pengajar yang bekerja tanpa Sasaran belajar, dapat disamakan dengan seseorang yang hendak pergi tanpa tahu hendak kemana. Ini berarti ia juga belum bisa membayangkan berapa waktu yang diperlukan dan jalan mana yang akan ditempuh. Pengajar yang melakukan demikian, belum mengetahui bagaimana suatu proses belajar dijalankan, Karena tujuan belum ada. Tetapi pengajar yang menggunakan Sasaran belajar, berarti ia memulai suatu perjalanan dengan baik. Disamping itu, ia juga tahu hasil yang ia inginkan. Kalau hasil yang dapat dicapai ternyata tidak memenuhi harapan, ia dapat meneliti mengapa demikian dan tidak mengulanginya lagi. Keuntungan lain dari adanya Sasaran belajar yakni memudahkan dalam penilaian terhadap pengajaran yang telah disampaikan.

Demikian uraian dari bab 6, dan sekarang kita tiba pada akhirnya. Bab ini mempunyai arti tersendiri, karena dimaksudkan sebagai pendahuluan kedua Bab terakhir dalam bagian ini. Disitu penulis telah mencoba menjelaskan bahwa setiap pengajar perlu menetapkan terlebih dahulu tujuannya, jika tidak, maka ia tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi.

Seperti telah di uraikan di muka, ternyata hanya Sasaran belajar sajalah yang cocok dan berguna untuk tugas seorang pengajar. Tujuan seperti itu memeberi arah pada pekerjaan yang harus dilakukukan serta menunjukkan jalan yang harus ditempuh. Dengan Sasaran belajar di satu pihak pengajar memperoleh manfaat dan di lain pihak para murid dapat mengetahui apa yang akan mereka hadapi. Sudah jelas pula dari uraian di atas, pengajar perlu menjelaskan Sasaran belajarnya kepada murid. Kalau pengajar tidak melakukanya, murid tentu tidak akan dapat mengetahuiapa yang harus mereka lakukan serta apa yang harus mereka harapkan dari pengajar. Pengajar pun tidak tahu secara tepat, proses belajar mana yang perlu digalakkan serta sampai taraf mana pengetahuan murid harus dikembangkan.

Untuk menyusun Sasaran belajarsatu pengajaran atau lebih,pengajar perlu memperhatikan beberapa ketentuan, antara lainyaitu apa yang dapat dituntutdari murid, serta sebaik dan secepat apa murid-murid dapat mengerti dan mengenal bahan pengajaran. Untuk lebih menunjukkan betapa pentingnya Sasaran belajar bagi pekerjaan dan tugas pengajar, pada akhir Bab ini akan disebutkan kembali hal-hal penting yang berhubungan dengan Sasaran belajar.

Apa syarat-syarat khusus untuk Sasaran Belajar?
Suatu sarana belajar harus memenuhi 4 syarat sebagai berikut:

1. Tujuan tersebut menjelaskan kelakuan apa yang harus dapat dilakukan oleh murid setelah pelajaran atau kuliah diberikan.

2. Tujuan tersebut harus menunjukkan tarhadap bahan pelajaran atau bahan kuliah apa murid harus melaksanakan kelakuan yang dimaksud.

3. Tujuan tersebut harus menunjukkan kapan hasil pelajaran itu harus dapat tercapai.
4. Tujuan tersebut harus menunjukkan sarana apa yang harus digunakan untuk mencapai hasil.

Mengapa Sarana Belajar itu amat penting?

1. Membantu pengajar untuk:
· Menyusun jalan ke luar untuk menjalankan proses belajar.
· Menyusun tugas-tugas latihan sebagai aktivitas yang akan diberi kepada murid atau mahasiswa.
2. Menjelaskan kepada murid, apa yang harus mereka lakukan,
3. Memudahkan pengajar menyusun pernyataan atau soal ujian/tentamen.
4. Menunjukkan hasil yang akhirnya dapat dicapai oleh pengajar maupun murid.

BEBERAPA MACAM TARAF BERFIKIR

Sebagaimana telah penulis katakan dalam bab terdahulu, seorang pengajar perlu memperhatikan beberapa ketentuan bila ia hendak menetapkan tujuan pelajaran atau tujuan kuliah. Ia harus mempelajari sejauh mana ia boleh menuntut sesuatu dari murid-muridnya, serta seberapa besar kemampuan yang ada dalam diri murid. Di situ pengajar memikirkan dua macam ketentuan seperti berikut:

1. Tingkat kesulitan

Hal ini berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam arti umum. Untuk memperjelas masalahnya, sebagai contoh murid berusia 17 tahun dapat dituntut untuk melempar bola kecil sejauh 60 meter. Tetapi murid berumur 8 tahun sudah dapat dipastikan tidak dapat melakukan itu. Untuk semua tujuan yang pengajar tetapkan perlu memperhitungkan kemampuan murid sesuai dengan usia mereka.

2. Tingkat kemampuan berfikir.

Ketentuan kedua yang tidak kurang pentingnya untuk diperhitungkan oleh pengajar adalah tingkat kamampuan berfikir murid. Seorang mahasiswa sering kali dipaksa untuk memecahkan sendiri masalah atau tantangan tertentu. Tetapi seorang murid berumur 9 tahun tentunya belum dapat secara terus-menerusmelakukan hal yang serupa. Dengan kata lain, pengajar perlu memperhatikan tingkatkemampuan berfikir murid sesuai dengan hasil proses belajar yang pernah mereka alami.

Selanjutnya akan diuraikan tuntutan apa saja yang boleh diajukan terhadap murid. Proses belajar tidak seluruhnya sulit. Proses yang satu memerlukan banyak kerja pikir, sedangkan proses yang lain hanya membutuhkan sedikit saja. Untuk membantu pengajar agar dapat menentukan tuntutan secara tepat. Bab ini akan menyajikan uraian tentang beberapa macam taraf berfikir yang ada. Ssedangkan hal yang disebut sebagai ketentuan nomor satu yaitu, tingkat kesulitan, tidak akan dibahas dalam Bab ini.

Tuntutan pengajar sering kali tidak memenuhi terhadap permintaan murid. Bukan dalam hal jumlah pekerjaan yang dibebankan pada mereka, melainkan dalam tingkat kesulitan dalam pekerjaan itu. Pengajar perlu meneliti diri sendiri, apakah ia menugaskan murid-muridnya untuk melakukan kerja pikir secara cukup atau hanya menugaskan mereka untuk belajar begitu saja. Berikut ini akan kita bahas dahulu tentang taraf-taraf berfikir. Kemudian akan dijelaskan tuntutan apa yang dapat dikenakan oleh pengajar terhadap murid.

Seorang pengajar memberikan serangkaian kuliah atau kursus di perguruan tinggi. Disitu ia menguraikan banyak hal yang harus di ingat oleh mahasiswanya. Akhirnya, setelah kuliah selesai diberikan, pengajar dapat mengadakan tentamen. Ia mengajukan sejumlah pertanyaan untuk menjajaki sejauh mana mahasiswa dapat mengingat bahan yang pernah di ajarkan. Mahasiswa yang dapat memproduksi atau mengungkapkan kembali apa yang pernah ia dengar, akan memperoleh nilai tinggi. Dapat di pastikan beberapa orang bisa memperoleh nilai tinggi. Hanya mereka yang tidak membuat catatan atau yang tidak mempelajari catatan mereka sebelum tentamen akan memperoleh angka kurang baik.

Bila hasil tentamen baik tentu pengajar akan dengan bangga menceritakan kepada rekan-rekannya, bahwa tugasnya telah berjalan secara memuaskan. Namun pengajar tersebut melupakan suatu hal. Ia telah mengajar mahasiswa dengan cara seperti mengajar murid-murid sekolah dasar, karena ia hanya menuntut mahasiswanya agar mengingat hal yang telah ia uraikan saja. Padahal tuntutan terhadap mahasiswa harus dengan norma yang lebih tinggi. Seorang pengajar di perguruan tinggi harus dapat mendorong mahasiswanya agar mereka melakukan suatu bentuk belajaryang lebih tinggi serta cara berfikir yang lebih sesuai. Selama masa pendidikan mahasiswa harus dibimbing dan di latih sedemikian rupa, sehingga akhirnya mereka memiliki kemampuan untuk memecahkan sendiri masalah-masalah yang mereka hadapi.

Baiklah kita tinjau secara teoritis tentang apa artinya “pengetahuan”. Ada pengetahuan yang bersifat pengetahuan factual (factual knowledge) dan pengetahuan mengenai tahap-tahap perilaku seseorang (procedural knowledge). Seorang pengajar yang hanya mengajar tentang fakta (nama ibu kota, tahun perang dunia kedua mulai, apa bahan bakar untuk mesin diesel dan sebagainya) tidak menolong muridnya untuk mencapai suatu proses belajar. Dalam suatu proses belajar kualitas srtuktur prilaku harus di ubah. Ini berarti perluasan terhadap factual knowledge disamping harus mengadakan reorganisasi terhadap procedural knowledge.

Karena proses belajar baru akan berhasil setelah procedural knowledge disusun kembali. Mahasiswa harus belajar menggunakan berbagai taraf berfikir, pengajar perlu mempertimbangkan hal tersebut. Hanya reproduksi atau pengungkapan kembalisaja tidak cukup. Setiap saat dosen harus selalu ingat, bahwa ia mengajar mahasiswa yang hendak belajar berfikir sendiri. Seseorang yang hendak menyelesaikan studinya diperguruan tinggi belum tentu tahu semua hal. Hal itu jelas tidak mungkin dan bukan merupakan suatu keharusan. Tetapiia harus memiliki kemampuan berfikir secara tepat dan berdaya guna untuk memecahkan masalah.kalau ia tidak memiliki kemampuan itu, maka ia pun tidak akan dapat memecahkan setiap masalah secara tepat. Akibatnya ia tidak dapat bekerja dengan hasil yang berguna.

Setiap pemecaahan masalah memerlukan taraf berfikir paling tinggi dan sukar. Untuk mengetahui latihan dan macam tugas yang dapat mendorong mahasiswa berfikir sampai taraf tertentu, pengajar perlu mengetahui macam taraf berfikir yang ada. Taraf-taraf berfikir itu merupakan hasil penemuan dan penelitian yang dilakukan oleh para psikologi dalam masalah belajar. Mereka pun telah menyusun klasifikasinya, yang mereka sebut ”taxonomi”.

Dipublikasikan dan ditulis oleh Apipah
Tentang Apipah

Hanya seoarang pengembara dunia hati yang sedang mencari bagian-bagian kemewahan dunia.

Categorised in: